Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
13. Pahlawan Berdarah Dingin.


__ADS_3

Di dalam mobil, Deka yang sedang menunggu sambil mendengarkan musik pun tertidur, namun suara klakson beberapa mobil di jalan raya membuatnya tersentak bangun. Dia membuka mata dan baru sadar jika Dani serta Starla belum juga kembali dari mini market, dengan malas Deka mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi sang sahabat.


Panggilan tersambung, namun tak ada jawaban dari Dani.


"Dia ngapain? Sampai angkat telepon saja tidak bisa," gerutu Deka sambil memandangi layar ponselnya.


"Ini sudah terlalu malam, sebaiknya aku susul saja mereka."


Deka pun memutuskan untuk keluar dari mobil yang terparkir di depan mini market, namun karena posisi mobilnya sedikit jauh dan membelakangi tempat perbelanjaan itu, dia jadi tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana. Saat Deka berbalik dan melihat ke arah mini market, dia sadar ada yang tidak beres. Dengan langkah yang lebar, pria berwajah dingin itu mendekati mini market tersebut.


Deka berjalan masuk ke dalam mini market dengan kedua tangannya masuk ke saku celana, dia tampak tenang namun tatapannya tajam.


"Bang Deka?" gumam Starla, sedangkan Dani merasa lega.


Kedua perampok yg terkejut dengan kedatangan Deka langsung berbalik dan mengacungkan senjatanya ke arah lelaki berdarah Minang itu.


"Hei, siapa kau? Jangan coba-coba mendekat!" hardik perampok yang tengah menodong si penjaga kasir.


Deka tidak menggubris ucapan perampok itu dan tetap berjalan mendekatinya. Si perampok terlihat sedikit panik dengan tingkah Deka dan kembali mengacungkan celuritnya,


"Aku bilang jangan mendekat! Atau aku tak segan-segan untuk melukaimu," ancam perampok itu.


Tetapi Deka tetap tidak peduli dan hanya menganggap ancaman perampok itu seolah kicauan burung yang merdu.


Dani yang melihat temannya di acungkan senjata malah tersenyum seolah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, sementara Starla justru merasa cemas dan takut jika perampok itu sampai melukai Deka.

__ADS_1


Melihat Deka yang semakin mendekat dan tak perduli dengan ancamannya, perampok itu kian panik dan hendak mengayunkan celuritnya ke arah Deka, bukannya menghindar Deka malah bergerak cepat dan menghantamkan dengkulnya dengan keras ke kema luan perampok itu.


Wajah perampok itu sontak merah padam dan semua urat-urat di lehernya membesar seperti orang yang menahan sakit tapi tidak bersuara, celurit yang dia pegang sampai terjatuh ke lantai dan di detik kemudian dia memegang selangkangannya sambil melompat- lompat kesakitan.


Dan satu tendangan lagi menyusul tepat di dagu bawah perampok itu sama seperti tendangan legendaris Anderson Silva ke dagu Victor Belfort dan perampok itu langsung tumbang tak sadarkan diri.


Starla dan semua orang yang melihat aksi Deka itu hanya bisa tercengang, tak percaya dia akan melumpuhkan si perampok dengan sekejap mata. Sedangkan Dani sudah tidak heran lagi, dia tentu sudah tahu kemampuan sahabatnya itu.


Melihat temannya roboh, si perampok yang satunya lagi pun tak tinggal diam, meski sedikit takut, tapi dia tetap anggar jago.


"Hei, kau sudah bosan hidup,ya!" bentak perampok berkepala plontos itu.


Deka yang mendapat ancaman sama sekali tidak merasa terintimidasi dan dengan tatapan yang tajam, Deka menoleh ke arah perampok itu lalu berjalan mendekatinya.


"Diam kau! Aku tak butuh nasehatmu! Aku bukan pengecut!" bentak perampok itu lagi.


Tanpa aba-aba, perampok itu mengayunkan celuritnya dan bersiap menyerang Deka yang terus berjalan mendekatinya, seberkas cahaya dari pantulan celurit itu tertangkap mata Deka.


"Pakaian serba hitam dan kilauan benda tajam itu ...," batin Deka, tiba-tiba terbersit sebuah kenangan paling memilukan dalam hidupnya.


Perampok itu pun menyerang Deka, dengan sigap dia menghindar lalu menangkap pergelangan tangan perampok itu dan memutarnya, hingga perampok itu kesakitan dan celuritnya pun jatuh.


Deka mendorong perampok itu hingga tersungkur ke lantai, menginjak tubuhnya dan menarik tangannya ke belakang hingga patah.


Si perampok sontak menjerit kesakitan. "Aaarrgghh! Ampun! Ampun!"

__ADS_1


Semua orang yang melihat kejadian itu pun terkejut dan merasa ngilu, bahkan sebagian dari mereka sampai menutup matanya sebab tak sanggup melihat hal sadis itu. Tak ada yang berani melerai ataupun ikut campur sebab takut terhadap Deka, tapi salah satu dari karyawan mini market diam-diam menghubungi polisi.


Meskipun sudah meminta ampun, namun Deka tak merasa iba, saat ini dia sedang menggila karena kenangan menyakitkan itu muncul di benaknya, membuatnya tak bisa mengendalikan diri. Deka bahkan kembali menyerang perampok itu dengan beringas, menghujaninya dengan pukulan bertubi-tubi tanpa ampun, hingga wajah perampok itu berlumuran darah.


Deka terus memukuli si perampok hingga darah lelaki itu muncrat ke baju dan wajahnya, membuat aura pembunuh di paras tampannya semakin terlihat jelas.


Dani yang melihat kejadian itu pun langsung mendekati Deka untuk segera menghentikan sang sahabat, dia sadar jika Deka mulai tidak terkontrol.


"Ka, sudah, Ka! Dia bisa mati!" tegur Dani sembari menarik Deka menjauh dari si perampok yang sudah tak berdaya dan berlumuran darah.


"Dia memang harus mati!" geram Deka yang masih ingin memukul perampok itu.


"Deka, sadar! Dia cuma perampok kelas teri, dia bukan tandingan mu!" Dani mengingatkan.


Deka seolah tersadar dan memandangi perampok itu dengan napas yang memburu.


Starla hanya terdiam takut di tempatnya berdiri, dia seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya ini.


"Sebaiknya kita pergi, sebelum polisi datang," bisik Dani, lalu dia beralih menatap Starla, "La, yuk!"


Meski sedikit takut, namun Starla tetap menurut, dia mendekati Dani juga Deka. Ketiganya pun bergegas pergi meninggalkan mini market, dan tidak jadi berbelanja. Bahkan Dani memutuskan untuk mengendarai mobil Deka, sebab dia tak ingin celaka karena sahabatnya itu mengemudi dalam keadaan emosi seperti ini.


Tak lama ketiganya pergi, polisi pun datang ke mini market lalu mengamankan dua perampok yang sudah babak belur itu dan meminta keterangan para saksi.


***

__ADS_1


__ADS_2