
Deka sudah selesai membersihkan diri, baru saja kakinya melangkah keluar dari kamar mandi, ponselnya tiba-tiba berdering. Deka meraih benda pipih yang tergeletak di atas meja itu dan mengernyit saat melihat ID si penelepon.
"Tuan Victor?"
Tumben sekali lelaki itu menghubungi Deka di saat weekend begini, tak ingin membuat Victor menunggu, Deka pun segera menjawab panggilan masuk itu.
"Halo, Tuan," sapa Deka.
"Deka, nanti siang tolong jemput Clarissa di bandara, aku ada urusan mendadak, jadi tidak bisa menjemputnya."
"Baik, Tuan."
"Ya sudah." Victor langsung menutup teleponnya.
Deka termangu saat mengingat Clarissa, sudah hampir lima tahun ini dia dan putri Victor itu tidak pernah bertemu dan berkomunikasi. Padahal sejak kecil mereka berteman cukup akrab, dia bahkan sudah menganggap wanita berwajah oriental itu seperti adiknya sendiri.
Namun karena harus melanjutkan pendidikan S2 nya, Clarissa pergi ke Amerika dan tinggal di sana.
Deka menghela napas, tak bisa dipungkiri ada sedikit kerinduan dihatinya, bagaimanapun juga dia sudah menyayangi Clarissa. Deka pun meletakkan ponselnya dan segera mengenakan pakaian, lalu turun ke lantai bawah.
Saat di bawah, Dani dan Starla sudah selesai sarapan. Keduanya terlihat sedang mengobrol di ruang makan sambil bercanda tawa, rupanya hubungan Dani dan Starla tidak berubah karena kejadian tadi malam.
Deka mendekati meja makan dan duduk di depan kedua insan itu.
"Mie gorengnya sudah dingin, mau aku panas dulu?" tanya Starla.
Deka menggeleng tanpa memandang wanita itu, "Tidak usah!"
Tanpa banyak bicara, Deka pun menyantap mie goreng sosis di hadapannya.
"Ka, hari ini kau ada acara?" Dani bertanya.
"Aku mau ke bandara," jawab Deka.
"Ngapain?"
"Mau jemput Clarissa."
Dani mengerutkan dahinya, dia tampak berpikir, "Clarissa? Clarissa putrinya Tuan Victor yang sekolah di Amerika itu?"
"Hem." Deka hanya berdeham sambil terus menikmati sarapannya.
"Dia pulang?"
Deka mengangguk tanpa memandang Dani, sedangkan Starla hanya menyimak obrolan mereka.
"Sudah seperti apa dia sekarang? Pasti semakin cantik?" tebak Dani.
__ADS_1
Deka hanya menaikkan kedua bahunya, meskipun cukup dekat, tapi selama Clarissa di Amerika, dia tidak pernah tahu kabar wanita itu sama sekali.
"Kau tidak pernah menghubungi dia?" Dani memastikan.
"Tidak," sahut Deka singkat.
"Aku pikir kalian masih berhubungan seperti dulu, soalnya kan kalian sangat dekat," sambung Dani.
Deka tak menjawab, dia lebih memilih untuk menikmati suapan terakhir sarapannya. Deka memang tidak pernah bermain
Starla terdiam, dia jadi penasaran dengan wanita bernama Clarissa itu dan seperti apa hubungannya dengan Deka.
Setelah selesai makan, Dani mengajak Deka mengobrol di ruang tamu, sementara Starla melanjutkan pekerjaannya di dapur.
***
Deka menunggu di depan pintu kedatangan bandara Internasional Hang Nadim Batam, orang-orang silih berganti keluar sambil menarik koper mereka. Deka memperhatikan satu persatu wajah mereka, mencoba mencari sosok yang sedang dia tunggu.
Seorang wanita cantik berwajah oriental dan berkulit putih berjalan keluar sembari mendorong troli barang bawaannya, pakaiannya begitu minim dan seksi. Deka memicingkan matanya, memastikan jika wanita cantik itu adalah Clarissa.
"Clarissa!"
Mata Clarissa langsung tertuju pada Deka yang berdiri di depannya.
"Deka?" Clarissa memastikan.
"Deka, aku kangen sekali denganmu,"
"Aku juga," Deka membalas pelukan Clarissa.
Clarissa mengurai pelukannya dan menatap wajah Deka, "Kau makin ganteng, aku hampir tidak mengenalimu."
"Kau juga makin cantik."
Clarissa tersenyum malu, "Terima kasih."
"Ya sudah, yuk pulang!" ajak Deka sambil mengambil alih barang-barang bawaan Clarissa.
Clarissa mengangguk dan langsung menggandeng tangan Deka, meskipun sudah hampir lima tahun tidak bertemu dan berkomunikasi tapi ternyata keakraban antara keduanya masih terjalin.
Kedua orang itu meninggalkan bandara. Selama diperjalanan, Clarissa bercerita banyak hal, dia menceritakan hari-harinya selama di Amerika.
"Hari pertama aku tiba di Amerika, ponselku hilang, aku jadi tidak bisa menghubungimu," adu Clarissa dengan wajah sendu.
"Kenapa tidak minta nomorku dari papamu?"
"Sudah, tapi Papa tidak berikan. Katanya aku tidak boleh mengganggu mu," keluh Clarissa.
__ADS_1
Deka bergeming, dia tak mengerti kenapa Victor merahasiakan nomor teleponnya dari Clarissa.
"Karena kita sudah bertemu, aku minta langsung saja darimu," lanjut Clarissa.
Deka pun menyebutkan nomor teleponnya.
Dengan cepat Clarissa mencatat nomor itu di ponsel lalu menyimpannya.
"Oh iya, Ka. Kau sudah punya pacar?" tanya Clarissa tiba-tiba.
"Belum."
Clarissa menautkan alisnya, "Masa, sih? Aku tidak percaya laki-laki dewasa setampan kamu tidak punya pacar."
"Ya sudah kalau tidak percaya," sahut Deka santai.
"Kalau wanita yang kau suka?" tanya Clarissa lagi.
Deka terdiam, seketika pikirannya tertuju pada satu sosok - Starla. Namun mendadak bayangan Dani hadir.
"Tidak ada," jawab Deka.
"Sungguh?" Clarissa memastikan.
"Hem."
Clarissa tersenyum senang, dia puas mendengar jawaban Deka itu.
Tak berapa lama, mereka pun tiba di rumah mewah nan megah milik Victor. Deka turun dari mobil dan memerintahkan asisten rumah tangga untuk membawa barang-barang Clarissa ke kamar wanita itu.
Clarissa pun ikut turun, dia rindu dengan rumah ini, tempat di mana dia dibesarkan, walaupun tidak sama lagi sejak ibunya meninggal dunia beberapa tahun yang lalu.
"Kalau begitu aku pulang dulu," ujar Deka, tapi Clarissa menahannya.
"Kok pulang, sih? Aku masih kangen tahu!"
"Lain waktu kita bisa bertemu lagi."
"Tidak mau! Pokoknya kau pulang nanti saja, temani aku dulu!" rengek Clarissa manja, begitu lah sikapnya jika sudah menginginkan sesuatu dari Deka.
"Tapi, Sa ...."
"Sudah, ayolah!" Clarissa menarik Deka masuk ke rumahnya.
Deka menghela napas dan terpaksa menuruti wanita itu.
***
__ADS_1