Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
47. Cari-cari Alasan.


__ADS_3

Dani berjalan menuruni anak tangga, namun dia terkesiap saat melihat Starla duduk di ruang makan sambil melamun. Dengan perlahan dia mendekati wanita itu dan mengejutkannya.


"Hayo, lagi mikirin apa?"


Starla terperanjat, seketika lamunannya buyar, "Ya ampun, Bang Dani mengagetkan aku saja!"


Dani tertawa, dia menarik kursi di sebelah Starla lalu duduk, "Kenapa belum tidur?"


"Aku masih memikirkan Bang Deka," jawab Starla.


Dani mengernyit, "Memikirkan Deka?"


"Iya, Bang. Aku penasaran kenapa dia sampai terluka seperti itu? Aku tanya, dia tidak mau jawab."


"Oh, karena itu."


Starla lalu menatap dalam Dani, "Bang Dani pasti tahu kan kenapa? Ayo, katakan padaku, Bang!"


Dani sempat terdiam, tapi kemudian tersenyum, "Tadi ada kecelakaan saat di dermaga, ada besi yang jatuh dan tidak sengaja mengenai Deka."


Starla menautkan kedua alisnya, "Di dermaga? Buat apa Bang Deka ke dermaga malam-malam begini?"

__ADS_1


"Biasalah, ada urusan pekerjaan. Deka memang sering diutus oleh Bos-nya untuk menjemput seseorang di dermaga, tapi kali ini dia apes," dalih Dani, dia sengaja mengarang cerita untuk membuat Starla berhenti penasaran tentang Deka.


"Tapi kenapa jemput nya harus malam-malam, sih?"


Dani menaikkan kedua bahunya, "Entah, aku juga tidak tahu."


Starla bergeming, dia sedang mencerna cerita Dani itu.


"Terus kenapa Bang Deka tidak mau ke rumah sakit? Apa dia ada trauma dengan rumah sakit?" Starla kembali mencecar pertanyaan pada Dani.


"Oh, itu. Deka takut disuntik," sahut Dani asal.


"Ya ampun, badan kekar dan jago beladiri, tapi takut disuntik? Ada-ada saja!" Starla geleng-geleng kepala.


Tanpa Dani dan Starla sadari dari lantai atas Deka sedang memperhatikan mereka sambil memegangi dadanya yang nyeri, rupanya dia tidak tenang dan gelisah membiarkan Dani menemui Starla larut malam begini, sehingga dia memutuskan bangkit dan beranjak keluar untuk memantau sahabatnya itu. Aneh memang, Deka yang biasa cuek dan tidak peduli dengan orang lain, kini selalu ingin memperhatikan serta menjaga Starla. Mungkinkah dia mulai memiliki perasaan terhadap wanita itu?


Namun tidak sengaja Dani melihat keberadaan Deka dan sedikit terkejut, Starla yang menyadari sesuatu pun mengikuti arah pandangan Dani.


"Bang Deka?" gumam Starla saat melihat Deka berdiri memandang dirinya dan Dani dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Ada apa, Ka? Kau butuh sesuatu?" tanya Dani.

__ADS_1


"Tolong bantu aku memakai baju, aku kedinginan," pinta Deka, itu hanya alasannya saja.


"Oh, baiklah." Dani langsung berdiri dan berjalan menghampiri Deka.


Starla hanya memandangi dua pria itu dari tempatnya duduk.


"Kau kan bisa menelpon ku saja, tidak perlu bangun seperti ini. Lihat, lukamu jadi berdarah lagi." Dani menunjuk perban di dada Deka yang terkena rembesan darah.


Deka tak menjawab, dia kemudian berjalan tertatih kembali masuk ke dalam kamarnya. Sejujurnya dia merasa kesakitan saat berdiri seperti ini, tapi dia menahannya.


Di dalam kamar, Deka duduk di tepi ranjang dan Dani pun membantunya memakai baju kemeja serta mengganti celana.


"Sudah, sekarang sebaiknya kau tidur dan jangan banyak bergerak lagi!" titah Dani, dia membantu Deka berbaring.


"Kau temani aku di sini! Siapa tahu aku membutuhkanmu lagi," balas Deka.


"Kau kan bisa memanggilku dari telepon," keluh Dani.


"Sudah, kau di sini saja! Aku tidak mau sendiri!" pinta Deka tegas.


"Cckk, sejak kapan kau jadi manja begini? Biasanya kau juga tidur sendiri, kenapa sekarang tidak mau?" Dani menggerutu namun tetap menuruti permintaan sahabatnya itu.

__ADS_1


Lagi-lagi Deka tak membalas ucapan sahabatnya itu, dia lebih memilih untuk memejamkan matanya dan berusaha tidur agar tidak terlalu merasakan sakit. Sedangkan Dani akhirnya berbaring di samping Deka sembari bermain ponsel, dia mengirim pesan kepada Starla dan mulai menggoda wanita itu lagi.


***


__ADS_2