Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
15. Viral


__ADS_3

Pagi ini Starla terlihat lesu dan tak bersemangat, semalaman dia tidak bisa tidur sebab memikirkan banyak hal. Dia bertekad akan membantu Deka sembuh dari rasa traumanya dan membuat lelaki itu ceria lagi.


Starla membuat dua gelas teh hangat, dan karena tidak sempat berbelanja semalam, dia pun tidak bisa membuatkan sarapan, karena memang di dapur tidak ada stok bahan makanan apa pun.


Tak lama kemudian, Deka yang yang sudah berpakaian rapi turun dengan tergesa-gesa dan langsung menuju pintu. Starla yang kebingungan hanya memperhatikan lelaki yang kini menjadi majikannya itu.


"Ada apa?" gumam Starla saat melihat Deka keluar dari rumah.


Beberapa saat kemudian Deka kembali lagi dengan membawa bungkusan dan segera menyerahkannya ke Starla yang masih termangu di depan meja makan.


"Ini sarapan," ucap Deka.


"Abang membelinya? Cepat sekali?" tanya Starla.


"Aku pesan online tadi," jawab Deka sembari duduk di hadapan Starla.


"Kalau begitu aku ambilkan piring dan sendok dulu, Bang." Starla bergegas mengambil piring dan sendok.


Wanita itu kembali dan langsung menyiapkan sarapan yang Deka beli tadi di atas piring lalu mereka menyantapnya bersama. Tak ada pembicaraan antara mereka, Deka makan tanpa bicara atau sekedar menatap Starla, sedangkan wanita itu terus meliriknya.


"Ini aku sudah membuatkan teh hangat untuk Abang." Starla menyodorkan segelas teh yang dia buat tadi.


Deka mengangguk, "Terima kasih."


"Sama-sama, Bang."


Keduanya kembali sarapan dalam diam, hanya terdengar suara denting sendok dan piring yang berbenturan.


Starla kembali bersuara untuk mencairkan suasana yang begitu dingin dan kaku.


"Bang!" panggil Starla.


"Hem."


"Semalam kan aku tidak jadi belanja ... jadi mau tidak sekarang Abang menemani aku ke mini market?" Hati-hati Starla bertanya agar Deka tidak marah.


"Aku mau bekerja, kau pergi saja sendiri,"

__ADS_1


"Tapi aku takut, bagaimana kalau aku bertemu dengan orang-orang jahat yang waktu itu? Bagaimana kalau mereka menculik atau menyakiti aku lagi, Bang?"


"Di dekat sini ada mini market, dan kau bisa keluar rumah dengan mengenakan masker agar mereka tidak mengenalimu," ujar Deka sambil memasukkan suapan terakhir ke dalam mulutnya.


"Tapi, Bang ...."


"Aku sudah terlambat," potong Deka cepat sebelum Starla sempat melanjutkan kata-katanya, dia menenggak habis teh hangat buatan Starla dan beranjak.


Wajah Starla seketika masam.


Deka mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu dan memberikannya ke Starla, "Ambil ini dan belilah apa yang ingin kau beli!"


Starla menerima uang itu, "Iya, Bang."


"Aku berangkat." Deka pun melenggang pergi meninggalkan Starla yang terdiam dengan wajah cemberut.


Starla mengembuskan napas dan mengeluh, "Sikapnya dingin sekali, kalau begini akan sangat sulit untuk mendekatinya."


"Tapi aku tidak boleh menyerah! Aku harus berusaha menyembuhkan traumanya dan membuat dia ceria lagi, ini tantangan untukku," tekad Starla penuh semangat, dia lalu melanjutkan sarapannya.


***


"Halo, Tuan," sapa Deka.


"Ke ruangan ku sekarang!"


"Baik, Tuan."


Victor langsung menutup panggilannya. Lelaki keturunan Tiongkok itu sebenarnya sedang memperhatikan kedatangan Deka dari cctv.


Deka masuk ke dalam ruangan Victor setelah dipersilakan untuk masuk, dia berdiri di hadapan bos-nya itu.


"Kau sudah lihat berita yang sedang viral saat ini?" tanya Victor.


Deka menggeleng, dia memang tak pernah peduli dengan berita viral apa pun.


"Tunjukkan padanya!" pinta Victor pada Bima yang berdiri di sisinya.

__ADS_1


Bima sontak menyodorkan iPad yang sedang memutar rekaman cctv di mini market tadi malam, di mana Deka sedang menghajar dua perampok hingga babak belur.


Mata Deka membulat saat melihatnya, dia sedikit terkejut meskipun wajah tampannya tetap datar.


Victor menatap tajam Deka, "Kenapa kau melakukan itu?"


"Aku hanya ingin menyelamatkan sahabat ku, Tuan," sahut Deka.


Victor tertawa, "Sahabat?"


Deka hanya bergeming.


Victor beranjak dari duduknya dan mendekati Deka, lalu memegang kedua pundaknya, "Dengarkan aku baik-baik! Tidak ada yang namanya sahabat di dunia ini, semua orang hanya saling membutuhkan dan memanfaatkan, jadi kau jangan terlalu naif."


Deka mengernyitkan keningnya, namun dia tak ingin protes.


"Rekaman video ini viral dan semua orang melihat aksimu itu, bagaimana kalau orang-orang mencari tahu siapa kau sebenarnya dan bagaimana kehidupan mu? Apalagi kalau sampai kau berurusan dengan polisi? Kita bisa terancam, Deka!"


"Apa kau tidak memikirkan itu sebelum bertindak?" lanjut Victor.


"Aku minta maaf, Tuan. Aku terlalu emosi, jadi tidak bisa berpikir jernih saat itu," dalih Deka.


"Lain kali jangan ulangi lagi! Jangan buat kekacauan di tempat umum dan jangan sampai berurusan dengan polisi! Aku tidak mau kita terancam gara-gara ulah mu, kau harus bisa mengontrol diri."


Deka mengangguk patuh, "Baik, Tuan. Aku tidak akan mengulanginya lagi."


Victor melepaskan tangannya dari pundak Deka, "Sekarang kau boleh pergi!"


"Aku permisi." Deka segera berbalik dan keluar dari ruangan bos-nya itu.


Victor pun kembali duduk di kursi kebesarannya dan memberi perintah kepada Bima, "Perketat pengamanan, aku takut video ini mendatangkan masalah untuk kita!"


"Baik, Tuan," balas Bima patuh.


***


Hai, semua. Maaf aku baru bisa update lagi, karena beberapa waktu lalu aku sakit.

__ADS_1


Terima kasih masih setia menunggu kisah ini.


__ADS_2