Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
20. Terlalu Berlebihan.


__ADS_3

Deka sedang duduk melamun, dia masih galau memikirkan kejadian tadi, hatinya bertanya-tanya siapakah yang sudah mengadu kepada Victor?


Dia tidak bisa percaya begitu saja jika Rakis orangnya, sebab dia tahu lelaki yang sudah dia anggap seperti ayahnya itu tidak mungkin ingin menusuknya dari belakang.


Rupanya dari kejauhan Rakis melihat Deka duduk termenung, dia pun menghampiri Deka dan duduk di samping lelaki itu.


"Kau tidak makan siang?" tanya Rakis heran, seharusnya saat ini Deka makan siang bersama karyawan lain, karena ini sudah jam istirahat.


"Sebentar lagi, Paman," jawab Deka, jantungnya berdegup kencang, dia sebenarnya ingin menanyakan langsung kecurigaannya terhadap Rakis, tapi dia takut lelaki paruh baya itu tersinggung.


"Tapi waktu makan siang sudah hampir habis, lagi pula tidak baik menunda-nunda makan, nanti kau bisa sakit," kata Rakis penuh perhatian.


Deka menunduk, dia berusaha menahan diri, "Iya, Paman. Sebentar lagi aku makan."


Rupanya Rakis menyadari kegalauan hati Deka, dia memegang pundak Deka dan memandang wajah sahabat putranya itu.


"Ada apa? Sepertinya kau lagi ada masalah?" tebak Rakis.


Deka mengangkat kepalanya dan menatap mata tua Rakis, dia semakin merasa galau.


"Deka, cerita pada Paman kalau kau ada masalah! Siapa tahu Paman bisa bantu, atau paling tidak dengan berbagi, bisa sedikit mengurangi beban hatimu," lanjut Rakis.


Deka memaksakan senyuman, "Tidak ada apa-apa, Paman. Tidak ada masalah, kok."


"Lalu kenapa kau terlihat murung dan galau?"


"Aku hanya lelah dan kurang tidur saja, jadi terlihat lesu," kilah Deka.


"Memangnya kau ngapain sampai kelelahan dan kurang tidur?" tanya Rakis penasaran.


"Mendengarkan curahan hati putra Paman, semalam dia menyita waktu istirahatku," sahut Deka dengan nada seloroh.


"Dasar pengangguran tidak tahu diri! Paman akan marahi dia agar tidak menggangu waktu istirahatmu lagi," kesal Rakis.


"Tidak usah, Paman. Aku tidak keberatan kok mendengarkan curahan hatinya," bantah Deka.

__ADS_1


"Kau jangan terlalu meladeninya! Dia itu pengangguran, sedangkan kau harus bekerja. Kalau dia datang, kau usir saja!"


Deka pun kembali memaksakan senyuman, "Iya, Paman."


"Ya sudah, Paman mau ke kamar mandi dulu. Kamu makan sana! Nanti masuk angin!" ujar Rakis sambil beranjak dari sisi Deka.


Deka mengangguk dua kali, "Baik, Paman."


Rakis pun melenggang pergi meninggalkan Deka.


"Aku yakin bukan Paman Rakis yang mengadu pada Tuan Victor. Lalu siapa?" Deka masih bertanya-tanya sembari memandangi punggung Rakis yang kian menjauh.


***


Sore harinya, Deka pun pulang ke rumah, namun begitu melangkah masuk, dia terkejut saat melihat Starla sedang duduk di sofa sambil menangis terisak-isak.


Deka berjalan mendekati wanita itu dan menegurnya, "Kau kenapa?"


Starla sontak menoleh ke arah Deka dan buru-buru mengusap air matanya, "Eh, Abang sudah pulang."


"Aku sedih, Bang. Ibunya meninggal dunia dan dia diusir dari rumahnya," jawab Starla.


Deka mengernyit heran, "Dia siapa?"


"Annisa," sahut Starla sambil menunjuk layar televisi yang sedang menayangkan sinetron ala ikan terbang.


Deka tercengang, "Kau menangis hanya karena menonton televisi?"


"Kisahnya sedih, Bang. Aku jadi terbawa suasana."


Deka mengembuskan napas sembari geleng-geleng kepala, "Kau terlalu berlebihan!"


Deka pun melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga, meninggalkan Starla yang wajahnya berubah masam.


"Dasar lelaki tidak punya perasaan, tidak peka! Huu!" Starla menggerutu pelan.

__ADS_1


Di lantai dua, saat hendak membuka pintu kamarnya, Deka menyadari jika jendela yang biasanya tertutup kini terbuka lebar.


"Kenapa jendelanya bisa terbuka?" Deka mendekati jendela itu dan memeriksa sekelilingnya.


"Tidak ada tanda-tanda dibuka paksa, apa jangan-jangan ini kerjaan Starla?"


Deka kembali menuruni anak tangga dan menghampiri Starla.


"Apa tadi kau ke lantai atas?" tanya Deka tanpa basa-basi.


Starla mengangguk, "Iya, Bang."


"Ngapain?"


"Membersihkan lantai atas lah. Sumpah, debunya banyak sekali! Kalau tidak aku bersihkan, bisa-bisa rumah Abang tertimbun debu," ujar Starla penuh drama.


"Jadi kau yang membuka jendelanya?"


"Iyalah, habis pengap dan tidak ada cahaya masuk, lagian biar debu-debu nya terbang keluar, makanya aku buka."


"Apa kau juga masuk ke kamarku?"


Starla menggeleng cepat, "Tidak! Aku mana berani masuk kalau Abang sudah melarangnya, lagian aku juga tidak tahu kamar Abang yang mana."


Deka menghela napas lega, dia takut Starla masuk ke kamarnya dan menemukan sesuatu yang tidak seharusnya wanita itu ketahui.


"Baguslah kalau kau menurut, dan jangan coba-coba melanggarnya."


"Iya, tenang saja! Aku ini penurut, kok!" balas Starla kesal.


Deka tak membalas kata-kata Starla, dia kembali menaiki anak tangga dan meninggalkan wanita itu begitu saja.


"Dia yang terlalu berlebihan! Memang di dalam kamarnya ada apaan, sih? Sampai segitunya dia takut orang lain masuk," Starla kembali menggerutu.


***

__ADS_1


__ADS_2