
Sudah hampir dua jam Reyhan memantau rumah Rakis dari kejauhan, ada kegalauan dan dilema dalam benaknya. Jauh di dalam lubuk hatinya, dia tak ingin melakukan perintah pria berambut putih itu, tapi dia tak ada alasan untuk menolaknya.
Reyhan mengusap wajahnya dengan frustasi, dia sudah menelepon Starla puluhan kali untuk mengatakan semua ini, tapi nomor wanita itu tidak bisa dihubungi.
"Apa yang harus aku lakukan?"
Reyhan melirik spionnya, empat orang bodyguard yang berada di mobil lain sedang menunggu perintah darinya.
Reyhan beralasan jika dia ingin memastikan situasi aman dulu baru melakukan pekerjaan mereka, saat ini keadaan jalanan di depan rumah Rakis sudah mulai sepi dan hati Reyhan semakin gundah gulana.
Seorang bodyguard menghampiri mobil Reyhan.
"Bang, apa kita bisa melakukannya sekarang?"
Reyhan tak ada pilihan lagi, dia pun akhirnya mengangguk pasrah, "Baiklah, dua dari kalian ikut aku, dan dua lagi berjaga-jaga di sini!"
"Siap, Bang!"
Bodyguard itu berlari menemui teman-temannya dan menyampaikan perintah Reyhan.
Reyhan mendesah pasrah, dengan gontai dia keluar dari mobil. Dua orang bodyguard langsung menghampirinya sambil membawa bensin dan korek api.
Setelah memastikan keadaan sekitar aman, mereka mendekati rumah Rakis yang gelap sebab lampunya tidak menyala. Reyhan pura-pura mengetuk pintu rumah Rakis seolah ingin menculik pria paruh baya itu, padahal dia tahu Rakis dan Dani sudah pergi dari rumah.
"Sepertinya tidak ada siapa-siapa," ucap Reyhan.
"Kalau begitu kita bakar saja rumahnya, Bang!" cetus salah satu bodyguard yang membawa bensin.
Reyhan termangu, hatinya benar-benar resah dan galau.
"Bang, bagaimana?" tegur bodyguard itu saat melihat Reyhan terdiam membisu.
__ADS_1
Reyhan mengembuskan napas lalu dengan berat hati mengangguk menyetujui usul bodyguard itu.
"Bakar!" pinta Reyhan, dia lalu berbalik dan pergi.
Kedua bodyguard tersebut menyiramkan bensin ke seluruh sudut rumah Rakis, lalu menyalakan korek api dan melemparkannya. Seketika api membesar lalu melahap bangunan rumah itu.
"Cepat pergi dari sini!" teriak salah satu bodyguard.
Keduanya buru-buru berlari meninggalkan rumah Rakis yang kini terbakar.
Reyhan yang sudah masuk ke dalam mobil hanya bisa melihat kobaran api melahap rumah sederhana itu dengan perasaan bersalah.
"Maafkan aku," ucap Reyhan, kemudian melesat pergi diikuti oleh para bodyguardnya.
***
Starla masuk ke dalam kamarnya, dia merebahkan diri di atas ranjang dan meraih ponselnya yang sejak tadi dia biarkan mati. Starla menghidupkan telepon genggamnya itu, dan betapa terkejutnya dia saat melihat banyak notifikasi panggilan tak terjawab dari Reyhan.
Starla mengernyit heran, "Ada apa Reyhan menghubungiku?"
"Cckk, kenapa tidak diangkat, sih?" gerutu Starla sedikit kesal.
Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari luar kamarnya, Starla bangkit dan mencoba menajamkan indera pendengarannya.
Suara Rakis dan Dani terdengar panik dan cemas, membuat jantung Starla berdetak kencang dan seketika merasa khawatir.
"Ada apa ini? Apa Bang Deka terluka lagi?"
Starla yang penasaran turun dari ranjang dan bergegas keluar dari kamar, dia melangkah menuju ruang tamu, tempat Dani dan Rakis berada saat ini.
"Ada apa, Bang?" tanya Starla, wajah cantiknya terlihat cemas.
__ADS_1
"Rumah kami terbakar," jawab Dani heboh.
Starla tercengang, "Haa? Terbakar? Kok bisa?"
Rakis menggeleng, "Entahlah, kami juga tidak tahu. Tadi tetangga kami menelepon dan hanya mengatakan itu saja."
Starla terdiam prihatin.
"Kami akan ke sana untuk melihat keadaannya, kau tunggu di sini!" ujar Dani.
"Iya, Bang," sahut Starla.
"Telepon Deka, kabarin dia!" pinta Dani.
Starla mengangguk.
Dani dan Rakis buru-buru pergi meninggalkan rumah Deka dengan panik dan kalang kabut.
"Ya Tuhan, lindungi mereka!" Starla memandangi kepergian ayah dan anak itu dengan iba dan penuh kecemasan.
Setelah Dani dan Rakis pergi, Starla pun menghubungi Deka, tapi lelaki itu juga tak menjawab teleponnya.
"Bang Deka ngapain, sih? Angkat, Bang!" Starla mengomel sendiri.
Sementara itu, Reyhan sedang berhadapan dengan si pria berambut putih dan melaporkan tugas yang telah dia kerjakan. Sejak tadi ponselnya bergetar di dalam saku celana, tapi Reyhan mengabaikannya.
"Setelah ini mereka pasti akan mendatangi rumahnya yang sudah hangus terbakar dan ini kesempatan kita untuk mencari tahu tempat tinggal mereka yang baru, aku sudah mengutus seseorang untuk mengintai dan membuntuti mereka," ujar pria itu sambil menyeringai licik.
Reyhan terkesiap, dia tak menyangka bosnya itu akan melakukan hal ini.
"Kali ini aku tidak akan membiarkan mereka lolos lagi, aku akan memberikan pelajaran kepada anak itu karena berani melawanku," lanjutnya dengan sorot mata penuh amarah.
__ADS_1
"Bisa-bisa setelah ini Dani dan Starla tertangkap lagi, aku harus lakukan sesuatu," batin Reyhan resah.
***