
Starla sedang menyiapkan sarapan, sejak tadi dia tak berhenti tersenyum, wajahnya bersemu merah tiap kali teringat semalam Deka menciumnya. Sungguh dia tak pernah menduga jika selama ini pria dingin itu menaruh hati padanya, dan bodohnya dia malah berpikiran yang tidak-tidak dan berkata yang melukai perasaan Deka, untung saja Deka tidak membencinya.
Tiba-tiba sebuah tangan yang kekar melingkar di pinggang Starla, wanita cantik itu terperanjat kaget.
"Selamat pagi?" bisik Deka di telinga Starla, hembusan napas Deka sontak membuat bulu kuduk Starla berdiri.
"Se-selamat pagi, Bang," jawab Starla gugup, dia tak menyangka Deka akan melakukan ini.
Semalam mereka memang sepakat untuk menjalin hubungan lebih dari sekedar teman, dan Deka berjanji akan pelan-pelan menjelaskan semuanya pada Dani agar sahabatnya itu tidak salah paham nantinya.
"Masak apa?"
"Nasi goreng, Bang."
"Mau aku bantu?" Deka semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Starla.
"Hem, ti-tidak usah, Bang! Sebaiknya Abang tunggu saja di meja makan, sebentar lagi selesai, kok." Starla semakin gugup, sebelumnya dia tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh pria mana pun.
"Baiklah, tapi dengan satu syarat."
"A-apa?"
Deka menguraikan pelukannya dan membalik tubuh Starla agar menghadap dirinya. Kini mereka sudah berhadapan, Starla tertunduk malu, wajahnya merah padam.
"Kenapa wajahmu merah begini? Kau sakit?" tanya Deka sedikit cemas.
Starla menggeleng lalu berkata pelan, "Tidak apa-apa."
Deka tersenyum, dia mengangkat dagu Starla dengan tangannya dan menatap mata kekasihnya itu, pandangan Deka lantas turun ke bibir Starla. Dengan perlahan Deka mendekatkan wajahnya, mengikis jarak antara mereka lalu menyentuh bibir merah muda itu dengan bibirnya. Ciuman selamat pagi yang begitu hangat, lembut dan penuh gelora.
Lagi-lagi Starla hanya mampu memejamkan mata, menikmati sentuhan Deka yang yang begitu melenakan. Dia pun mengalungkan kedua tangannya di leher Deka saat lelaki itu memperdalam ciuman mereka.
Praang ....
Deka dan Starla yang terkejut sontak melepaskan tautan bibir mereka, sepertinya sesuatu telah menyebabkan kaca jendela depan pecah.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Starla cemas.
"Entahlah, aku akan lihat." Deka melepaskan tubuh Starla dan bergegas meninggalkan wanita itu.
Starla yang penasaran segera menyusul Deka.
Keduanya terhenyak saat melihat serpihan kaca berserakan dan sebuah batu besar teronggok di lantai.
"Berengsek!" umpat Deka geram, dia pun mengintip dari jendela, namun tidak ada siapa-siapa di luar.
"Perbuatan siapa ini?"
Deka menggeleng, "Aku juga tidak tahu."
"Apa jangan-jangan ini kerjaan Papa?" tebak Starla curiga.
Deka bergeming, dia sendiri juga bingung siapa pelakunya.
"Kalau begitu biar aku bersihkan dulu pecahan kaca nya." Starla hendak ke dapur mengambil sapu, tapi Deka menahannya.
"Biar aku saja! Kau lanjut membuat sarapan!"
***
Setelah sarapan, Deka hendak berangkat kerja, Starla mengantarnya sampai ke teras.
"Kunci semua pintu selagi aku pergi, jangan keluar ke mana pun! Kalau ada apa-apa, cepat hubungi aku," ujar Deka, dia sedikit cemas meninggalkan Starla sendirian di rumah.
"Iya, Abang tenang saja! Abang juga hati-hati, ya," balas Starla.
Deka mengangguk lalu mengecup bibir Starla dengan mesra, sepertinya bibir wanita itu menjadi candu baginya.
"Aku pergi dulu."
Starla tersenyum dengan wajah merona.
__ADS_1
Baru saja Deka hendak masuk ke mobil, sebuah mini bus berhenti di depan rumahnya, tiga orang pria berbadan kekar dan berpakaian serba hitam turun dengan tergesa-gesa. Starla mendadak takut dan panik, dia tahu siapa orang-orang itu.
"Siapa kalian? Mau apa ke sini?" sergah Deka.
"Kami menginginkan wanita itu!" Salah seorang bodyguard menunjuk Starla yang berdiri di ambang pintu.
Deka sekarang tahu siapa ketiga orang itu, dia menatap mereka dengan tajam.
"Sebaiknya kalian pergi, atau kalian akan menyesal karena sudah berani mengusik ketenangan ku," pinta Deka dingin.
"Jangan banyak bacot!" bentak bodyguard tadi, dia pun mengangkat tangannya dan berlari hendak memukul Deka.
Dengan mudah Deka mengelak dan balas memukul rahang bodyguard itu dengan kuat, seketika dia ambruk tak sadarkan diri.
Melihat temannya kalah telak dengan satu pukulan, nyali dua bodyguard lain menciut, tadinya mereka berpikir Deka seperti Dani yang tak bisa berkelahi, tapi ternyata mereka salah.
Meskipun sedikit takut, tapi kedua bodyguard itu tetap maju untuk menyerang Deka. Namun lagi-lagi dengan mudah Deka bisa melumpuhkan mereka hingga terkapar tak berdaya.
"Aku peringatkan, jangan coba-coba datang lagi dan mengusik Starla, atau nasib kalian akan lebih buruk dari ini! Pergi dari sini!" Deka berbicara dengan sorot mata membunuh dan nada mengancam.
Tanpa bicara kedua bodyguard itu bangkit dan menyeret teman mereka yang masih tidak sadarkan diri pergi dari rumah Deka.
Starla mendesah lega, dia pun berlari dan memeluk Deka.
"Abang tidak apa-apa?" tanya Starla cemas.
Deka menatap Starla kemudian menggeleng.
"Sebaiknya hari ini aku tidak masuk kerja."
Starla mengerutkan keningnya, "Kenapa?"
"Aku tidak tenang meninggalkan mu sendiri di rumah," sahut Deka.
Starla tertawa, "Tidak apa-apa, Abang pergi saja. Aku yakin mereka tidak akan berani kembali lagi."
__ADS_1
Deka mengembuskan napas, dia benar-benar khawatir orang-orang itu akan datang lagi.
***