
Hari sudah sore, awan hitam mulai berkumpul dan seolah-olah akan jatuh menimpa bumi. Angin pun berhembus sedikit kencang.
Starla yang sedang buang air kecil terkejut saat melihat ada bercak darah di ce la na dalamnya.
"Loh, ternyata aku datang bulan. Pantas saja dari tadi perutku terasa tidak nyaman."
Starla pun keluar dari kamar mandi dan memeriksa persediaan pembalutnya di dalam kamar, namun benda yang dia cari itu ternyata hanya tinggal satu buah.
"Yaa, tinggal satu! Aku harus beli lagi sebelum malam."
Starla mengganti ce la na dalamnya dan memakai pembalut itu, lalu buru-buru keluar rumah. Namun dia sempat termangu saat melihat langit yang mendung.
"Sepertinya akan turun hujan lagi, aku harus cepat."
Starla mengunci pintu dan bergegas pergi ke mini market terdekat, dia harus pulang sebelum hujan turun.
Tak berapa lama Deka pun pulang, dia turun dari mobil dan hendak membuka pintu rumah, tapi terkunci.
Deka menggedor pintu sambil berteriak, "Starla, buka pintunya!"
Pintu tidak terbuka sama sekali. Deka kembali mengetuk pintu, tapi hasilnya sama.
"Cckk, dia ngapain, sih?" gerutu Deka.
Deka pun mengambil kunci serep lalu membuka pintu rumah dengan kunci itu.
Suasana rumah begitu hening, Deka melangkah mencari sosok Starla.
"Starla!"
Deka berjalan ke dapur, tapi tidak ada Starla di sana.
"Apa di kamar?"
Deka beralih ke kamar Starla dan mengetuk pintu, tapi tidak ada sahutan apalagi pintu terbuka.
"Ke mana dia?" Deka kebingungan.
"Apa mungkin dia di lantai atas?" tebak Deka, dia langsung berlari menaiki anak tangga menuju lantai dua.
__ADS_1
Deka membuka pintu kamarnya sebab dia curiga Starla ada di dalam, tapi tidak ada siapa-siapa. Dia lalu mencari Starla ke setiap sudut rumah, tapi wanita itu seperti hilang ditelan bumi.
"Pergi ke mana wanita itu?"
Suara petir tiba-tiba mengangetkan Deka dan hujan pun turun dengan derasnya. Hati Deka seketika merasa cemas, apalagi saat dia teringat cerita Dani tadi malam, bahwa ada seorang pria yang mengejar-ngejar Starla.
Tanpa pikir panjang, Deka langsung pergi mencari Starla. Di bawah guyuran hujan yang lebat, Deka memacu mobilnya dengan sangat pelan, dia celingukan mencari Starla meskipun air hujan menyulitkan pandangannya.
"Aku harus cari dia ke mana?" keluh Deka, dia panik dan bingung harus mencari Starla ke mana, sialnya dia tidak bisa menghubungi wanita itu.
Hari semakin gelap dan hujan juga kian deras, membuat hati Deka bertambah khawatir.
"Aku harus minta tolong Dani untuk mencarinya." Deka meraih ponselnya dan hendak menelepon Dani, tapi urung saat matanya menangkap sosok yang tidak asing sedang berdiri di teras mini market yang dia lewati.
Deka menepikan mobilnya dan membuka kaca jendela untuk memastikan jika dia tidak salah lihat, dan benar saja, itu Starla yang sedang berteduh.
Rasa cemas bercampur kesal membuat emosi Deka naik, dia lantas turun dari mobil dan menerobos hujan, membuat dirinya seketika basah.
Starla terkejut melihat Deka hujan-hujanan, "Bang Deka?"
"Ngapain kau di sini?" sergah Deka marah.
"Kenapa kau pergi sendirian? Kau tahu tidak, aku cemas mencarimu!" bentak Deka dengan nada tinggi.
Starla terkejut mendengar Deka membentaknya, begitu juga dengan beberapa orang yang sedang berteduh di dekat mereka.
"Ta-tapi aku ...."
"Sekarang pulang!" Deka menarik lengan Starla dan menyeret wanita itu masuk ke dalam mobil.
Deka juga masuk ke mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi menembus hujan, entah mengapa dia begitu kesal dan emosi.
Starla yang takut dan kesal tak berani berkata-kata, dia hanya tertunduk meremas kantong plastik yang dia pegang sambil menahan dingin karena bajunya basah.
Sesekali Deka melirik ke arah Starla, melihat wanita itu tertunduk takut, dia jadi merasa bersalah karena sudah membentaknya tadi.
"Aku minta maaf," ucap Deka tiba-tiba.
Starla masih diam seribu bahasa.
__ADS_1
"Aku panik dan cemas sekali tadi," lanjut Deka.
"Tapi Abang tidak perlu membentak ku seperti tadi, apalagi di depan orang lain. Aku kan malu, Bang." Starla berbicara dengan suara yang bergetar menahan tangis, karena sedang datang bulan, dia jadi sensitif.
"Makanya aku minta maaf."
Starla kembali bergeming dengan wajah cemberut.
"Maafin aku, ya?" desak Deka.
"Aku akan maafin, tapi dengan satu syarat."
Deka mengernyitkan keningnya, "Syarat? Apa?"
"Abang harus temani aku nonton."
"Nonton apa?"
"Nonton film lah, masa nonton topeng monyet," seloroh Starla.
"Malas, ah!" Deka sengaja menggoda wanita itu.
Wajah Starla semakin masam, "Kalau begitu tidak akan aku maafin! Entar aku akan mogok kerja, aku tidak mau masak dan buatkan makanan untuk Abang."
"Aku bisa makan di luar," sahut Deka enteng, dia tahu Starla sudah tidak marah lagi, karena wanita itu telah kembali cerewet seperti biasanya.
"Ya sudah, makan saja di luar." Starla merajuk.
"Dan kau akan aku pecat!" sambung Deka.
Starla tercengang dan sontak menatap Deka dengan mata melotot.
"Buat apa aku bayar kalau kau tidak mau kerja?" lanjut Deka, dia menghentikan mobilnya sebab mereka sudah tiba di rumah dan bergegas keluar dari mobil.
Deka melenggang masuk ke dalam rumah, meninggalkan Starla yang masih terdiam di dalam mobil. Entah mengapa suasana hatinya bisa berubah-ubah, baru saja dia kesal dan marah, tapi sekarang dia merasa senang karena bisa menggoda wanita itu.
"Dasar majikan menyebalkan!" umpat Starla, dia buru-buru menyusul Deka masuk ke dalam rumah.
***
__ADS_1