
Clarissa menarik Deka pergi dari toko pakaian itu setelah membelikan sebuah kemeja berwarna maroon untuk lelaki itu, mereka menyusuri jejeran toko yang menjual berbagai barang sambil bergandengan.
"Kau mau hadiah apa?" tanya Clarissa tiba-tiba.
"Hadiah?"
"Iya, besok kan kau ulang tahun, jadi kau mau hadiah apa dariku?"
Deka termangu, dia sendiri lupa hari kelahirannya, tapi Clarissa justru ingat.
"Jangan-jangan kalau kau lupa?" tebak Clarissa.
"Iya, aku tidak pernah ingat hari ulang tahunku."
"Ya ampun, Deka! Jangan bilang selama aku tidak di sini, kau melewatkan ulang tahunmu begitu saja?"
"Tidak juga, Dani selalu mengingatkanku, dia membelikan makanan dan kami merayakannya bersama, walaupun terkadang telat. Tapi aku justru tidak pernah ingat ulang tahunnya," ujar Deka.
Clarissa mengernyitkan keningnya, "Dani anaknya mandor pabrik Papa itu, kan?"
Deka mengangguk.
"Bagaimana kabarnya sekarang?" Clarissa memastikan, dia tahu Deka dan Dani juga berteman sejak kecil, meskipun dia tidak terlalu dekat dengan Dani karena mereka jarang bertemu.
"Dia baik-baik saja," jawab Deka.
"Kalau begitu besok kita rayakan bersama Dani juga," cetus Clarissa.
"Tidak usah, aku tidak mau merepotkan kalian," tolak Deka sungkan.
"Tidak ada yang direpotkan, kok! Kau tenang saja. Sekarang katakan kau mau hadiah apa dariku?"
Deka menggeleng, "Aku tidak mau apa-apa!"
"Masa, sih? Memangnya tidak ada barang atau apa pun yang kau inginkan?"
"Tidak."
"Gimana kalau mobil?"
"Mobilku masih bagus!" jawab Deka.
"Ganti dengan keluaran terbaru saja! Biar lebih keren."
"Sekarang saja sudah keren, kalau makin keren nanti aku bisa dikerumuni wanita se-kota Batam," seloroh Deka.
__ADS_1
Wajah Clarissa berubah masam, "Kau ini selalu saja menyebalkan!"
"Tapi juga ngangenin," sambung Deka.
Senyum langsung tersungging di bibir Clarissa, dia kembali menggandeng lengan Deka dan menyeret lelaki melanjutkan langkahnya.
Clarissa berulang kali menawarkan berbagai barang mahal dan bermerek pada Deka, tapi lelaki itu selalu menolak, membuat Clarissa kesal tapi tetap tak ingin menyerah.
Sampai tibalah mereka di depan sebuah toko yang menjual beraneka macam ponsel dengan berbagai tipe dan merek, Deka tiba-tiba teringat pada Starla. Dengan langkah yang pasti, dia bergegas masuk ke dalam toko itu.
"Mau ngapain, Ka? Kau mau ganti ponsel?" tanya Clarissa bingung.
"Tidak, aku mau belikan ponsel buat orang yang bekerja di rumahku."
"Orang yang bekerja di rumahmu? Maksudnya pembantu?"
Belum sempat Deka menjawab, seorang wanita yang merupakan karyawan toko datang menghampiri mereka, "Mau cari apa? Ada yang bisa saya bantu, Bang?"
"Saya mau lihat ponsel yang ini!" Deka menunjuk salah satu ponsel pintar keluar terbaru dengan merek ternama.
Karyawan toko itu mengambil ponsel yang Deka tunjuk itu dan menjelaskan semua fiturnya dengan rinci.
"Ya sudah, aku ambil yang ini. Sekalian dengan kartu provider nya." Deka lantas mengeluarkan kartu kredit dan memberikannya pada karyawan toko itu.
"Baik, Bang."
"Biar dia gampang dihubungi," sahut Deka.
"Memangnya dia tidak punya ponsel?"
"Tidak, makanya aku belikan."
Karyawan toko itu kembali sembari menyerahkan paper bag berisi ponsel yang Deka beli serta kartu kreditnya.
"Ini ponsel serta kartunya, Bang. Terima kasih sudah berbelanja di toko kami."
Deka hanya tersenyum sembari menerima paper bag yang diberikan karyawan toko itu.
"Sudah berapa lama dia bekerja di rumahmu?" tanya Clarissa penasaran.
"Baru sebulan," jawab Deka, lalu menarik tangan Clarissa, "Yuk, aku harus kembali ke pabrik,"
"Yaa, kita tidak makan dulu?"
"Aku masih kenyang."
__ADS_1
"Tapi aku sudah lapar," rengek Clarissa.
"Ya sudah, beli makanan yang bisa dimakan di mobil saja," cetus Deka.
"Tapi mana asyik, Ka."
"Sa, aku harus bekerja! Aku tidak enak pada papamu, jadi tolong mengertilah!" kata Deka tegas.
"Ya sudah, deh." Clarissa mengalah dengan wajah cemberut.
Terkadang Deka terpaksa harus bersikap tegas pada Clarissa agar wanita manja itu berhenti memaksakan kehendaknya, meskipun awalnya dia akan merajuk dan cemberut, tapi sebentar lagi dia akan kembali ceria. Deka sudah cukup memahami karakter wanita yang telah menjadi temannya sejak kecil itu.
***
Setelah mengantarkan Clarissa pulang ke rumah, Deka pun kembali ke pabrik, namun baru melangkahkan kaki memasuki pintu pabrik, dia malah berpapasan dengan Bima.
Awalnya Deka mengabaikan Bima dan terus berjalan, sampai suara lelaki itu menghentikan langkahnya.
"Sudah bersenang-senang nya? Enak sekali ya makan gaji buta," ledek Bima.
Deka memutar kepalanya menatap lelaki itu dengan sinis, "Apa maksudmu? Siapa yang makan gaji buta?"
"Kenapa masih bertanya? Mau pura-pura tidak tahu?"
Deka bergeming, dia mengepalkan tangannya menahan geram.
"Percaya diri itu boleh, tapi harus tetap tahu diri. Jangan mentang-mentang dijadikan anak emas, terus ngerasa sederajat dengan Tuan Victor dan anaknya," sindir Bima.
Kata-kata Bima itu membuat emosi Deka naik, dia langsung mendekati Bima dan menarik kerah kemeja lelaki itu. Tingkah dua orang kepercayaan Victor itu seketika mengundang perhatian karyawan lain, namun mereka tak berani mendekat apalagi ikut campur.
"Kau belum jera juga rupanya, masih ingin aku hajar seperti waktu itu?" geram Deka sembari mencengkeram kuat kerah kemeja Bima.
Bima tertawa mengejek, "Kau selalu saja menggunakan kekerasan untuk melawan orang lain. Sepertinya kau lebih pantas jadi binatang daripada manusia," ejek Bima menohok.
"Bangsat!" Deka mengepal tangannya dan hendak meninju wajah Bima, tapi suara Victor menghentikan aksinya itu.
"Deka, hentikan! Lepaskan dia!" bentak Victor yang sudah berdiri tak jauh dari mereka.
Deka melepaskan cengkeraman tangannya di baju Bima dan mendorong lelaki itu sampai mundur beberapa langkah.
Victor memandang dua orang kepercayaannya itu bergantian, "Sekarang kalian berdua ikut aku!"
***
...Like dan komentar nya jangan lupa, ya....
__ADS_1
...Biar aku makin semangat update....