
"Aku berangkat kerja dulu," ucap Deka setelah mengecup singkat bibir Starla.
"Iya, Bang."
"Ingat pesan aku, kunci semua pintu dan jangan keluar rumah! Kalau ada ap ...."
"Apa-apa cepat hubungi Abang," sambung Starla cepat sebelum Deka selesai bicara.
Deka tersenyum dan mencubit gemas hidung mancung Starla, "Anak pintar!"
Starla merengut sambil mengusap hidungnya yang merah.
"Aku pergi, ya?"
Starla mengangguk, "Abang hati-hati, cepat pulang!"
"Iya."
Deka bergegas masuk ke dalam mobilnya dan melesat pergi, sepertinya dia akan terlambat hari ini. Sebenarnya tadi dia ingin cuti, entah mengapa hari ini dia malas ke mana-mana, tapi Starla melarangnya dan memaksa ia untuk bekerja. Mau tak mau Deka pun pergi ke pabrik.
Setelah mobil Deka menjauh, Starla pun masuk ke dalam rumah dengan sedikit tertatih sebab daerah intinya masih terasa sakit karena pergulatan panas tadi malam.
Starla menjatuhkan tubuhnya di atas sofa lalu menyalakan televisi, hari ini dia malas ngapa-ngapain, dia ingin bersantai sambil menonton drama kesukaannya. Namun tiba-tiba pintu rumah diketuk dari luar, cepat Starla menoleh dengan gelisah.
"Siapa itu?" Starla mendadak takut.
Di saat bersamaan, ponselnya berbunyi. Starla beranjak dan mengambil telepon genggamnya yang berada di meja makan, dia mengira mungkin itu Deka.
__ADS_1
"Reyhan?" ucap Starla saat melihat sebuah pesan dari teman kecilnya itu.
Dengan sedikit penasaran, Starla membuka pesan tersebut. Karena sejak telepon Reyhan terputus tempo hari, dia sedikit cemas dengan lelaki itu.
"STARLA, BUKA PINTUNYA! AKU ADA DI DEPAN RUMAHMU."
Starla mengerutkan keningnya, "Reyhan ada di luar? Dari mana dia tahu rumah ini?"
Ponsel Starla berbunyi lagi, sebuah pesan dari nomor yang sama kembali masuk.
"CEPAT BUKA! ADA HAL PENTING YANG MAU AKU KATAKAN."
Starla akhirnya melangkah ke pintu lalu membukanya. Mata Starla seketika membulat sempurna dengan mulut ternganga saat dia melihat empat orang pria berbadan kekar dan berpakaian serba hitam sudah berdiri di depan pintu rumah Deka.
Baik Deka maupun Starla tak menyadari jika sejak tadi keempat pria itu mengintai tempat tinggal mereka. Setelah memastikan Deka sudah pergi, pria-pria tersebut mengirim pesan dari ponsel Reyhan untuk memancing Starla keluar.
Karena tenaganya kalah kuat, Starla pun terdorong hingga nyaris jatuh dan pintu terbuka lebar. Pria-pria yang merupakan bodyguard Jhon Kotto itu segera meringsek masuk tanpa permisi.
"Pergi kalian!" bentak Starla, dia hendak kabur ke dalam sambil mengotak-atik ponsel untuk menghubungi Deka, tapi salah seorang dari mereka berhasil menarik rambutnya dengan kuat dan langsung menutup hidungnya dengan sapu tangan yang sudah diteteskan obat bius.
Tak butuh waktu lama, tubuh Starla lemas dan dia tak sadarkan diri. Ponsel di tangannya pun jatuh ke lantai.
"Cepat bawa dia!" pinta salah satu bodyguard tersebut.
Dua orang bodyguard lain mengangkat tubuh Starla yang tak berdaya dan membawanya masuk ke dalam mobil, lalu mereka buru-buru pergi dari rumah Deka.
Di dalam mobil, salah satu dari bodyguard tersebut menghubungi Jhon Kotto.
__ADS_1
"Halo, Tuan."
"Bagaimana?"
"Kami sudah berhasil menangkap Nona Starla, Tuan," adu bodyguard itu bangga.
"Bagus! Segera bawa dia ke sini!"
"Iya, ini kami sudah diperjalanan," sahutnya.
Jhon Kotto mematikan teleponnya sepihak.
Di tempat berbeda, Jhon Kotto tersenyum licik sambil menatap Reyhan yang meringkuk lemas dengan wajah penuh luka.
"Ternyata dia begitu percaya padamu. Seharusnya aku menggunakan cara ini sejak dulu," ujar Jhon Kotto sinis.
"Li ... cik!" umpat Reyhan terbata.
Jhon Kotto langsung menghadiahkan sebuah tendangan ke wajah Reyhan, darah kembali keluar dari luka di hidung Reyhan yang patah.
"Tutup mulutmu atau aku akan merobeknya!" ancam Jhon Kotto yang marah mendengar umpatan mantan orang kepercayaannya itu.
Reyhan yang sudah tak berdaya hanya memejamkan mata, dia tahu jika Jhon Kotto menggunakan ponselnya untuk menjebak Starla agar mau keluar.
Reyhan pun menjadi sangat gelisah dan cemas pada nasib teman kecilnya tersebut.
***
__ADS_1