
Deka berangkat ke pabrik dengan tidak bersemangat, wajahnya terlihat lelah karena semalam tidak tidur. Sehabis memindahkan Starla ke kamar, dia masih harus memikirkan cara untuk melenyapkan Julio Winata.
Sekarang dia tengah berhadapan dengan Victor yang memanggilnya tadi.
"Bagaimana, kau sudah menemukan cara untuk melenyapkan orang yang bernama Julio Winata itu?" tanya Victor.
"Sudah, Tuan. Nanti malam aku akan segera menghabisinya," jawab Deka yakin.
"Bagus, aku percaya kau bisa diandalkan," puji Victor sambil tertawa.
Bima yang berdiri di samping Victor hanya menatap sinis Deka, sorot matanya dipenuhi kebencian terhadap lelaki itu.
"Kalau begitu kau boleh pergi."
"Baik, Tuan. Aku permisi." Deka mengangguk dan hendak pergi dari ruangan Victor, tapi lelaki menahannya.
"Tunggu! Aku lupa mengucapkan selamat ulang tahun."
"Tidak apa-apa, Tuan."
"Nanti aku akan mentransfer bonus untuk hadiah ulang tahunmu."
Bima melirik sinis, dia semakin merasa iri dengan Deka.
Deka mengangguk, "Terima kasih, Tuan."
"Ya sudah, pergilah!"
"Permisi, Tuan." Deka pun meninggalkan ruangan bos-nya itu.
"Dia memang algojo terhebat yang aku miliki," ujar Victor.
"Iya, mudah-mudahan kali ini dia tidak gagal," sela Bima.
"Dia pasti berhasil," sahut Victor yakin.
"Kita lihat saja nanti," batin Victor sembari menyeringai licik.
Deka mendatangi Rakis yang sedang memantau para karyawan pabrik.
"Paman," tegur Deka.
"Eh, Deka. Selamat ulang tahun, ya!" Rakis langsung memeluknya.
"Terima kasih, Paman."
Rakis melepaskan pelukannya, "Apa tadi malam anak nakal itu menginap di rumah mu?"
Deka mengangguk, "Iya, Paman."
__ADS_1
"Syukurlah, Paman pikir dia kelayapan ke mana-mana, soalnya Paman telepon dia tidak angkat," keluh Rakis.
"Dia bersamaku, kok." Deka tak mau mengatakan jika Dani mabuk.
"Oh iya, ada apa kau menemui Paman?"
"Aku ingin mengatakan jika aku sudah mengetahui penyebab bandar-bandar kecil itu berhenti memesan barang dari kita," beber Deka.
"Benarkah? Coba ceritakan pada Paman!"
Deka pun menceritakan informasi apa yang dia dapatkan dari Gepeng dan Amir.
"Persis seperti dugaan Paman, mereka pasti memesan barang dari orang lain."
"Iya, Paman. Orang yang bernama Julio Winata itu berani memberikan harga di bawah harga kita, dan para distributornya gencar mencari pelanggan," terang Deka.
"Dan yang membuat aku heran, kenapa Hendri Wang mengutus anak buahnya untuk bertransaksi langsung dengan Julio Winata, bukankah biasanya barang-barang pesanannya dikirim melalui pelabuhan?" lanjut Deka.
"Iya juga, ini pasti ada sesuatu."
"Makanya aku sedang cari tahu, Paman."
"Jadi bagaimana dengan Tuan Victor? Apa yang akan dia lakukan?" cecar Rakis.
"Tentu saja dia marah, dan seperti biasa dia memintaku untuk melenyapkan orang yang bernama Julio itu."
"Tentu, Paman. Nanti malam aku akan melenyapkannya," ujar Deka.
Wajah Rakis berubah sendu, dia mendadak resah, "Ka, sampai kapan kau akan terus jadi algojo seperti ini? Pekerjaan ini sangat berbahaya untukmu, bagaimana kalau kau terluka atau tertangkap polisi?"
"Ini sudah tugasku, Paman. Apa pun resikonya, akan aku hadapi."
"Tapi Paman mencemaskan mu, Ka. Paman takut terjadi sesuatu padamu," imbuh Rakis.
"Paman jangan cemas, aku pasti akan baik-baik saja," bantah Deka.
Rakis mengembuskan napas pasrah, lalu menepuk pundak Deka dua kali, "Berhati-hatilah!"
"Iya, Paman."
***
Starla mulai terbangun, dia membuka mata perlahan, berusaha memfokuskan pandangan sebab sedikit silau karena cahaya mentari yang masuk dari jendela kamar. Starla bangkit sambil memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.
"Kepalaku rasanya berat sekali," keluh Starla.
Starla kemudian meraba ponselnya di bawah bantal tapi tidak dia temukan.
"Ponselku mana?"
__ADS_1
Dengan perlahan Starla turun dari ranjang dan mencari-cari benda pipih itu di setiap sudut kamar, tapi tidak dia temukan.
"Tidak ada. Ke mana, ya?" Starla mulai bingung, dia pun berusaha mengingat kapan terakhir kali memegang ponselnya.
Samar-samar Starla mengingatnya dan bergegas keluar kamar dengan sempoyongan.
Starla terkesiap saat melihat Dani sudah duduk di meja makan sambil menyantap mie instan, "Bang Dani?"
"Eh, kau sudah bangun rupanya. Makan, yuk!"
"Iya, nanti saja," balas Starla, dia lalu celingukan, "Bang Deka mana?"
"Deka sudah berangkat kerja," jawab Dani.
Starla terkejut, "Haa! Sudah berangkat? Memangnya ini jam berapa?"
"Jam sebelas siang."
"Astaga, aku kesiangan bangun! Jadi Bang Deka sarapan apa?" Starla mendadak panik dan cemas.
"Deka sudah dewasa, dia pasti bisa mencari sarapan di luar," sahut Dani santai.
"Iya, tapi itu kan tugasku menyediakan sarapan buat Bang Deka. Aku jadi tidak enak."
"Tidak apa-apa, Deka maklum, kok! Sekarang sebaiknya kau makan, nanti masuk angin."
"Iya, Bang. Aku mau cari ponselku dulu," Starla berjalan ke ruang tamu dengan tergesa-gesa.
"Ponselmu ada di meja," pekik Dani.
Starla lega karena benda yang dia cari ada di atas meja seperti yang Dani katakan, tapi dia menghela napas panjang saat menyadari ruang tamu yang berantakan bekas pesta mereka semalam.
"Cckk, aku akan membereskan nya setelah makan." Starla bergegas ke dapur untuk menyiapkan makanan.
"Ketemu ponselnya?" tanya Dani.
"Ketemu, Bang," sahut Starla sembari memasukkan mie ke dalam air yang mendidih.
"Kepalaku masih pusing sekali, aku jadi malas bekerja hari ini," keluh Dani.
"Sama, kepalaku juga masih pusing."
"Berarti semalam kita sama-sama mabuk berat, tapi kau hebat masih bisa berjalan ke kamar, sedangkan aku sudah tepar dan tak tahu apa-apa lagi."
Starla termangu, dia mencoba mengingat kejadian semalam tapi sulit sekali.
"Apa benar aku berjalan sendiri ke kamar?" batin Starla, dia tak yakin jika semalam dia benar-benar berjalan ke kamar sendiri dalam keadaan mabuk berat.
***
__ADS_1