Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
41. Mabuk.


__ADS_3

Selesai makan malam, Deka beserta Dani dan Starla berkumpul di ruang tamu. Mereka bercengkerama sembari menikmati camilan yang Dani bawa tadi.


"Jadi tadi kau dan Clarissa ke mana?" tanya Dani.


"Cuma makan malam saja," jawab Deka, sedangkan Starla hanya diam menyimak dengan perasaan sedikit kesal.


Dani memandang penuh selidik, "Masa cuma makan malam saja, kau sampai pulang larut malam?"


"Iya, tadi sebelum pulang singgah di bar temannya Clarissa sebentar," beber Deka.


"Jadi tadi kau ke bar? Pantas saja aku mencium aroma alkohol darimu."


"Aku hanya minum sedikit," bantah Deka.


"Sedikit atau banyak, itu sama saja."


Karena membahas bar, Deka jadi teringat sesuatu yang dia tinggalkan di dalam mobil. Deka pun beranjak dari duduknya.


"Kau mau ke mana?" tanya Dani heran.


"Ada yang mau aku ambil di mobil," sahut Deka kemudian melangkah menuju pintu keluar.


"Bang Deka sering minum alkohol, ya?" bisik Starla.


"Tidak sering, hanya sesekali saja. Memangnya kenapa?"


Starla menggeleng, "Tidak apa-apa, aku cuma bertanya saja."


Wanita itu kembali bergeming dengan lega, dia sempat khawatir jika Deka yang mengidap PTSD sering meminum alkohol.


Tak lama kemudian, Deka kembali sambil menenteng paper bag yang berisikan anggur merah pemberian Vano tadi.


"Apa itu?" tanya Dani penasaran.


"Ini hadiah ulang tahun dari temannya Clarissa," terang Deka sembari meletakkan paper bag itu di hadapan Dani.


Dani yang penasaran pun segera mengintip isi paper bag tersebut.


"Wah, ada anggur merah! Kebetulan sekali, kita bisa berpesta malam ini!" seru Dani sambil mengeluarkan sebotol anggur merah.


"Ini sudah pukul satu dini hari, sebaiknya kita istirahat," cetus Deka.


"Ayolah, Ka! Sekali-kali kita bersenang-senang, mumpung masih bisa."


"Tapi besok kau harus bekerja."


"Besok aku shift siang, jadi aman. Yuk, saatnya berpesta!" ujar Dani semangat.


"Aku ambilkan gelas dulu, Bang." Starla beranjak ke dapur.


Deka mengernyit memandangi wanita itu yang juga terlihat bersemangat.

__ADS_1


Starla balik lagi dengan membawa tiga buah gelas dan meletakkannya di atas meja.


"Kenapa gelasnya tiga?" tanya Deka.


"Kan kita bertiga, jadi gelasnya harus ada tiga," sahut Starla enteng.


"Kau mau minum juga?" Deka bertanya lagi.


"Iyalah, aku kan juga mau ikut berpesta," jawab Starla.


Deka menggeleng, "Tidak-tidak! Kau tidak boleh minum!"


"Memangnya kenapa, Bang?"


"Kau tahu kan ini minuman apa? Tidak baik jika kau minum!"


"Tapi aku ingin mencobanya, aku janji tidak akan banyak," rengek Starla.


"Tidak!" tolak Deka tegas.


"Biarkan dia mencobanya," sela Dani.


"Tapi, Dan ...."


"Ka, sudahlah! Kau tenang saja, dia sudah dewasa," potong Dani, membuat Deka tak jadi melanjutkan kata-katanya.


Deka menghela napas, "Terserahlah!"


Dani membuka botol anggur merah itu lalu menuangkan isinya ke dalam gelas mereka masing-masing.


"Ayo, bersulang!" seru Dani sembari mengangkat gelasnya.


Starla pun ikut mengangkat gelasnya, kecuali Deka yang hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu.


"Ayo, Ka! Bersulang!" ajak Dani.


"Iya, Bang. Sudah lelah ini tangan aku." Starla menimpali.


"Bersulang buat apa?" tanya Deka.


"Buat kebahagiaan kita. Sudah buruan! Pegal ini!" desak Dani.


Deka pun mengalah dan ikut mengangkat gelasnya.


"Cheers!" Seru Dani dan Starla.


Mereka pun menenggak anggur merah itu bersamaan.


"Sudah lama aku tidak minum anggur merah," ujar Dani.


"Aku juga," sahut Starla yang langsung menutup mulutnya saat sadar telah keceplosan.

__ADS_1


Deka dan Dani sontak menatapnya curiga.


"Hem, ma-maksudnya baru kali ini aku minum anggur merah," ralat Starla cepat.


"Oh, aku pikir kau sudah pernah minum sebelumnya," sahut Dani.


Starla tertawa gugup, "Ya belumlah!"


Tapi Deka merasa ada yang aneh, dia masih menatap wanita itu dengan sorot mata tak terbaca.


Dani dan Starla bersenda gurau sambil menikmati anggur merah pemberian Vano itu, sedangkan Deka sendiri hanya memperhatikan wanita itu.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi, Dano dan Starla sudah mabuk, keduanya tergolek di sofa.


Sejak tadi deka sudah melarang Starla untuk minum, tapi Dani selalu membantahnya dan justru mengajak wanita itu kembali bersulang. Deka yang kesal akhirnya membiarkan mereka hingga mabuk seperti sekarang ini.


"Aku tidur dulu, ya. Jangan bangunkan aku," oceh Dani dengan mata terpejam.


Deka hanya geleng-geleng kepala melihat sahabatnya yang sudah mabuk berat itu, lalu beralih memandang Starla yang juga sudah memejamkan mata, dia lantas mendekati wanita itu.


"Ini akibatnya jika kau keras kepala," gerutu Deka.


Dengan hati-hati Deka menarik tubuh Starla dan membantunya untuk duduk, "Kau harus pindah ke kamar."


"Aku mau tidur, kepalaku pusing," rengek Starla dengan mata terpejam


"Makanya jangan berlagak ingin minum kalau tidak pernah," sungut Deka.


"Aku sudah biasa minum saat di Pasific Discotique, kok," ujar Starla tanpa sadar.


Deka terkejut sebab Starla menyebut nama klub malam yang baru saja dia dan Clarissa datangi tadi, mendadak hatinya bertanya-tanya.


Starla kembali menjatuhkan dirinya di sofa, "Aku mau tidur."


"Jangan tidur di sini! Ayo, bangun!" Deka kembali menarik Starla, tapi wanita itu sepertinya sudah tertidur.


"Cckk, aku tidak mungkin membiarkan dia tidur di sini bersama Dani. Aku harus pindahkan dia ke kamar."


Dengan sangat terpaksa Deka mengangkat tubuh Starla dan membawanya ke kamar.


"Kau berat juga," keluh Deka.


Deka membaringkan Starla di atas ranjang, membuat jarak wajah mereka sangat dekat. Deka sempat tertegun, tapi dia segera bergerak menjauh.


Deka kemudian menyelimuti tubuh Starla, wanita itu menggeliat lalu tertidur lagi.


Namun sebelum pergi, Deka memandangi wajah Starla dengan penuh selidik.


"Aku merasa ada yang kau tutupi dariku," gumam Deka.

__ADS_1


***


__ADS_2