
Dani turun dengan wajah bangun tidur, dan rambut yang acak-acakan, dia bahkan beberapa kali masih menguap.
"Eh, Bang Dani sudah bangun?" sapa Starla yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan.
"Hem, tapi aku masih mengantuk sekali," adu Dani, dia menarik kursi lalu duduk di hadapan Starla.
"Ya sudah tidur lagi sana!"
"Tidak bisa, perutku lapar sekali, makanya aku terbangun."
"Kalau begitu makan ini, aku sudah siapkan untuk Abang." Starla menyodorkan sepiring nasi goreng seafood ke hadapan Dani.
Mata Dani sontak terbuka lebar dan memandang nasi goreng itu dengan berbinar-binar, "Wah, ini pasti enak! Aku makan, ya?"
Starla mengangguk sembari tersenyum. Dani pun segera menyantap nasi goreng buatan Starla yang terlihat begitu menggugah selera.
"Gimana keadaan Bang Deka? Apa dia sudah bangun?" tanya Starla.
"Tadi saat aku turun, dia belum bangun. Sepertinya dia sudah membaik, soalnya dia bisa tidur dengan nyenyak semalaman," jawab Dani.
"Oh, syukurlah kalau begitu. Aku sangat mengkhawatirkan keadaannya."
"Deka itu kuat, dia pasti bisa melewati semua ini. Jadi kau jangan khawatir!"
"Gimana tidak khawatir, Bang! Luka separah itu seharusnya dijahit dan mendapatkan penanganan medis, tapi dia malah membiarkannya begitu saja. Aku takut lukanya infeksi," ujar Starla, dia tak bisa menutupi kecemasannya.
"Tidak akan terjadi apa-apa, kau tenang saja!" pungkas Dani, sejujurnya dia sendiri merasa cemas dengan keadaan dan luka Deka, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa sebab sahabatnya itu sangat keras kepala.
__ADS_1
Starla mengembuskan napas berat, dia masih mencemaskan Deka meski Dani mengatakan tidak apa-apa.
Namun pintu depan tiba-tiba diketuk dari luar membuat Dani dan Starla sontak memandang ke arah pintu tersebut.
"Ada yang mengetuk pintu, siapa yang datang pagi-pagi begini?" Starla bertanya-tanya.
"Mungkin itu Tuan Victor, dia mengatakan akan datang bersama seorang dokter," sahut Dani.
"Kalau begitu biar aku bukakan pintunya." Starla beranjak tapi Dani menahannya.
"Biar aku saja!" Dani bangkit dan bergegas membukakan pintu.
Dan benar, Victor datang bersama seorang pria muda yang tak lain adalah dokter, lelaki keturunan Tiongkok itu terkesiap saat melihat Dani.
"Selamat datang, Tuan. Silakan masuk!" sapa Dani ramah.
Dani mengangguk, "Iya, Tuan."
"Di mana Deka?" tanya Victor.
"Ada di kamarnya, Tuan," jawab Dani.
Tanpa membalas ucapan Dani, Victor melangkah masuk dengan angkuh, namun langkahnya terhenti saat dia melihat Starla yang sedang berdiri di dekat meja makan.
Begitu juga dengan Starla, wanita itu sontak memalingkan wajahnya ketika melihat dokter yang berada di samping Victor, sementara dokter tersebut hanya memperhatikannya dengan kening mengerut.
"Siapa dia?" tanya Victor pada Dani.
__ADS_1
"Oh, dia asisten rumah tangga di sini, Tuan," sahut Dani, sedangkan Starla masih berusaha menyembunyikan wajahnya.
"Pembantu? Sejak kapan Deka pakai pembantu?"
"Baru sebulan ini."
Victor memperhatikan Starla dengan saksama, kemudian melanjutkan langkahnya menuju lantai dua, tempat di mana kamar Deka berada. Dokter muda itu pun mengikuti Victor tapi pandangannya tidak lepas dari Starla, membuat Dani cemburu dan sedikit kesal.
"Dasar mata keranjang! Tidak bisa lihat wanita cantik!" gerutu Dani dalam hati.
Setelah kedua lelaki itu menghilang, Dani yang menyadari tingkah aneh Starla pun mendekati wanita itu.
"Kau kenapa?"
Starla mendadak canggung dan gugup, "Oh, a-aku tidak apa-apa, Bang."
"Terus kenapa tegang begitu?"
"Aku tiba-tiba sakit perut, aku ke kamar mandi dulu." Starla buru-buru berlari meninggalkan Dani yang terbengong melihat tingkah lakunya yang aneh.
"Dia kenapa, sih? Aneh sekali!" Dani garuk-garuk kepala melihat Starla yang sudah menghilang di balik pintu kamar mandi.
"Ah, sudahlah. Sebaiknya aku lanjut makan lagi." Dani kembali duduk dan melanjutkan sarapannya yang tertunda akibat kedatangan Victor.
Sementara itu di dalam kamar mandi, Starla yang panik hanya mondar-mandir.
"Bagaimana ini? Kenapa dia bisa ada di sini?" gumam Starla bingung.
__ADS_1
***