
Malamnya Deka dan Starla sedang menyantap makan malam, sejak tadi Deka hanya diam dengan wajah masam. Bahkan dia baru keluar dari kamarnya setelah Dani pulang. Starla merasa sedikit aneh dengan tingkah kekasihnya itu.
"Abang kenapa?" tanya Starla.
"Tidak apa-apa," jawab Deka ketus tanpa memandang Starla.
"Tapi kok dari tadi diam saja?" tanya Starla lagi.
"Lagi malas bicara!"
Starla mengembuskan napas, dia pun akhirnya ikutan diam sembari menikmati hidangan yang sudah dia masak. Namun tiba-tiba ponsel Starla berbunyi, dia beranjak dari duduknya dan bergegas mengambil benda pipih yang dia letakkan di meja mini bar.
Bang Dani calling ....
Starla menjawab panggilan masuk itu.
"Halo, Bang."
Deka menghentikan makannya dan sontak memandang ke arah Starla yang berdiri membelakanginya. Dia bisa menebak, itu pasti telepon dari Dani.
"Aku sedang makan. Abang sudah makan?" Starla bertanya dengan penuh perhatian, membuat hati Deka yang kesal semakin panas.
Deka pun bangkit dari kursinya kemudian melangkah dengan cepat mendekati Starla, tanpa permisi dia merampas ponsel wanita itu dan mematikan panggilnya. Starla yang terkejut seketika berbalik dan menatap Deka dengan heran.
"Apa yang Abang lakukan? Aku sedang bicara dengan Bang Dani!" sungut Starla.
"Makanlah dulu! Nanti saja bicaranya!" balas Deka dingin, dia menyita ponsel Starla dan menyimpannya di saku celana.
"Tapi tadi Bang Dani masih bicara, Bang!"
__ADS_1
Deka tak menyahut, dia berbalik dan kembali duduk di tempatnya tadi.
Starla semakin dibuat bingung dengan tingkah laku Deka. Apa lelaki itu sedang cemburu dengan sahabatnya sendiri?
Starla pun ikut kembali ke meja makan dan duduk di hadapan Deka yang sudah melanjutkan makannya.
Tapi satu masalah lagi datang, pintu rumah Deka mendadak terbuka dan sosok Clarissa muncul dari sana. Deka dan Starla sontak menoleh ke arahnya.
"Hai, Deka!" sapa Clarissa riang sembari berjalan ke arah ruang makan, dia menenteng dua paper bag.
Wajah Starla langsung berubah masam, dia kesal melihat kedatangan wanita seksi berwajah oriental itu.
"Clarissa, kenapa datang malam-malam begini?" tanya Deka.
Clarissa meletakkan paper bag yang dia bawa di atas meja makan lalu duduk menarik kursi di samping Deka kemudian duduk, "Aku mau ajak kamu bersenang-senang malam ini."
Deka mengernyit, sedangkan Starla hanya bergeming menatap tajam dua insan dihadapannya itu.
Deka melirik Starla yang memandangnya dengan sinis, "Tapi aku sedang tidak ingin minum."
"Ayolah, Ka! Aku sudah menyiapkan semuanya, masa kamu tega membuat aku kecewa," rengek Clarissa sembari menggenggam tangan Deka, namun pria itu cepat-cepat melepaskannya.
Clarissa terhenyak dengan perlakuan Deka, tapi dia berusaha bersikap biasa saja meskipun sedikit kecewa.
"Maaf, Sa. Aku benar-benar sedang tak ingin minum!" tolak Deka.
Starla cemburu dan kesal, tapi dia berusaha tetap bersikap tenang. Dia harus membalas Clarissa dengan cara yang cantik, agar wanita itu sadar diri. Ia lantas berdiri lalu berjalan mendekati Deka dan memeluk pundak lelaki itu dari belakang.
Deka sungguh terkejut dengan tingkah Starla.
__ADS_1
"Sudahlah, Sayang. Turuti saja permintaannya, kasihan dia sudah datang. Lagian kita kan bisa berpesta bersama," ujar Starla mesra.
Clarissa tercengang, dia langsung bangkit dan menarik lengan Starla agar menjauhi Deka, "Apa-apaan kau ini? Jangan sentuh Deka, dasar pembantu murahan!"
"Clarissa! Jaga ucapan mu!" bentak Deka yang tak terima Clarissa menghina kekasihnya. Dia menarik Starla dan menyembunyikan wanita itu dibalik tubuhnya.
Clarissa tak percaya Deka membentaknya, "Deka! Kau tega membentak ku hanya karena pembantu sialan ini?"
Deka menatap Clarissa dengan kesal, "Aku minta maaf, tapi kau harus tahu jika Starla adalah kekasihku, jadi tolong jangan menghinanya!"
Clarissa terperangah, hatinya sakit dan terluka mendengar pengakuan pria yang sudah lama dia cintai itu.
Clarissa menggeleng, masih tak percaya, "Tidak, ini omong kosong! Kamu pasti bercanda, Ka! Bagaimana mungkin kamu mau berpacaran dengan wanita seperti dia!"
"Memangnya kenapa? Tida ada yang salah dengan dia, Sa. Dan yang terpenting aku mencintainya," ucap Deka tegas, dia sedikit emosi dan tak terima Clarissa berkata yang merendahkan Starla.
Mendengar pembelaan dari Deka, Starla merasa terharu sekaligus bangga, dia mengintip dari balik punggung Deka dan tersenyum penuh kemenangan.
Air mata Clarissa seketika jatuh menetes, pupus sudah harapannya untuk bisa memiliki Deka, hatinya remuk redam mendengar lelaki itu mencintai wanita lain.
"Kamu jahat, Deka! Selama ini aku mencintaimu, aku sudah cukup baik terhadapmu, dan selalu berusaha membahagiakan mu, tapi ini balasannya?" ujar Clarissa bersungut-sungut.
"Aku minta maaf, tapi selama ini aku hanya menganggapmu sahabat, atau lebih tepatnya seorang adik. Aku tidak punya perasaan apa pun padamu," sahut Deka, dia harus menyadarkan Clarissa jika dia tidak mencintai wanita itu.
"Tapi kenapa kamu memberiku harapan, kamu selalu bersikap baik padaku," imbuh Clarissa penuh emosi.
"Karena kau putri dari orang yang membesarkan aku. Aku menghargai papamu, makanya aku selalu bersikap baik dan menjagamu."
"Aku benci kamu, Deka!" Clarissa berbalik dan berlari pergi meninggalkan rumah Dekat sambil berlinang air mata.
__ADS_1
Deka mengembuskan napas, ada rasa lega bercampur iba, namun dia harus tegas. Dia tak ingin Starla terus berharap dan mengganggu hubungannya dengan Starla.
***