
Hari ini Dani dan Rakis pindah ke rumah baru mereka yang berada tak jauh dari rumah Deka.
Starla serta Deka juga ikut mengantarkan kepindahan ayah dan anak itu. Dengan antusias, Dani mengajak Starla berkeliling dan menunjukkan taman di belakang rumahnya.
"Wah, bagus sekali, Bang!" seru Starla pura-pura senang, walaupun suasana hatinya sedang tidak baik karena kejadian di dapur waktu itu, tapi dia tak ingin menunjukkan kepada Dani.
"Aku berencana menanam bunga beraneka warna di sini, kau suka tidak?" Dani menatap Starla dengan penuh bersemangat.
Starla mengernyit heran, "Kenapa tanya aku? Ini kan rumah Bang Dani?"
Dani tergagap dan mendadak gugup, "Hem, i-iya ... kau kan sahabat aku, jadi aku ingin kau juga ikut andil dalam menata rumahku."
Starla tersenyum, "Oh gitu, kalau bisa tanam bunga mawar juga, Bang. Pasti tambah bagus."
Dani tertawa lega, "Iya-iya, nanti aku juga akan menanam bunga mawar sesuai permintaan mu."
Dari kejauhan, Deka mengawasi mereka dengan perasaan campur aduk. Hatinya masih kecewa dengan perkataan Starla waktu itu, bahkan dia memutuskan untuk tidak bicara pada wanita itu saking kesalnya. Sebelumnya Deka tidak begini, dia bukan tipe orang yang peduli dengan omongan orang lain tentang dirinya, tapi entah mengapa ucapan Starla kemarin sangat melukai perasaannya.
"Kau lihat apa?" Rakis tiba-tiba menepuk pundak Deka, membuat lelaki itu tersentak kaget.
Deka menoleh canggung, "Paman? Aku sedang melihat rumah baru Paman saja."
"Melihat rumah baru Paman, atau melihat Starla?" sindir Rakis sembari melirik ke arah Starla dan Dani.
Deka tertawa untuk menutupi rasa gugupnya, "Paman ini bicara apa?"
"Deka, kau juga menyukainya, kan?" tanya Rakis tanpa basa-basi.
Wajah Deka berubah tegang, dia jadi salah tingkah sendiri. Apakah kentara sekali sikapnya? Sampai Rakis bisa bertanya seperti itu.
__ADS_1
Deka gugup, "Ti-tidak kok, Paman!"
Rakis tersenyum, "Kau bisa membohongi Paman, tapi kau pasti tidak akan bisa membohongi perasaan mu sendiri."
Deka termangu mencerna kata-kata Rakis.
"Saran Paman, pastikan bagaimana perasaan Starla yang sebenarnya ke kamu dan Dani, jangan sampai kalian terlibat perselisihan karena dia!" pungkas Rakis sambil menepuk pundak Deka lalu melangkah pergi.
Ucapan Rakis itu menyentak relung hati Deka, dia sudah mendengar pernyataan Starla waktu itu, apakah masih perlu dia memastikan lagi bagaimana perasaan wanita itu terhadapnya?
Dan Dani, sungguh Deka tak ingin terjadi perselisihan antara dirinya dan sang sahabat.
***
Deka dan Starla sudah pulang ke rumah, selama diperjalanan tadi, keduanya tak saling bicara satu sama lain. Mereka seperti sedang perang dingin.
"Starla tunggu! Ada yang ingin aku tanyakan."
Starla berbalik dan menatap Deka dengan dingin, "Apa?"
Deka menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskan nya dengan cepat untuk mengurangi grogi sebelum bicara, "Hem, apa kau menyukai Dani?"
Starla tertegun dan sedikit terkejut dengan pertanyaan Deka itu.
"Kenapa tiba-tiba Abang bertanya seperti itu?" tanya Starla menyelidik.
"A-aku cuma ingin tahu saja," jawab Deka asal, dia mendadak gugup dan salah tingkah sendiri.
"Sejak kapan Abang kepo dengan kehidupan pribadi aku?" kecam Starla sinis, dia masih sebal, walaupun dia sendiri bingung, kenapa dia kesal dan marah pada Deka? Padahal pria itu tak melakukan apa pun padanya, justru dia yang sudah berkata tak baik. Namun sifat egois lebih mendominasi hatinya, dia ngambek dan cemburu.
__ADS_1
Deka sontak terdiam, dia bingung harus menjawab apa? Dia seperti terjebak dengan kata-katanya sendiri.
"Aku saja tidak peduli dengan kehidupan pribadi Abang, jadi Abang juga tidak perlu tahu tentang aku. Bukankah hubungan kita hanya sebatas majikan dan pembantu? Jadi apa pentingnya kehidupan pribadi ku untuk Abang?" lanjut Starla dingin, dia mengungkapkan kekesalan hatinya.
Deka menatap tajam Starla, dia terkesiap mendengar sindiran wanita itu.
"Jadi menurutmu hubungan kita hanya sebatas itu? Tidak lebih?" Deka memastikan, entah mengapa hatinya seketika sakit dan kecewa.
Starla mengangguk, "Iya, tadinya aku menganggap Abang sebagai teman, tapi ucapan calon istrimu kemarin menyadarkan aku jika selama ini aku terlalu besar kepala. Aku harusnya tahu diri, siapa aku ini?"
"Aku minta maaf atas sikap dan ucapan Clarissa kemarin, tapi dia bukan calon istriku! Kami hanya berteman, tidak lebih!" sangkal Deka tak terima.
Starla tersenyum sinis, "Abang pasti bohong!"
Tentu Starla tak percaya begitu saja, bagaimana mungkin sepasang pria dan wanita berduaan di kamar hanya sebatas teman?
Dia masih beranggapan jika kemarin Deka dan Clarissa melakukan hal yang tidak-tidak.
"Aku serius! Aku tahu dia memang berharap lebih dariku, tapi aku tak pernah menanggapinya."
"Abang tidak tertarik padanya?"
Deka menggeleng, lalu melangkah mendekati Starla. Matanya menatap manik hitam Starla sambil memegang kedua pipi wanita itu, "Aku justru tertarik padamu."
Mata Starla sontak mendelik dan tubuhnya menegang, dia tercengang mendengar pengakuan Deka.
Secara perlahan Deka mendekatkan wajahnya ke wajah Starla, kemudian dengan lembut mencium bibir mungil yang ternganga itu. Starla hanya mampu memejamkan mata dengan jantung yang berdebar kencang.
***
__ADS_1