Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
78. Diikuti.


__ADS_3

Reyhan terkulai lemas di lantai, terdapat lebam di wajahnya, sudut bibirnya juga berdarah. Di sampingnya berdiri pria berambut putih dan dua orang bodyguard.


"Sejak kecil aku merawat dan menghidupi sampai sebesar ini, tak ku sangka kau tega mengkhianati aku dan bersekongkol dengan Starla juga lelaki itu." Pria berambut putih itu berbicara dengan sorot mata penuh amarah.


Tadi dia tak sengaja mendengar Reyhan sedang berbicara dengan Starla, darahnya naik saat tahu jika orang yang begitu dia percaya ternyata berkhianat di belakangnya.


"A-aku minta maaf, Pak. Aku hanya ingin membantu Starla," ucap Reyhan dengan suara bergetar.


"Oh, kau mau sok jadi pahlawan rupanya? Apa yang kau dapat dengan membantunya, haa!" bentak pria itu sambil menendang perut Reyhan.


Reyhan hanya bisa merintih kesakitan, dia meringkuk memegangi perutnya.


"Kau tahu kan apa akibatnya jika berani menentang Jhon Kotto?" Pria berambut putih yang ternyata bernama Jhon Kotto itu menatap tajam Reyhan.


Reyhan hanya bergeming menelan ludah dengan tubuh yang gemetar, habislah dia kali ini. Pasalnya dia tahu orang seperti apa lelaki di hadapannya ini.


"Jawab!" bentak Jhon Kotto, dia kembali menendang wajah Reyhan sehingga lelaki pingsan dengan hidung yang mengeluarkan darah.


"Dasar payah!" umpat Jhon Kotto, kemudian berbalik menatap dua orang bodyguard yang berdiri di belakangnya, "bawa dia ke gudang, dan ikat dia! Aku akan pikirkan hukuman apa yang pantas untuk pengkhianat ini."


Kedua bodyguard itu mengangguk patuh lalu bergegas menyeret tubuh Reyhan yang tidak berdaya.


Jhon Kotto lantas menghubungi seseorang yang dia utus untuk memantau dan mengikuti Dani.


***


Deka tercengang saat melihat rumah Dani dan Rakis sudah tinggal puing-puing hitam, kobaran api sudah tak terlihat, hanya menyisakan asap dari sisa-sisa pembakaran. Deka mencari keberadaan Dani dan Rakis di antara kerumunan orang-orang yang menonton peristiwa kebakaran itu, dia tak mengetahui jika ponselnya yang tertinggal di mobil bergetar sebab Starla menelepon.

__ADS_1


Deka menemukan Dani sedang berdiri menatap nanar rumahnya yang sudah habis dilahap si jago merah, hatinya begitu pilu melihat semua ini.


"Apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini?" tanya Deka.


Dani yang terkejut dengan kehadiran sahabatnya itu sontak menoleh, "Kami juga tidak tahu, Ka. Kata tetangga yang memberi kabar tadi, tiba-tiba api membesar dan langsung membakar rumah kami. Diduga mungkin karena korsleting listrik."


"Apa tidak ada yang bisa diselamatkan?"


Dani menggeleng dengan lesu, "Tidak ada, Ka. Kami tiba di sini, api sudah membesar dan tidak mungkin bisa masuk ke dalam lagi."


Deka mengembuskan napas berat, dia sungguh prihatin atas apa yang terjadi.


"Jadi sekarang bagaimana?"


"Entahlah, aku juga tidak tahu," sahut Dani.


"Itu di sana, dia sedang bicara dengan polisi." Dani menunjuk ke arah Rakis yang sedang mengobrol dengan beberapa orang pria berseragam coklat.


Deka memutuskan untuk tetap bersama Dani, dia malas bertemu dengan polisi.


***


Deka mengajak Dani dan Rakis kembali ke rumahnya. Di dalam mobil, Dani yang duduk di kursi belakang sedikit penasaran dengan tas yang ada di dalam mobil Deka.


"Ini apa, Ka?" tanya Dani penasaran, Rakis pun menoleh ke belakang.


"Bukalah!" pinta Deka.

__ADS_1


Dani membuka resleting tas itu dan sontak melotot saat melihat isinya, "Ini uang siapa? Banyak sekali!"


"Itu untuk kalian, ambillah!" ujar Deka.


"Kau serius, Ka? Ini jumlahnya pasti banyak sekali." Dani memastikan sebab tak percaya.


Deka mengangguk, "Iya, aku serius. Belilah rumah baru."


"Tapi dari mana kau mendapatkan uang sebanyak itu?" tanya Rakis curiga.


Deka menceritakan semuanya pada Rakis juga Dani, kedua ayah dan anak itu terkejut minta ampun.


"Ya Tuhan, jadi Bima orang yang sudah mengkhianati Tuan Victor? Nekat sekali dia," ucap Rakis tak menyangka.


"Tapi dia sudah mendapatkan balasannya, bahkan sangat mengerikan," jawab Deka yang kembali teringat dengan penyiksaan Bima tadi.


"Ternyata tuan Victor itu psikopat, ya?" Dani berkomentar.


Deka kembali mengangguk, "Hem, dia lebih sadis dari aku."


"Tapi kau juga harus berhati-hati, Ka! Paman takut suatu saat kau tertangkap polisi atau terluka seperti waktu itu," sambung Rakis cemas.


Deka tersenyum, "Iya, Paman tenang saja! Aku bisa jaga diri, kok!"


Rakis hanya menatap Deka, dia tak bisa menutupi raut kecemasan di wajahnya.


Mobil Deka pun melaju dengan kecepatan tinggi di jalanan kota yang sudah sunyi, tanpa mereka sadari seseorang sejak tadi mengikuti dari jarak aman.

__ADS_1


***


__ADS_2