
Dani sedang duduk berhadapan dengan Rakis, dia sudah menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Jadi gara-gara wanita itu, kau sampai babak belur begini?" tanya Rakis.
"Ini demi memperjuangkan cintaku dan calon menantu ayah," ujar Dani bangga.
"Tapi sayangnya ayah wanita itu tidak menyukaimu."
"Biar saja ayahnya tidak suka, kan yang penting anaknya."
"Memangnya dia menyukaimu?" Rakis memastikan.
Dani terdiam, dia seketika teringat saat Starla menolak cintanya tempo hari.
"Kenapa kau diam? Ayo, jawab ayah!"
"Hem, sekarang dia belum suka, tapi nanti pasti suka," jawab Dani penuh keyakinan.
Rakis geleng-geleng kepala, "Astaga, ternyata cinta kelapa."
Dani mengerutkan keningnya, "Apaan tuh cinta kelapa?"
"Kau jatuh cinta tapi dia tidak merasakan apa-apa, alias bertepuk sebelah tangan. Sungguh kasihan putraku ini!" ledek Rakis sambil tertawa mengejek.
Wajah Dani berubah masam, "Ayah macam apa yang menertawakan nasib anaknya?Bukannya memberikan semangat dan doa restu."
"Kalau begitu, ayo semangat! Ayah berikan doa restu!" Rakis mengangkat tangannya yang terkepal, lalu tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Dani semakin cemberut, dia beranjak dan meninggalkan Rakis.
"Apa perlu ayah menemui ayahnya untuk melamar?" seloroh Rakis.
"Tidak perlu!" teriak Dani.
Rakis kembali tertawa, dia puas bisa meledek putranya. Sejujurnya tadi dia sangat mencemaskan keadaan Dani, tapi saat mendengar cerita sang putra, hati Rakis sedikit lega walaupun sebenarnya dia kesal pada pria yang sudah memukuli putranya.
Rakis jadi penasaran dengan wanita yang bernama Starla itu, seperti apa dia sampai Dani jatuh cinta dan tergila-gila padanya. Lalu siapa sebenarnya ayah Starla? Sebab dari cerita Dani, sepertinya dia bukan orang biasa.
***
Pria berambut putih itu sedang murka saat mengetahui Starla sudah kabur lagi dan seluruh cctv di rumahnya mati.
"Bodoh kalian semua!" bentakannya menggelegar memenuhi langit-langit rumahnya yang megah.
Reyhan dan semua bodyguard yang ada di rumah itu hanya tertunduk takut, tak ada yang berani menjawab pertanyaan bernada marah bos mereka itu.
"Reyhan, apa kau tidak mengawasinya?"
"Tadi aku memang mengantarkan makanan ke kamarnya, tapi dia mengusirku keluar. Aku pun pergi dan setelah itu aku tidak melihatnya lagi, Pak," terang Reyhan dengan sedikit gugup, jelas dia sedang berbohong. Matilah dia kalau sampai bos-nya itu tahu.
"Kau tidak mengunci pintu kamarnya?"
Reyhan menggeleng lemah, "Tidak, Pak. Aku pikir dia tidak mungkin bisa kabur karena bodyguard di rumah ini banyak."
"Tapi kenyataannya dia bisa kabur!" bentak pria itu lagi.
__ADS_1
Reyhan dan semua bodyguard semakin tertunduk takut.
"Kalian benar-benar tidak becus! Menjaga satu wanita saja kalian tidak bisa! Apa yang akan aku katakan pada Datuk Ramzi jika dia datang nanti?"
"Aku minta maaf, Pak," ucap Reyhan pelan.
"Maaf mu tidak mengembalikan Starla! Sekarang juga cepat cari dia dan seret kembali ke sini!" pinta pria berambut putih itu.
"Atau datangi alamat pria pecundang itu, siksa dia sampai Starla menyerahkan diri," lanjutnya sembari melempar kartu tanda penduduk milik Dani.
Reyhan memungut kartu tanda penduduk itu dan mengangguk patuh, "Baik, Pak."
"Kali ini jangan sampai gagal lagi!" ujar pria itu penuh penekanan.
"Iya, Pak," sahut Reyhan.
Dengan angkuhnya ayah angkat Starla itu berlalu pergi dari hadapan Reyhan dan para bodyguardnya.
Reyhan memandangi kartu tanda penduduk milik Dani itu sembari mengembuskan napas berat, dia sungguh merasa bingung dan serba salah.
"Kalian berdua ikut aku!" Reyhan menunjuk dua orang bodyguard dan mengajaknya pergi.
"Siap, Bang!"
Dengan hati yang berkecamuk, Reyhan melangkah meninggalkan rumah megah milik pria berambut putih itu. Semoga kali ini dia tidak salah langkah.
***
__ADS_1