
Starla membawakan sarapan ke kamar Deka, tadi Dani yang menyuruhnya mengantarkan langsung sebab lelaki itu mau mandi. Sedangkan Victor sudah pergi beberapa saat lalu.
Dengan hati-hati Starla melangkah dan meletakkan nampan yang dia bawa di atas meja, Deka hanya memandanginya.
"Ini sarapannya, Bang. Makan dulu, setelah itu baru minum obat," ujar Starla.
Deka tak menjawab, dengan perlahan dia hendak bangkit tapi sedikit kesusahan. Starla spontan mendekati Deka dan membantu Deka untuk duduk, dia juga meletakkan bantal di belakang badan Deka agar lelaki itu bisa bersandar dengan nyaman.
Starla lalu mengambil nampan tadi dan meletakkannya di pangkuan Deka.
"Abang bisa makan sendiri? Atau mau aku suap?" tanya Starla memastikan.
"Sendiri saja." Deka meraih sendok dan hendak makan, tapi saat menunduk, tiba-tiba dia meringis kesakitan.
"Abang kenapa?"
"Dadaku terasa sakit sekali saat menunduk, seperti tertusuk sesuatu," adu Deka sembari memegangi dada kirinya.
Starla sigap memindahkan nampan itu ke atas meja lalu duduk di samping Deka.
"Boleh aku lihat lukanya, Bang?"
Deka menatap Starla bingung.
"Aku cuma mau memastikan saja kalau luka Abang tidak ada masalah," dalih Starla.
Deka pun menjauhkan tangannya dan membiarkan Starla memeriksa luka di dadanya.
Starla terkesiap saat melihat luka Deka sudah dijahit, "Loh, lukanya sudah di hecting? Syukurlah kalau begitu! Aku pikir apa yang dibilang Bang Dani itu benar."
Deka mengernyit, "Apa yang Dani bilang?"
__ADS_1
"Kata Bang Dani, alasan Abang menolak ke rumah sakit karena Abang takut disuntik. Buktinya sekarang luka Abang dijahit, pastikan sebelumnya juga disuntik bius."
Deka terdiam, dia tahu Dani pasti selalu punya cara dan jawaban untuk mengelabui orang lain.
Starla lalu mengecek luka Deka, membuat jarak mereka sangat dekat. Jantung Deka sontak kembali berdebar kencang.
"Luka dan jahitannya tidak ada masalah, mungkin lukanya tertekuk saat Abang menunduk tadi," ujar Starla.
Deka tetap bergeming memandangi wanita itu.
"Kalau begitu biar aku suap saja," cetus Starla. Dia segera menjauh dan mengambil piring di atas nampan lalu mulai menyuapkan makanan ke mulut Deka. Laki-laki itu tidak menolak sama sekali.
Pelan tapi pasti Deka pun menghabiskan makanan yang Starla berikan.
"Yee, sarapannya sudah habis! Sekarang saatnya minum obat" seru Starla, dia meletakkan piring itu lalu beralih mengambil obat pereda nyeri, antibiotik dan air minum.
"Ini obatnya, Bang." Starla menyodorkan dua butir obat kepada Deka lalu memberikan minum pada lelaki itu.
"Terima kasih," ucap Deka pelan.
Starla mengangguk dan tersenyum manis, "Sekarang Abang istirahat. Kalau ada perlu apa-apa, panggil saja aku."
"Iya." Deka hendak kembali berbaring, dengan sigap Starla langsung membantunya.
Tepat bersamaan pintu kamar Deka terbuka dan muncullah sosok Clarissa yang terlihat panik juga cemas.
"Deka!" seru Clarissa.
Starla dan Deka sontak menoleh ke arah pintu kamar.
Clarissa langsung berjalan mendekati ranjang Deka, dan menarik Starla agar menjauh dari lelaki itu, "Siapa kau? Kenapa bisa ada di sini?"
__ADS_1
"Clarissa! Jangan kasar!" Deka memperingatkan.
Starla terkejut dan bingung dengan perlakuan kasar Clarissa, "Aku pembantu Bang Deka."
"Pembantu? Tapi kenapa pegang-pegang segala, haa?" tuntut Clarissa.
"Clarissa, dia cuma membantuku berbaring. Dan tolong jaga sikapmu!" sela Deka tegas.
Wajah Clarissa langsung masam, dia melirik sinis Starla yang terpaku membisu lalu berbalik mendekati Deka dan duduk di samping lelaki itu. "Bagaimana keadaanmu? Aku sangat cemas saat mendengar kabar kau terluka."
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir!" sahut Deka.
"Apa tidak sebaiknya kau ke rumah sakit saja? Aku akan menemanimu," Clarissa menggenggam tangan Deka.
Entah mengapa Starla merasa tidak suka melihat Clarissa memegang tangan Deka.
"Tidak usah, papamu sudah membawa dokter tadi," jawab Deka.
Kini Starla tahu jika wanita dihadapannya adalah Clarissa, putrinya Victor.
Dani pun kemudian datang dengan rambut yang basah karena baru selesai mandi, dia memandangi Clarissa dan Deka serta Starla bergantian.
"Kau kenapa melamun?" Dani menegur Starla.
Deka dan Clarissa pun beralih memandang Starla yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Oh, tidak apa-apa. Kalau begitu aku ke dapur dulu." Starla meraih nampan di atas meja dan bergegas pergi, Dani pun segera menyusulnya.
Deka hanya memandangi kepergian dua orang itu dengan tatapan yang sulit diartikan, ada sedikit rasa bersalah di hatinya karena sikap kasar Clarissa tadi.
***
__ADS_1