
Deka kembali ke pabrik untuk menemui Victor dan menceritakan informasi yang dia dapatkan dari Amir kepada bos-nya itu. Victor benar-benar murka mendengarnya.
"Brengsek!" Victor menggebrak meja dengan kuat, "berani sekali dia merebut pelanggan ku!"
Deka dan Bima hanya bergeming.
"Aku tidak boleh diam saja, aku harus memberinya pelajaran!" geram Victor.
Dia lantas memandang Deka yang masih berdiri di hadapannya, "Besok malam pergilah ke dermaga gelap itu dan habisi dia! Seperti biasa, jangan meninggalkan jejak apa pun dan pastikan dia mati!"
Deka mengangguk patuh, "Baik, Tuan."
Victor lalu beralih menatap Bima yang sedari tadi diam menyimak pembicaraan mereka, "Kau cari tahu siapa itu Julio Winata dan bagaimana bisa dia menjual narkoba di bawah harga kita?"
Wajah Bima terlihat tegang, "Iya, Tuan."
"Kalau begitu kalian boleh pulang," ujar Victor yang beranjak lalu berjalan keluar dari ruangannya.
Tinggallah Deka dan Bima di dalam ruangan itu, dengan wajah datar namun sinis Deka melirik Bima yang juga tengah menatapnya, tanpa bicara sepatah kata pun, dia berlalu pergi begitu saja.
"Kau akan menerima akibatnya," gumam Bima sembari menyeringai licik.
Deka berjalan cepat menuju mobil, namun tiba-tiba ponselnya berdering. Deka mengeluarkan benda pipih itu dari dalam saku lalu menjawab telepon yang ternyata dari Clarissa itu.
"Halo, Sa," sapa Deka sembari berjalan.
"Deka, kau di mana? Tidak lupakan dengan janji makan malamnya?"
"Iya, ini baru keluar dari pabrik dan mau pulang," jawab Deka.
"Buat apa pulang? Langsung ke rumah aku saja."
"Aku mau mandi dan ganti baju, Sa."
"Mandi di rumah aku saja."
"Aku tidak enak dengan Papa kamu."
"Tidak apa-apa! Kau ini bukan orang lain! Papaku pasti tidak masalah, kau kan juga sudah seperti anaknya sendiri."
"Aku mandi di rumah saja," tolak Deka.
"Ya sudah, deh! Tapi jangan lama, ya! Dan jangan lupa pakai baju yang kemarin aku belikan."
__ADS_1
"Iya."
"Bye, Deka."
Deka menghela napas setelah Clarissa menutup teleponnya. Sejak dulu dia selalu berusaha menuruti keinginan Clarissa sebab dia menyayangi Clarissa seperti saudara sendiri, meski terkadang dia sering kesal dengan sikap manja dan kekanak-kanakan wanita itu.
***
Deka tiba di rumah, Starla yang sedang berbaring di sofa sembari fokus menatap layar ponsel menyambut kepulangannya dengan acuh tak acuh. Tidak seperti biasanya, wanita itu akan menyapa Deka dengan riang gembira.
"Eh, Abang sudah pulang?" tegur Starla tanpa memandang ke arah Deka.
"Hem." Deka hanya berdeham.
"Mau aku buatkan sesuatu?"
"Tidak usah!" sahut Deka kemudian melangkah pergi, entah mengapa dia sedikit kesal dengan sikap cuek Starla itu.
Starla pun tak memedulikan Deka, sebab dia sedang asyik menonton film dari ponsel barunya tersebut.
Deka buru-buru mandi lalu mengenakan kemeja maroon pemberian Clarissa, dia menyemprotkan parfum beraroma maskulin dan merapikan rambutnya. Lalu bergegas turun ke bawah.
Saat di ruang tamu, tampak Starla masih asyik pada ponselnya dengan posisi yang sama.
Deka mendengus kesal, dia berjalan melewati Starla begitu saja. Aroma parfum Deka seketika menyerbu indera penciuman Starla, wanita itu sontak mengalihkan pandangannya ke arah Deka yang sudah menjauh.
"Ada acara dengan teman," jawab Deka.
"Oh. Pulangnya lama tidak?"
"Belum tahu. Kenapa? Kau mau ikut?"
Starla menggeleng, "Tidak, aku di rumah saja. Mau nonton film."
Wajah Deka semakin masam, "Ya sudah, hati-hati di rumah. Aku pergi."
"Oke, Abang juga hati-hati di jalan," balas Starla dan kembali fokus pada layar ponselnya.
Deka tak menjawab, dia pun keluar dari rumah dan bergegas pergi. Tadinya dia berniat mengajak Starla ikut makan malam bersama Clarissa, tapi melihat sikap cuek wanita itu, Deka jadi kesal dan berubah pikiran.
Satu jam setelah Deka pergi, Dani pun datang sambil menenteng dua kantong plastik, yang satu berisikan camilan serta minuman kaleng dan yang satunya lagi berisikan kotak kue.
"Hai, Starla," sapa Dani ramah.
__ADS_1
Starla sontak memandang ke arah pintu masuk dan bergegas bangkit, "Eh, Bang Dani."
"Deka belum pulang, ya?" tanya Dani sembari berjalan mendekati Starla lalu meletakkan kantong plastik yang dia bawa di atas meja.
"Sudah, malah dia sudah sudah pergi lagi," jawab Starla.
"Ke mana?"
"Katanya ada acara dengan temannya."
Dani mengernyit, "Temannya? Teman yang mana?"
Starla menaikkan kedua bahunya, "Mana aku tahu."
"Apa dia ada acara dengan Clarissa?" tebak Dani.
Starla termangu mendengar tebakan Dani, seketika dia teringat pada Deka yang berpenampilan sangat rapi dan juga wangi, entah kenapa hatinya mendadak merasa gelisah.
"Aku akan coba hubungi dia." Dani menelepon Deka, tapi tidak ada jawaban.
"Cckk, kenapa tidak dijawab, sih?" gerutu Dani.
"Mungkin dia tidak dengar, atau sedang tidak ingin diganggu," sela Starla, dia mulai berprasangka.
"Ya sudahlah, mau gimana lagi? Padahal aku sudah membeli semua ini," keluh Dani sedikit kecewa.
Starla pun mengintip kantong plastik yang Dani bawa itu, "Memangnya ini buat apa, Bang?"
"Hari ini Deka ulang tahun, jadi aku ingin kita merayakannya bersama."
Starla terkesiap, "Jadi Bang Deka ulang tahun?"
Dani mengangguk, "Setiap tahun kami selalu merayakannya bersama, walau aku kadang telat mengingatnya. Seperti tadi, aku baru ingat saat melewati toko kue sepulang kerja. Makanya aku langsung beli semua ini dan datang ke sini, tapi dia terlanjur pergi."
"Jangan sedih! Kita masih bisa merayakannya saat dia pulang nanti. Bagaimana kalau kita buat kejutan?"
"Hem, boleh juga itu!"
"Kalau begitu aku akan memasak makanan spesial, dan Bang Dani menyiapkan semua ini," cetus Starla sembari menunjuk dua kantong plastik yang Dani bawa tadi.
"Kita akan merayakan ulang tahu Bang Deka bersama-sama," imbuh Starla.
"Ide yang bagus! Yuk, laksanakan!" seru Dani semangat.
__ADS_1
Starla pun bergegas ke dapur dan menyiapkan bahan-bahan untuk memasak makanan kesukaan Deka, sedangkan Dani membongkar isi kantong plastik tersebut dan menyusunnya di atas meja.
***