Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
46. Dani Meresahkan.


__ADS_3

Selepas Starla pergi, Dani kembali duduk di tepi ranjang dan menatap Deka dengan penuh selidik.


"Sekarang ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi sampai kau terluka seperti ini?" tanya Dani penasaran.


"Sepertinya aku dijebak," jawab Deka.


Dani mengernyitkan keningnya, "Dijebak bagaimana?"


Deka menghela napas, lalu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi sehingga dia bisa terluka seperti ini. Dia berbicara dengan pelan dan beberapa kali berhenti sebab merasa denyut pada dadanya. Dani yang mendengar semua itu merasa kesal sendiri.


"Berengsek! Orang itu pasti sengaja mempermainkan mu, tidak bisa dibiarkan!" geram Dani.


"Iya, aku bersumpah akan membalasnya setelah aku sembuh," sahut Deka, dia berniat akan mencari Amir setelah ini.


"Inilah yang aku takutkan jika kau terus menjadi algojo Tuan Victor dan berurusan dengan mafia-mafia itu, hidupmu dan keselamatan mu bisa terancam, Ka."


"Mau gimana lagi? Ini sudah jadi resiko dari pekerjaanku," ujar Deka.


"Iya, tapi kalau kau berhenti, kau bisa menghindari resiko ini. Hidupmu pasti lebih aman, Ka," balas Dani.


"Dan, harus berapa kali aku katakan, kalau aku tidak bisa berhenti!" pungkas Deka tegas.


"Kau bukan tidak bisa, tapi tidak mau. Sungguh kau keras kepala!" sungut Dani.


Deka tak menjawab, tapi tiba-tiba ponselnya berdering.

__ADS_1


"Tolong ambilkan ponselku!" pinta Deka sembari menunjuk ponselnya di atas meja nakas.


Dani segera meraih benda pipih yang sedang berbunyi itu.


"Tuan Victor menelepon," ucap Dani saat melihat nama si penelepon, dia kemudian memberikan ponsel itu pada Deka.


Deka segera menjawab panggilan tersebut, karena panik dan kesakitan dia sampai lupa memberi kabar pada bos-nya itu.


"Halo, Tuan," sapa Deka.


"Bagaimana, kau sudah berhasil melenyapkan Julio Winata?"


"Belum, Tuan. Aku gagal melenyapkannya," jawab Deka.


"Kenapa? Tumben sekali kau bisa gagal seperti ini?"


"Dijebak? Dijebak bagaimana maksudmu?"


Dengan suara yang pelan, Deka pun menceritakan kejadian di dermaga tadi kepada Victor. Beberapa kali lelaki berdarah Tiongkok itu mengumpat karena kesal.


"Baiklah, sekarang kau istirahat saja dulu, besok aku akan menemui mu bersama seorang dokter."


"Iya, Tuan."


Victor pun langsung menutup teleponnya. Deka melempar ponselnya ke kasur dan menghela napas.

__ADS_1


"Apa katanya? Dia akan bertanggung jawab atas apa yang menimpamu, kan?" cecar Dani.


"Besok dia akan datang bersama dokter," sahut Deka.


"Syukurlah kalau begitu, aku pikir dia mau lepas tangan," cibir Dani, namun lagi-lagi Deka tak membalas ucapannya itu.


"Ya sudah, sebaiknya sekarang kau tidur. Aku mau keluar dulu," ujar Dani.


"Kau mau pulang?"


"Tidak, mana mungkin aku meninggalkan mu dalam situasi seperti ini. Aku hanya ingin bertemu Starla, siapa tahu saat ini dia membutuhkan teman tidur," seloroh Dani.


Deka sontak menatap Dani dengan mata melotot, "Jangan macam-macam padanya! Atau aku akan menghajar mu!"


Dani menautkan kedua alisnya, "Kenapa kau marah?"


Deka mendadak gugup.


"Karena ini rumahku. Aku tidak mau kau berbuat yang macam-macam di sini," dalih Deka.


"Kau tenang saja, aku hanya menemaninya," Dani kembali bercanda.


Deka bergeming, dia bingung harus mengatakan apa lagi meski hatinya masih merasa resah.


"Sudah, kau tidur saja. Jangan berpikir yang tidak-tidak!" Dani beranjak dan melangkah keluar dari kamar Deka.

__ADS_1


Tapi entah mengapa hati dan pikiran Deka tetap tidak tenang membiarkan Dani berduaan dengan Starla malam-malam begini, padahal sang sahabat sudah mengatakan tidak akan melakukan apa-apa pada wanita itu. Tapi dia tetap merasa cemas, sebab dia tahu jika sahabatnya itu seorang playboy ulung.


***


__ADS_2