
Deka berjalan memasuki pabrik, hari ini dia harus kembali mengawal kontainer menuju pelabuhan.
"Deka!" teriak Rakis yang sedang berjalan ke arah Deka.
Deka menoleh ke arah sumber suara yang memanggil namanya itu.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Rakis.
Deka mengangguk.
Rakis menarik Deka ke tempat yang lebih sepi dan jauh dari jangkauan karyawan lain.
"Ada apa, Paman?"
"Kau baik-baik saja, kan?" Rakis balik bertanya.
Deka mengernyit heran, "Iya, aku baik-baik saja. Memangnya ada apa, Paman?"
"Paman sudah lihat video yang sedang viral itu, dan Paman takut kau terlibat masalah, apalagi dengan polisi," ujar Rakis, wajah tuanya tampak cemas.
"Paman tenang saja! Semua aman terkendali, kok," balas Deka santai.
Rakis menatap curiga, "Kau tidak sedang membohongi Paman, kan?"
"Tidak, Paman. Semua memang aman dan baik-baik saja, tadi malam polisi juga sudah datang ke rumahku dan meminta keterangan. Mereka bahkan berterima kasih karena aku sudah berhasil melumpuhkan perampok yang memang sudah lama buron itu. Jadi Paman jangan khawatir lagi!"
"Benarkah?" Rakis memastikan.
"Iya, Paman. Dani juga tahu itu, apa dia tidak cerita kepada Paman?"
Rakis menghela napas, "Anak durhaka itu mana ada waktu untuk sekedar bicara pada Paman, dia selalu pulang larut malam dan bangun setelah Paman pergi bekerja. Biarpun serumah tapi kami jarang jumpa dan mengobrol."
"Nanti aku akan bilang ke dia agar sering-sering mengobrol dengan Paman."
"Tidak usah! Lagian percuma ngobrol dengan dia, ujung-ujungnya buat naik darah," sahut Rakis kesal.
__ADS_1
Deka tertawa, dia tahu anak dan ayah itu memang tidak akur, walaupun sebenarnya mereka saling peduli dan menyayangi satu sama lain.
"Oh iya, kalau nanti kau bertemu dia, tolong suruh dia mencari pekerjaan yang benar, jangan terlalu lama jadi pengangguran," pinta Rakis.
"Iya, Paman. Nanti aku sampaikan," balas Deka.
"Baiklah, kalau begitu Paman ke sana dulu." Rakis menepuk pundak Deka dan berlalu pergi dari hadapan lelaki rupawan itu.
Deka memandangi tubuh tua Rakis yang menjauh darinya. Selain kedua orang tuanya, dia juga menyayangi Rakis dan dan Dani, bahkan menganggap mereka sebagai keluarga.
Deka tahu Rakis tak pernah mengizinkan Dani untuk bekerja bersama Victor, sebab tak ingin putranya itu menjadi seperti dirinya. Beberapa kali Rakis bahkan juga menasihati Deka agar berhenti menjadi algojo Victor dan lari sejauh mungkin dari lelaki kejam itu, namun dengan dalih balas budi, Deka tetap bertahan di pekerjaan penuh dosa ini.
Deka kemudian melanjutkan langkahnya menuju kontainer yang sedang memuat mainan-mainan berisi narkotika yang akan di kirim ke luar negeri melalui jalur laut.
Tanpa sepengetahuan Deka ataupun Rakis, Bima yang kebetulan lewat menguping pembicaraan mereka dari balik tembok.
"Jadi polisi sudah menemuinya? Ini akan menjadi masalah untukmu anak emas Tuan Victor," ucap Bima sambil menyeringai licik.
***
Deka sudah selesai mengawal kontainer yang sampai ke pelabuhan, semua sudah aman dan kapal siap berangkat. Deka memutuskan untuk kembali ke pabrik, namun di tengah jalan Victor menghubunginya.
"Kau di mana sekarang?"
"Di jalan, Tuan. Baru saja keluar dari area pelabuhan," jawab Deka.
"Begitu tiba di pabrik, langsung ke ruangan ku!"
Victor langsung memutuskan panggilan sebelum Deka sempat membalas kata-katanya.
Deka mengembuskan napas, dan melempar ponselnya ke jok sebelah.
"Ada apa lagi ini?"
Deka tahu jika Victor memintanya datang, pasti ada sesuatu penting. Dekan pun menambah kecepatan mobilnya agar segera tiba di pabrik.
__ADS_1
Empat puluh menit kemudian, Deka pun tiba di pabrik mainan milik Victor tersebut, dengan langkah yang lebar, dia segera menemui atasannya itu.
"Ada apa, Tuan?" tanya Deka saat sudah berhadapan dengan Victor.
Victor beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Deka, wajah pria berdarah Tiongkok itu tampak marah.
"Benarkan dugaan ku, polisi akhirnya mencarimu?" sergah Victor.
Deka terkesiap, "Dari mana Tuan tahu?"
"Tidak penting dari mana aku tahu! Yang pasti kau sudah membuat dirimu dan usahaku jadi terancam bahaya. Bagaimana kalau polisi-polisi itu mencari tahu tentang kau, ini bisa jadi masalah."
"Tapi semuanya aman, Tuan. Polisi hanya meminta keterangan saja dari ku," sanggah Deka.
"Apa pun itu, kedepannya jangan ulangi hal seperti ini lagi! Jangan sekali-kali kau bertindak gegabah dan akhirnya membuat masalah! Bukankah sudah sering aku katakan, hindari berurusan dengan polisi!" bantah Victor.
Deka mengangguk, "Iya, aku minta maaf, Tuan."
"Baiklah, kali ini aku maafkan. Tapi kalau terulang lagi, kau akan mendapatkan akibatnya," ujar Victor penuh ancaman.
"Iya, Tuan."
"Kalau begitu aku pergi dulu, kau pantau para karyawan!" titah Victor.
Deka kembali mengangguk, "Baik, Tuan."
"Bima, kau ikut aku!" pinta Victor seraya berlalu dari hadapan Deka.
Bima yang sedari tadi diam menyimak, kini melangkah mendekati Deka yang masih terpaku di tempatnya berdiri.
"Lain kali berhati-hatilah kalau curhat, orang yang kau percaya tidak selamanya baik dan mendukungmu," ujar Bima sambil menepuk pundak Deka lalu pergi dengan tersenyum sinis.
Deka masih berusaha mencerna ucapan Bima itu sampai sebuah kecurigaan mampir di benaknya.
"Apa Paman Rakis yang mengatakannya ke Tuan Victor?" tebak Deka.
__ADS_1
"Tapi buat apa dia melakukannya? Dia tidak mungkin ingin membuat aku terkena masalah, tapi di sini hanya dia yang mengetahui hal itu." Deka mendadak galau, dia tak bisa percaya begitu saja jika Rakis yang mengadukan hal itu pada Victor.
***