
Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam dan hujan juga sudah reda, Dani serta Starla akhirnya tiba di rumah. Mendengar suara motor Dani, Deka yang sedari tadi cemas bergegas keluar.
"Kenapa lama sekali?" sergah Deka.
"Hujan, Ka. Jadi kami berteduh dulu," jawab Dani dengan suara bergetar, dia yang hanya memakai kaos merasa kedinginan.
"Kan kalian bisa pulang sebelum hujan."
"Hujannya tidak bilang, mana kami tahu kalau dia mau turun," seloroh Dani.
Deka tak membalas, dia beralih menatap Starla yang memakai jaket Dani lalu menghela napas pelan. Tanpa bicara sepatah katapun, Deka melenggang masuk meninggalkan Dani dan Starla yang masih berdiri di teras rumahnya.
"Dia sudah seperti ayahku saja!" keluh Dani.
"Mungkin dia cemas karena kita pulang kemalaman, Bang," sahut Starla.
"Sejak kapan dia bisa merasa cemas? Setahu aku dia itu tidak pernah peduli pada orang lain," bantah Dani.
"Itu kan pada orang lain, tapi pasti dia cemas pada sahabatnya sendiri," ujar Starla.
"Itu tidak mungkin!"
"Mungkin saja."
"Sudahlah, biarkan saja dia!" Dani melengos, "yuk, masuk! Di sini dingin."
Starla tersenyum dan melangkah masuk bersama Dani, namun mereka tak menemukan Deka di mana-mana.
"Ke mana dia?" tanya Starla.
"Paling di kamarnya."
"Kalau begitu aku buatkan teh hangat dulu untuk Abang."
"Tidak usah! Kau istirahat saja, ini sudah larut malam. Nanti aku bisa buat sendiri," tolak Dani.
"Tidak apa-apa, Bang. Aku bisa istirahat setelah membuatkan teh hangat untuk Abang." Starla bersikeras.
"Kalau begini aku semakin jatuh hati padamu," ucap Dani sambil mencubit gemas hidung Starla.
"Ih, sakit, Bang Dani!" Starla sontak menepis tangan lelaki itu dan bergegas ke dapur.
"Gulanya sedikit saja, soalnya yang buat sudah manis," kelakar Dani lalu tertawa, sikap hangat lelaki itu tidak berubah meskipun cintanya baru saja ditolak oleh Starla.
__ADS_1
"Gombal!" seru Starla dari dapur.
Dari lantai atas Deka memperhatikan tingkah laku dua insan itu tanpa sepengetahuan mereka, entah mengapa dia merasa sedikit kesal. Tak ingin Dani atau Starla melihat keberadaannya di sana, Deka pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar.
***
Usai menghabiskan teh hangat buatan Starla, Dani pun masuk ke kamar Deka, tampak lelaki dingin itu tengah berbaring di atas ranjang sambil bermain ponsel.
"Kau belum tidur?" tanya Dani.
"Kenapa kau tidak pulang?" Deka balik bertanya.
"Ini sudah larut malam dan di luar dingin sekali, aku menginap saja di sini," jawab Dani.
Deka tak menjawab, Dani memang sudah sering menginap di rumahnya.
"Pinjam baju, kaos ku lembab." Dani mendekati lemari pakaian Deka dan membukanya, dia sudah biasa melakukan itu dan Deka tidak keberatan.
"Kau masih saja menyimpannya sembarangan," protes Dani saat melihat pistol milik Deka tergeletak begitu saja di dalam lemari, "simpanlah di tempat yang lebih aman!"
"Itu tempat yang paling aman," sahut Deka tak acuh.
"Aman apanya? Bagaimana kalau ada orang lain yang masuk dan membuka lemari ini? Misalnya Starla, dia pasti takut melihat ada pistol."
"Kau ini selalu saja susah dibilangin," gerutu Dani, sembari mengganti kaosnya yang lembab dengan kaos milik Deka.
Setelah mengganti baju, Dani membanting dirinya di samping Deka.
"Tadi ada kejadian lucu," kata Dani tiba-tiba.
"Kejadian apa?" Deka bertanya tanpa memandang Dani, matanya masih fokus pada layar ponsel.
"Waktu kami di Anchor Cafe, ada seorang pria yang mengejar-ngejar Starla."
Deka sontak memutar kepalanya menghadap Dani, "Siapa?"
"Kata Starla, dia salah satu kaki tangan sindikat human trafficking yang waktu itu. Sepertinya mereka masih terus mengejarnya, jadi berbahaya kalau dia keluar rumah sendirian," terang Dani.
Hati Deka mendadak merasa cemas bercampur geram, ingin rasanya dia mencari pria itu dan menghajarnya agar berhenti mengusik hidup Starla.
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?" Deka penasaran.
"Kami kabur lah, kejar-kejaran dengan pria itu. Tapi aku berhasil memberinya pelajaran."
__ADS_1
Deka mengernyitkan kening, menunggu Dani melanjutkan ceritanya.
Dani pun menceritakan kejadian di mushola tadi sambil tertawa-tawa.
"Hebat aku, kan? Dani mau dilawan!" ucap Dani bangga setelah selesai bercerita.
Deka tersenyum samar, dia tahu kemampuan otak Dani yang licik dan cerdik, bahkan terkadang ide yang keluar dari pikiran sahabatnya itu bisa di luar nalar.
"Jadi karena itu kalian pulangnya lama?"
"Bukan, setelah itu kami makan, lalu aku mengajak Starla ke pantai Nongsa, tapi malah turun hujan."
"Jadi kau ajak dia malam-malam main ke pantai?"
Dani mengangguk, "Iya, aku menyatakan perasaanku padanya di sana."
Deka terkesiap, jantungnya seketika berdebar kencang mendengar kalimat yang keluar dari mulut Dani itu.
"Tapi ditolak," lanjut Dani sedih.
Deka terkejut, ada perasaan iba bercampur lega di dalam hatinya.
"Dia bilang kami belum terlalu saling mengenal, tapi aku tidak akan menyerah, aku akan terus berusaha untuk mendapatkan cintanya," kata Dani.
Deka tetap membisu, perasaannya campur aduk dan dia tak tahu harus berkomentar apa.
"Ka, aku lagi curhat, kau malah diam saja! Ada apa, sih?" protes Dani karena Deka bergeming.
Deka menggeleng, "Tidak, tidak ada! Aku cuma merasa kagum saja padamu."
Dani menautkan kedua alisnya, "Kagum kenapa?"
"Setelah ditolak, kau masih bisa bersikap biasa saja, seolah kau tidak tahu malu," ejek Deka demi mengalihkan suasana.
Dani langsung menendang kaki Deka, "Bangsat, kau! Enak saja ngatain aku tidak tahu malu! Aku kan hanya bersikap lapang dada, meski ditolak kami masih bisa berteman. Dan aku bersumpah akan membuat dia jatuh cinta padaku!"
Deka mengangkat kedua bahu dengan cuek, dan kembali fokus pada layar ponselnya, "Kita lihat saja nanti, aku kok tidak yakin."
Dani menggerutu dan mencibir Deka, namun lelaki dingin itu mengabaikannya.
Sejujurnya hati Deka merasa galau, namun dia berusaha bersikap biasa saja. Deka masih tak menyangka Dani benar-benar serius pada Starla, tadinya dia berpikir Dani hanya iseng-iseng saja pada wanita itu, sebab dia tahu sang sahabat adalah seorang playboy.
***
__ADS_1