Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
21. Ucapan Dani.


__ADS_3

Starla sedang memasak makan malam, seperti biasa Dani menyelonong masuk begitu saja.


"Hai, Starla," sapa Dani ramah.


"Eh, Bang Dani sudah datang? Cepat sekali?"


"Iya, dong. Habis aku sudah rindu dengan dirimu," sahut Dani malu-malu.


"Rindu dengan aku atau makanan yang aku masak?" goda Starla.


"Dua-duanya," balas Dani lalu tertawa.


Starla pun ikut tertawa sambil geleng-geleng kepala.


"Eh, Deka mana?" tanya Dani setelah berhenti tertawa.


"Ada di kamarnya, Bang. Paling juga lagi mandi," jawab Starla.


"Oh, ya sudah aku tunggu di sini saja, deh. Sekalian temani bidadari masak," ucap Dani sembari memandang Starla yang tersipu-sipu.


Wajah Starla merona, "Bang Dani bisa saja gombalnya."


"Ini bukan gombal, aku sungguh-sungguh. Kau benar-benar cantik seperti bidadari," puji Dani.


"Sudah, ah! Kepalaku bisa besar nanti kalau terus dipuji."


Dani tertawa, dia merasa gemas melihat wajah Starla yang merah dan malu-malu. Semakin hari dia semakin menyukai Starla, dan bertekad akan mencuri hati wanita itu.


Tanpa Dani dan Starla sadari, dari lantai atas Deka memandangi dua insan itu dengan tatapan yang tak terbaca. Dia lantas turun dan menghampiri mereka.


"Ini dia, akhirnya turun juga," kata Dani saat melihat Deka berjalan ke arahnya.


"Cepat sekali kau datang?" protes Deka, karena biasanya Dani datang saat waktunya makan malam, tapi kali ini dia datang lebih awal.


"Memangnya tidak boleh aku datang lebih cepat dari biasanya?" Dani balik bertanya.


Deka tak menjawab, dia berjalan melewati Dani dan duduk di sofa ruang tamu. Dani pun beranjak dan mengikuti Deka, lelaki itu duduk di hadapannya.

__ADS_1


"Tadi ayahmu titip pesan, kau disuruh mencari pekerjaan yang benar, jangan terlalu lama jadi pengangguran," ujar Deka menyampaikan pesan Rakis tadi.


Dani sontak melotot dan meletakkan jari telunjuknya di depan mulut, lalu berbicara dengan sangat pelan, "Ssstt! Bicaranya pelan-pelan! Jangan sampai Starla tahu kalau aku ini pengangguran."


Deka mengernyitkan keningnya, "Memangnya kenapa?"


"Nanti dia berpikir aku ini pemalas yang tidak mau bekerja."


"Bukankah itu benar?"


"Aku bukan tidak mau bekerja, tapi pekerjaannya yang tidak ada. Kau kan tahu di zaman sekarang sulit mendapatkan pekerjaan," dalih Dani.


"Pekerjaan banyak, kau yang terlalu pemilih. Sekalinya dapat pekerjaan, kau pasti tidak betah," bantah Deka.


"Ka, kalau pekerjaannya cocok, aku pasti betah," sanggah Dani.


Deka menghela napas kesal, dia benar-benar malas berdebat dengan Dani dalam urusan pekerjaan, karena sahabatnya itu pasti selalu punya alasan untuk membantahnya.


"Ini aku lagi mencoba tanya-tanya ke pabrik pembuatan laptop, katanya mereka butuh karyawan baru. Di sana gajinya besar dan kerjaannya tidak berat, siapa tahu aku betah," lanjut Dani.


"Kau ngatain aku pemalas? Kau mengejekku, ya?" kesal Dani, suaranya yang keras sampai memenuhi ruang tamu.


"Ssstt, pelan kan suaramu! Kalau Starla dengar, dia akan tahu kalau kau ini pengangguran yang malas," sindir Deka mengulang ucapan Dani tadi.


"Dasar sahabat berengsek!" Dani melempar bantal sofa ke wajah Deka, dia kesal tapi takut Starla tahu siapa dirinya.


***


Usai makan malam, Deka duduk sendiri di teras samping sambil mengisap rokok, dia masih memikirkan dari mana Victor tahu jika polisi menemuinya.


Dani yang sudah selesai menggoda Starla datang menghampiri Deka dan ikut duduk di samping sahabatnya itu.


"Kenapa kau menyendiri di sini? Lagi ada masalah?" tanya Dani sembari menarik sebatang rokok dan menyalakannya.


Deka menggeleng tanpa memandang sahabatnya itu, tatapannya lurus ke depan dan asap putih mengepul dia hembuskan dari mulutnya.


"Jangan bohong, Ka! Aku tahu pasti ada yang mengganggu pikiranmu."

__ADS_1


Dani dan Rakis memang hapal tabiat Deka, jika lagi ada masalah, lelaki dingin itu pasti selalu murung dan melamun.


Deka mengembuskan napas, kemudian melempar puntung rokok yang masih menyala ke tanah di depannya.


"Kau bisa cerita seperti biasanya," lanjut Dani.


"Victor tahu polisi menemui ku dan dia marah," ucap Deka, akhirnya dia bicara juga.


Dani mengerutkan keningnya, "Dia tahu dari mana?"


Deka mengangkat kedua bahunya pertanda tidak tahu.


"Memangnya kau tidak tanya dia tahu dari mana?"


"Sudah, tapi dia tidak mau bilang," jawab Deka.


"Pasti ada yang mengadu padanya, tapi siapa? Yang tahu masalah ini kan cuma aku."


"Dan ayahmu," sambung Deka.


Dani sontak menatap Deka dengan mata melotot, "Apa ayahku? Tapi tidak mungkin dia melakukannya?"


"Iya, aku tahu Paman Rakis tidak akan melakukan hal itu. Makanya aku bingung, dari mana Tuan Victor tahu?"


"Apa dia mengutus orang untuk memata-matai mu?"


"Sepertinya tidak mungkin," bantah Deka.


"Kalau begitu kau tanya saja tangan kanannya, orang itu pasti tahu," cetus Dani.


"Bima?"


"Iya, dia kan selalu berada di dekat Tuan Victor, dia tahu semuanya. Jadi pasti dia juga tahu dari mana Tuan Victor mendapatkan informasi. Kau paksa saja dia bicara."


Deka bergeming, usul Dani itu ada bagusnya juga, meskipun dia tidak yakin Bima akan mengatakannya. Dia tahu Bima itu orang seperti apa, tapi demi menjawab rasa penasarannya, dia harus memaksa lelaki itu untuk bicara.


***

__ADS_1


__ADS_2