Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
105. Akhir Dari Segalanya.


__ADS_3

Tak ingin membuang waktu, Dani dan Rakis bergegas membawa Deka ke rumah sakit. Rakis yang mengemudikan mobil Deka, sementara Dani memangku sahabatnya itu di jok belakang.


"Bertahanlah, Ka! Sebentar lagi kita sampai."


Deka yang sudah mulai kesulitan bernapas menarik tangan Dani, "Aku sudah tidak tahan lagi, Dan."


Dani menggeleng, air matanya dengan cepat jatuh menetes, "Tidak, kau pasti bisa bertahan! Kau harus tetap hidup demi Starla!"


Deka bergeming dengan napas yang sesak.


"Aku minta maaf, Dan," ucap Deka kemudian, dia semakin lemah.


"Iya, sudah lupakan. Aku sudah ikhlas," jawab Dani.


"Titip Starla, jaga dia," pinta Deka lirih, setetes cairan bening jatuh dari matanya.


"Tidak, aku tidak mau! Kau harus menjaganya sendiri!" Dani mulai terisak-isak.


"Berjanjilah kau akan menjaganya untukku!" Deka berbicara dengan tersengal-sengal, dadanya terasa kian sakit sekali, seperti ada sesuatu yang ingin tercabut keluar.


Rakis hanya melirik dari spion tengah, dia cemas dan takut Deka tak bisa selamat.


"Dan, aku mohon." Deka menggenggam erat tangan sahabatnya itu.

__ADS_1


Dani akhirnya mengangguk sambil menangis tersedu-sedu.


"Terima kasih." Deka mencoba tersenyum setelah mengatakan itu, walaupun air matanya kembali jatuh menetes.


Tapi tiba-tiba tatapan mata Deka berubah kosong, dia menarik napas panjang sembari menggenggam tangan Dani dengan semakin kuat.


Melihat hal itu, Dani bertambah panik dan ketakutan, "Deka! Kau kenapa, Ka? Aku mohon bertahanlah!"


Rakis yang juga panik menambah kecepatan mobil yang dia kendarai itu agar segera tiba di rumah sakit yang jaraknya sudah dekat.


Deka pun mengembuskan napasnya lalu memejamkan mata, genggamnya di tangan Dani pun mulai melemah dan tangannya terkulai lemas.


"Deka bangun!" Dani mengguncang tubuh Deka, tapi pria itu tak merespon sama sekali.


"Aku mohon jangan tinggalkan aku, Ka!" jerit Dani histeris sambil memeluk tubuh Deka yang berlumuran darah, dia menangis dengan begitu pilu.


***


Starla dan Reyhan berlari memasuki halaman belakang rumah sakit, tadi Dani menghubunginya menggunakan nomor asing dan mengabarkan apa yang terjadi pada Deka. Sejak tadi dia tak berhenti menangis.


"Bang Dani!" seru Starla saat melihat Dani duduk tertunduk di depan kamar jenazah bersama Rakis. Mereka memang sedang menunggunya.


Dani mengangkat kepala dan menatap Starla dengan mata yang basah dan sembab, raut wajahnya penuh duka.

__ADS_1


"Aku ingin melihat Bang Deka," ujar Starla sambil terisak-isak.


Dani mengangguk lalu beranjak masuk ke dalam kamar jenazah yang dingin dan sunyi itu, Starla serta Reyhan pun mengikutinya.


Tubuh Starla seketika lemas melihat seseorang yang tertutup kain putih sedang terbaring tak bergerak, dengan tangan gemetar dia membuka kain putih itu. Tangisnya langsung pecah begitu memandang wajah Deka yang kini sudah pucat pasi dengan mata yang tertutup rapat.


"Abang, kenapa Abang pergi meninggalkan aku?" lirih Starla, dia memeluk tubuh Deka yang sudah terbujur kaku.


Reyhan hendak mendekati Starla dan menenangkannya, tapi urung saat Dani lebih dulu merangkul dan mengusap pundak wanita itu.


"Yang sabar, ikhlaskan kepergiannya." Dani berbicara sambil terisak-isak, dia tak pernah menyangka jika sahabatnya itu akan pergi secepat ini. Baru saja mereka bertemu kemarin dan dia pasti sudah melukai perasaan Deka, seketika rasa bersalah dan penyesalan memenuhi hati Dani.


"Abang."


Stara tak bisa berkata-kata lagi selain memanggil kekasihnya itu, hatinya sakit dan hancur menerima kenyataan pahit ini. Semalam dia masih memeluk dan mendengar suara Deka, tapi dalam sekejap semuanya hilang. Tak ada lagi wajah tampan yang selalu terlihat datar dan dingin itu, tak ada sorot mata tajam dan kecupan penuh cinta dari sang kekasih. Baru saja mereka mulai bahagia, namun kematian justru datang memisahkan. Kini lenyap sudah impian masa depan yang mereka rangkai, tak ada lagi Deka yang berjanji akan menikahinya.


"Maafkan aku, Bang. Maaf." Starla juga merasa bersalah karena sempat berbicara kasar dan tak mempercayai Deka, dia menyesal telah lengah dan membiarkan kekasihnya itu diam-diam pergi.


"Istirahat lah yang tenang. Aku mencintai Abang." Starla mengelus pipi Deka yang mulai kaku dan dingin, lalu mengecup kening kekasihnya itu dengan air mata berlinang.


Inilah akhir dari kisah Deka, dendam yang dia simpan selama dua puluh tahun kini sudah terbalaskan bersama kematiannya. Semua sudah berakhir, dan hanya meninggalkan duka serta penyesalan yang mendalam. Selamat jalan Pandeka Langit.


...❤️ TAMAT ❤️...

__ADS_1


...Terima kasih sudah setia mengikuti cerita ini sampai selesai, walaupun sad ending, tapi aku harap kalian tidak kecewa....


...Semoga dari kisah ini kita mendapatkan pelajaran, jangan menyimpan dendam dan hiduplah dengan damai.☺️...


__ADS_2