Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
56. Efek Obat Atau Efek Cinta?


__ADS_3

Starla kembali ke kamar Deka setelah mencuci tangannya dan membawa kotak obat. Dia lalu duduk di sisi Deka dan mengambil termometer yang tadi dia selipkan di ketiak lelaki itu.


"Wah, tiga puluh sembilan koma lima derajat Celsius. Cukup tinggi juga," terang Starla saat melihat alat pengukur suhu tubuh itu, dia lalu menatap Deka, "aku akan bersihkan lukanya dulu."


Starla pun membongkar kotak obat yang dia bawa tadi, lalu mengeluarkan cairan antiseptik, kain kasa dan kapas. Dengan hati-hati Starla membasahi kapas dengan cairan antiseptik lalu membersihkan luka Deka yang kian bengkak dan merah.


Deka meringis sambil memejamkan matanya, badannya menegang menahan sakit.


"Ini memang sedikit sakit, Abang tahan, ya?" ucap Starla, namun Deka tak menjawab.


Starla kembali membersihkan luka Deka dengan perlahan, namun kali ini tidak sesakit yang tadi. Deka membuka matanya, dia tertegun menatap wajah cantik Starla yang terlihat serius memperhatikan luka tersebut, entah mengapa jantungnya tiba-tiba berdebar kencang.


"Kalau saja dari awal Abang mau ke rumah sakit dan mendapatkan penanganan medis, mungkin tidak akan terjadi infeksi seperti ini. Kita kan tidak tahu, apakah sesuatu yang melukai Abang itu bersih atau tidak, bisa saja banyak kuman dan kotorannya," ujar Starla yang masih fokus membersihkan luka Deka.


Lagi-lagi Deka tak menjawab, dia masih asyik memandangi wajah cantik di hadapannya itu.

__ADS_1


Setelah membersihkannya, Starla kemudian mengoleskan salep antibiotik pada luka tersebut, kemudian menutupnya dengan kain kasa tipis.


"Sudah, sekarang Abang istirahat. Jangan banyak bergerak! Mudah-mudahan infeksinya segera sembuh dan demam Abang bisa turun." Starla kembali meletakkan handuk basah di dahi Deka.


Kemudian dia merapikan barang-barang yang sudah dia gunakan, dan beranjak dari sisi Deka.


"Aku keluar dulu, Bang. Kalau butuh apa-apa, hubungi aku!"


Starla hendak melangkah pergi, tapi Deka tiba-tiba menarik lengannya, membuat wanita itu terkejut dan sontak menoleh ke arah Deka dengan kening mengerut.


"Kenapa, Bang?"


Starla tersenyum sembari mengangguk, "Iya, ama-sama."


Dengan perlahan Deka melepaskan tangan Starla dan wanita itu pun melanjutkan langkahnya keluar dari kamar Deka.

__ADS_1


Setelah kepergian Starla, Deka memegangi dadanya, dia masih merasakan jantungnya kian berdebar kencang saat memegang tangan Starla tadi.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan aku? Apa mungkin aku jatuh cinta padanya? Ah, tapi itu tidak mungkin, ini pasti efek obat yang aku minum," batin Deka, dia berbicara sendiri, berusaha menebak-nebak namun kemudian membantahnya.


Sejujurnya Deka merasa senang dengan semua perhatian Starla padanya, dia merasa seperti disayangi dan dipedulikan oleh wanita itu.


Deka kemudian memejamkan mata, dia hendak tidur, namun dia membuka kembali matanya karena mendadak dia teringat sesuatu yang harus dia amankan secepat mungkin.


Dengan perlahan dan susah payah, Deka bangkit dari pembaringan sembari memegangi dadanya yang nyeri kemudian melangkah lemah mendekati lemari pakaian miliknya. Deka lantas membuka lemari tiga pintu itu dan mengambil sebuah pistol yang dia simpan di antara pakaiannya.


"Aku harus simpan di tempat yang lebih aman," gumam Deka sambil celingukan dan tatapannya tertuju pada kolong tempat tidur.


Deka membawa langkahnya yang sempoyongan menuju ranjang, lalu dia meletakkan pistol tersebut di kolong ranjang, lagi-lagi pria rupawan itu merintih menahan sakit saat tubuhnya merunduk. Namun dia berusaha menahannya.


Usai memastikan senjata apinya itu berada di tempat yang aman, Deka pun merasa lebih tenang. Dia melakukan semua itu bukan tanpa alasan, belakangan ini Starla sering masuk ke kamarnya, dia tak ingin wanita itu melihat pistol tersebut.

__ADS_1


Deka pun kembali naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya dengan hati-hati, dia masih merasa sedikit pusing, walau sudah tidak menggigil seperti sebelumnya sebab obat yang dia minum mulai bereaksi. Deka memejamkan mata lagi, dan bayangan wajah Starla pun mengusiknya.


***


__ADS_2