
Deka memarkirkan mobil Bima di tepi dermaga yang sangat sepi, kemudian membuka semua kaca jendelanya. Dia lantas menarik tubuh Bima yang sekarat agar berpindah ke balik kemudi, dan bergegas keluar dari dalam mobil tersebut.
Deka mengempiskan keempat ban mobil Bima lalu setelah itu segera menghampiri mobil Victor yang menunggu di belakang mobil Bima.
"Sudah?" tanya Victor.
"Sudah, Tuan," jawab Deka.
Victor menyeringai, dia lalu menyalakan mesin mobilnya dan melaju sehingga menabrak bagian belakang mobil Bima. Dengan perlahan mobil Bima bergerak maju karena didorong oleh mobil Victor, hingga akhirnya jatuh ke dalam laut.
"Selamat tinggal, pengkhianat. Semoga kau tenang di sana," ucap Victor sambil tersenyum puas.
Mobil Bima perlahan-lahan mulai tenggelam bersama tubuhnya, hingga akhirnya tak terlihat lagi di permukaan.
Deka mengembuskan napas berat, dia tak menyangka Victor itu ternyata seorang psikopat dan nasib Bima akan berakhir tragis seperti ini. Meskipun kesal dengan apa yang sudah Bima lakukan, tapi entah mengapa Deka merasa sedikit iba pada lelaki itu.
Victor memundurkan mobilnya lalu berhenti di dekat Deka.
"Masuklah! Aku akan mengantarmu mengambil mobil," pinta Victor.
Deka bergegas masuk ke mobil Victor, dan mereka segera meninggalkan tempat itu sebelum ada yang melihat.
Victor mengantarkan Deka ke gudang kosong tadi, sebab Deka menyimpan mobilnya di sana.
"Sepertinya kau sudah pulih, berarti besok kau sudah bisa kembali bekerja," ujar Victor saat mobilnya berhenti.
"Iya, Tuan."
"Sekarang pulanglah dan beristirahat, nanti aku akan mentransfer bonus untukmu karena berhasil melenyapkan Julio Winata dan membongkar kedok si pengkhianat Bima."
Deka mengangguk, "Terima kasih, Tuan. Kalau begitu aku permisi."
"Hem."
Deka keluar dari mobil Victor dan berjalan menuju mobilnya yang dia parkiran tersembunyi, dia masuk ke dalam mobil dan mengeluarkan ponselnya, dia baru teringat saat melihat notifikasi panggilan dari Starla yang dia abaikan tadi. Deka pun menghubungi wanita itu kembali.
__ADS_1
"Halo, Bang."
"Ada apa kau meneleponku tadi?" tanya Deka tanpa basa-basi.
"Aku mau mengabarkan jika rumah Bang Dani kebakaran."
Deka terkejut, "Apa? Kok bisa?"
"Aku tidak tahu, Bang."
"Jadi sekarang Dani dan Paman Rakis di mana?"
"Ke rumah mereka."
Deka langsung mematikan telepon sepihak lalu melemparkannya ke jok sebelah, dia sangat panik dan cemas. Buru-buru dia menyalakan mesin mobilnya dan melesat pergi meninggalkan gudang kosong itu.
***
Starla menggerutu kesal sebab Deka memutus pembicaraan begitu saja.
Dia melempar ponselnya ke kasur lalu merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamar.
"Sebenarnya apa yang dia lakukan di luar sana, ya? Dia tidak mungkin bekerja malam-malam begini, kan? Apa mungkin dia menemui Clarissa? Atau wanita lain?" Starla bertanya-tanya sendiri, dia merasa penasaran dengan kehidupan Deka yang penuh misteri.
Starla tersentak saat ponselnya tiba-tiba berdering nyaring, dia buru-buru meraih benda pipih itu dan tercenung melihat nama si penelepon.
"Reyhan?"
Starla langsung menjawab panggilan masuk dari Reyhan itu.
"Halo, Rey. Kamu kenapa sulit sekali dihubungi? Ada apa tadi nelpon aku?" cecar Starla.
"Maaf, tadi aku sedang bersama papa kamu, jadi aku tidak bisa jawab telepon. Tadi aku mau memberitahu sesuatu."
"Apa?"
__ADS_1
Reyhan bergeming, membuat Starla cemas dan semakin penasaran.
"Rey, kenapa diam? Kamu mau memberitahu apa?" desak Starla tak sabar.
"Aku diminta papa kamu untuk membakar rumah Dani."
Starla tercengang, dia tak menyangka ini ulah papanya.
"Jadi kau yang membakar rumah Bang Dani?" Starla memastikan lagi sebab masih tak percaya.
"Aku terpaksa melakukannya, La. Aku tak ada pilihan lagi dan tak mungkin menolak."
"Ya ampun, Rey. Kalau begini aku jadi semakin merasa bersalah pada Bang Dani dan ayahnya, semua ini gara-gara aku," keluh Starla.
"Tapi ada yang lebih penting lagi yang harus aku sampaikan padamu."
"Apa itu?"
"Saat ini papa kamu mengutus seseorang untuk memantau Dani di rumahnya dan mengikuti ke mana dia pergi. Jadi tolong bilang ke dia untuk berhati-hati."
Starla terkesiap dan mendadak panik, "Astaga, aku harus memberitahukan hal ini kepada Bang Dani."
"Iya, kau juga harus .... aahhk ...."
Reyhan berteriak sebelum sempat melanjutkan kata-katanya, dan teleponnya terputus.
Starla semakin panik dan cemas, "Rey, ada apa? Reyhan!"
Starla mencoba menghubungi Reyhan lagi, tapi tak tersambung.
"Apa yang terjadi?" Starla mulai gemetaran.
"Aku harus hubungi Bang Deka!"
Starla pun akhirnya menelepon Deka lagi.
__ADS_1
***