
Hari sudah hampir gelap, Deka pulang dengan wajah sumringah, sejak tadi dia sangat merindukan Starla.
Namum rasa kesal seketika melandanya saat melihat pintu rumah tidak tertutup rapat, bukankah dia sudah memperingatkan Starla untuk mengunci semua pintu dan jendela, tapi kenapa wanita itu tidak mendengarkannya?
Deka mendorong pintu itu dan melangkah masuk, namun dia terkesiap saat melihat ponsel Starla tergeletak di lantai dan nyaris terinjak olehnya.
"Ini kan ponsel Starla, kenapa bisa ada di sini?" Hati Deka mendadak cemas dan gelisah.
Dia memungut benda pipih itu kemudian melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah.
"Starla!" teriak Deka mencoba memanggil kekasihnya itu, berharap dia muncul dari dapur dan menghapus kecemasannya.
Namun rumah itu hening, hanya terdengar suara Deka dan derap langkah kakinya. Perasaan Deka mulia tidak enak, dengan langkah yang lebar dia bergegas ke kamar Starla dan membuka pintu, tapi tidak ada siapa-siapa di dalam.
"Apa dia di atas?" Deka langsung berlari menaiki anak tangga, dia mencari Starla di kamarnya dan di setiap sudut rumah, tapi wanita itu seperti hilang ditelan bumi.
"Jangan-jangan dia diculik, berengsek!" umpat Deka geram.
Deka mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi Dani sambil berjalan menuju mobilnya. Dia harus menyelamatkan Starla.
Sementara itu di dalam ruangan bercahaya seadanya tempat dia disekap, Starla tak henti-hentinya menangis, dia kalut sekaligus takut membayangkan jika sebentar lagi dia akan menikahi Datuk Ramzi yang sudah bau tanah itu. Sudah jelas dia pasti berpisah dari Deka dan hidupnya akan tersiksa seumur hidup, rasanya dia ingin sekali mati saat ini juga.
Namun rupanya kesadaran Reyhan mulai kembali, samar-samar dia mendengar isak tangis Starla yang terdengar begitu pilu di telinganya. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Reyhan mencoba membuka mata, pandangannya sedikit kabur tapi dia yakin wanita yang duduk di hadapannya adalah Starla.
__ADS_1
"Starla," ucap Reyhan pelan.
Starla sontak memandang ke arah Reyhan yang tergolek lemas di hadapannya, "Reyhan! Kau sudah sadar? Bagaimana keadaanmu?"
"Tidak terlalu baik," jawab Reyhan sembari meringis menahan sakit disekujur tubuhnya.
"Aku minta maaf, Rey. Karena aku, kau jadi dipukuli seperti ini." Air mata Starla kembali jatuh menetes.
"Tidak, ini bukan salahmu."
"Tapi kau seperti ini karena membantuku, Reyhan! Aku jadi merasa bersalah," sesal Starla.
"Sudahlah, jangan merasa bersalah!"
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, membuat Starla dan Reyhan terkejut. Dua orang bodyguard masuk dan bergegas melepaskan ikatan di tubuh Starla.
"Tuan meminta kami membawa nona ke kamar, perias pengantinnya sudah datang," sahut salah seorang bodyguard itu.
Starla sontak berontak, "Tidak! Aku tidak mau menikah! Tolong lepaskan aku!"
Dua bodyguard itu tak menggubris permohonan Starla seolah mereka tak punya perasaan. Bahkan setelah melepas ikatan Starla, keduanya langsung mencengkeram kuat lengan wanita itu.
Reyhan yang melihat itu berusaha bangkit dengan susah payah, "Lepaskan dia! Aku mohon!"
__ADS_1
"Diam lah! Jangan sampai kami memukuli mu lagi!" bentak seorang bodyguard pada Reyhan.
"Aku tidak takut!" tantang Reyhan.
Bugh!
Bodyguard itu langsung menendang perut Reyhan dengan kuat, hingga membuatnya meringkuk sambil merintih kesakitan.
Starla yang melihat itu sontak menjerit histeris, "Reyhan!"
Dia lalu memutar kepalanya menghadap bodyguard yang menendang Reyhan tadi dan meludahi wajahnya.
"Jangan sakiti dia, berengsek!" umpat Starla.
Bodyguard tersebut mengusap ludah Starla di wajahnya dengan perasaan geram, namun dia tetap berusaha menahan diri agar tidak lepas kontrol.
"Bawa dia!"
Kedua bodyguard tersebut membawa Starla keluar dari ruangan itu, lalu menutup dan mengunci kembali pintunya, membiarkan Reyhan terkurung di dalam sana seorang diri.
Reyhan semakin gusar dan cemas memikirkan nasib Starla, dia kesal pada dirinya sendiri karena tak bisa menyelamatkan teman kecilnya itu.
"Lepaskan aku! Lepas!"
__ADS_1
Sepanjang jalan menuju kamarnya, Starla terus saja berteriak dan memberontak, tapi dua bodyguard itu sama sekali tak peduli. Mereka terus saja menyeret Starla sesuai perintah bos mereka.
***