
Setelah bicara pada Dani dan Rakis, Reyhan pun mengajak dua bodyguard yang ikut bersamanya untuk pulang. Dia mengatakan pada pria berambut putih itu bahwa Dani tidak ada di rumah.
"Jadi pecundang itu belum pulang ke rumah?"
Reyhan mengangguk dengan kepala tertunduk, "Iya, Pak. Hanya ada ayahnya, dan kata ayahnya, dia belum pulang sejak kemarin."
Reyhan berbohong demi bisa menyelamatkan Dani dan juga Starla.
"Dia pasti bersembunyi," tebak pria paruh baya itu.
Reyhan hanya diam.
"Kalau begitu culik ayahnya lalu bakar rumahnya!" pinta pria kejam itu kemudian.
Reyhan terkejut dan sontak mengangkat kepala menatap bos-nya itu, "Bakar rumahnya, Pak?"
"Iya, kenapa kau terkejut begitu?"
Reyhan menggeleng, "Tidak, tidak apa-apa, Pak."
"Tunggu apa lagi? Lakukan sekarang!"
Reyhan mengangguk patuh, "Baik, Pak!"
Dengan perasaan gelisah Reyhan berlalu pergi dari hadapan pria yang sudah membesarkan dirinya itu.
"Kalian berdua ikut aku!" titah Reyhan saat melewati dua bodyguard yang tadi ikut bersamanya.
__ADS_1
"Siap, Bang!"
Kedua pria berbadan tegap itu mengekor di belakang Reyhan.
Sementara itu di rumah Deka, semua orang sedang mengobrol di ruang tamu setelah selesai makan malam.
"Jadi kau sudah tahu di mana sepeda motor mu?" tanya Deka pada Dani.
"Belum, terakhir kali sepeda motorku tertinggal di dekat pabrik," jawab Dani.
"Kita harus lapor polisi! Ini kriminal dan sudah meresahkan," cetus Rakis.
"Iya, aku juga berpikir seperti itu," sahut Dani.
"Percuma! Papa itu tidak akan bisa disentuh oleh polisi, dia seolah punya banyak cara untuk lolos dari jeratan hukum. Yang ada jika kita melaporkan Papa ke polisi itu sama saja kita seperti menunjukkan keberadaan kita, dan dengan mudah Papa akan menemukan kita," terang Starla.
"Starla benar. Melapor ke polisi sama saja seperti memamerkan keberadaan dirinya dan Dani," sela Deka.
"Tapi kita tidak bisa diam saja! Mau sampai kapan Dani bersembunyi dan terlibat masalah seperti ini?" ujar Rakis.
Starla tertunduk merasa bersalah, "Aku minta maaf, gara-gara aku Bang Dani dan semua orang jadi terlibat masalah dengan Papa."
"Eh, kenapa kau minta maaf? Ini bukan salahmu." Dani berbicara sambil melotot ke arah Rakis, dia merasa tak enak pada wanita yang dia sukai itu.
"Sebaiknya sekarang kalian bersembunyi saja dulu, kita akan pikirkan langkah selanjutnya untuk menyelesaikan masalah ini," imbuh Deka.
Rakis mengembuskan napas pasrah, "Iya, mau tak mau itu yang harus kalian lakukan."
__ADS_1
Deka melirik arlojinya, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan, dia harus pergi ke dermaga gelap perairan pantai Nongsa untuk menjalankan rencananya. Kali ini dia tidak boleh gagal lagi, dia harus membalas perbuatan Julio Winata yang telah berani menyalakan api peperangan padanya dan juga Victor.
"Aku mau pergi, kalian kunci semua pintu dan jendela." Deka beranjak dari duduknya.
"Kau mau ke mana, Ka?" tanya Dani penasaran.
"Aku urusan sedikit," jawab Deka.
"Tapi ini sudah malam, Ka. Kau juga masih belum pulih." Rakis mengingatkan.
"Aku sudah tidak apa-apa, Paman," bantah Deka.
"Memangnya urusan apa, sih, Ka? Sampai kau tidak bisa menundanya?" Dani bertanya lagi.
"Nanti aku ceritakan. Sekarang aku pergi dulu!" Deka buru-buru pergi sebelum Dani dan semua orang kembali bertanya macam-macam dan menahannya.
Starla hanya memandangi kepergian Deka dengan perasaan resah, namun dia tak berani bertanya apalagi melarang lelaki itu, sebab dia sadar dirinya bukan siapa-siapa.
"Anak itu memang keras kepala!" keluh Rakis.
Dani menghela napas panjang, dia tak tahu harus berkomentar apa lagi.
"Tapi perasaan aku tidak enak. Terakhir kali Bang Deka keluar malam, dia pulang dalam keadaan terluka parah," ucap Starla cemas.
Dani dan Rakis tertegun, kemudian saling pandang. Kedua ayah dan anak itu pun jadi merasa khawatir karena perkataan Starla tersebut.
"Semoga dia baik-baik saja," harap Rakis dan diamini oleh Dani dan juga Starla.
__ADS_1
***