Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
93. Suara Itu?


__ADS_3

Mobil Deka berhenti sempurna di seberang rumah megah yang tak lain milik Jhon Kotto, suasana rumah itu tampak ramai dan banyak mobil berjajar rapi.


Dari dalam mobil dia dan Dani mengamati rumah mewah itu dengan saksama. Iya, tadi setelah menghubungi Dani, Deka menjemput pria itu sebab dia ingin ikut mencari Starla.


"Sepertinya ada acara," tebak Dani, "apa kita tetap akan masuk?"


"Iya, kita harus menemukan Starla dan membawa dia pulang," sahut Deka.


"Tapi di sana pasti ramai orang, Ka."


Deka menoleh ke arah Dani, "Memangnya kenapa? Aku tetap akan turun dan masuk ke dalam, kalau kau tidak mau ikut, tunggu saja di mobil."


"Hee, mana bisa! Starla itu kan calon istriku, masa aku tidak ikut menyelamatkan dia?" sungut Dani.


Deka tertegun mendengar kata-kata Dani, mendadak hatinya merasa bersalah sekaligus kesal.


"Ya sudah, yuk turun!" Deka pun keluar dari mobilnya.


Dani menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskan nya dengan berat, sejujurnya dia takut sebab sadar diri dia tak mahir berkelahi seperti Deka. Tapi dia mencemaskan Starla, dan juga gengsi kalau cuma diam menunggu di mobil. Dani menguatkan tekadnya dan menyusul Deka keluar.


Kedua pria itu melenggang masuk ke pekarangan rumah Jhon Kotto, seorang bodyguard langsung menghentikan mereka. Dani yang takut, mundur dan bersembunyi di belakang Deka.


"Mau apa kalian?" hardik Bodyguard itu. Sepertinya dia tidak mengenal Deka.


Bugh!


Bukannya menjawab Deka malah melayangkan pukulan telak ke wajah bodyguard itu, kemudian menendang perutnya hingga dia terduduk di tanah sambil meringis kesakitan.


"Kurang ajar," umpat bodyguard itu dengan suara bergetar.


Namun sekali lagi Deka mengangkat kakinya dan menghantamkannya ke rahang kiri bodyguard tersebut. Karena mendengar suara gaduh, dua orang bodyguard lain pun buru-buru keluar dan terkejut mendapati rekan mereka sudah terkapar tak sadarkan diri, namun yang buat nyali mereka menciut adalah saat melihat sosok Deka.


Dua bodyguard itu pernah dihajar oleh Deka, bahkan salah satunya sampai pingsan hanya sekali pukul.

__ADS_1


Tanpa di duga, kedua bodyguard itu berlari masuk dan segera mengabarkan apa yang terjadi pada Jhon Kotto.


"Maaf, Tuan. Ada yang mau saya katakan," bisik salah satu bodyguard tadi.


"Apa?"


"Di luar ada pria yang waktu itu memukul kami saat ingin menculik Nona Starla."


Jhon Kotto tersentak, matanya melotot dengan rahang mengeras.


Seperti tahu dirinya sedang dibicarakan, sosok Deka pun muncul di depan pintu masuk bersama Dani. Kehadiran mereka sontak mencuri perhatian semua orang yang ada di tempat itu.


"Bang Deka, Bang Dani!" seru Starla yang duduk bersimpuh dengan menggunakan kebaya putih.


Deka termangu dengan jantung berdebar, emosinya seketika naik saat melihat kekasihnya duduk bersanding dengan seorang pria tua bangka yang tak lain adalah Datuk Ramzi.


"Abang, tolong aku!" Starla beranjak dan hendak berlari ke arah Deka, tapi dengan cepat dua orang bodyguard tadi menarik lengannya.


"Lepaskan dia!" pinta Deka dingin, tatapannya tajam seakan ingin menikam dua bodyguard itu.


Deka mengalihkan tatapannya ke Jhon Kotto dan tertegun mendengar suara pria berambut putih itu yang familiar, seketika kenangan buruk dua puluh tahun yang lalu melintas di kepalanya.


"Suara itu?" batin Deka, dadanya bergemuruh hebat.


"Bang, tolong aku! Aku tidak mau menikah dengan tua bangka ini!" teriak Starla lagi, membuat lamunan Deka tentang tragedi dua puluh tahun yang lalu buyar seketika.


"Apa-apaan ini? Siapa mereka?" cecar Datuk Ramzi yang mulai kebingungan dengan situasi yang sedang berlangsung.


"Tenanglah, mereka cuma pengganggu. Aku akan mengusir mereka dari sini," ujar Jhon Kotto.


"Apa yang kalian tunggu? Hajar dia!" pinta Jhon Kotto pada para bodyguard nya, tapi tak ada satupun yang berani maju melawan Deka sebab tahu seperti apa kemampuan pria itu.


"Kenapa diam? Cepat hajar!" teriak Jhon Kotto lagi saat melihat anak buahnya tak bergerak.

__ADS_1


Mau tak mau para bodyguard itu bergerak maju dan menyerang Deka, tak ingin terkena pukulan, Dani berengsut dan sedikit menjauh dari Deka


Dua orang bodyguard berbadan atletis langsung menyerang Deka bersamaan, dari sebelah kanan, seorang bodyguard menendang Deka dan dari sebelah kiri bodyguard yang satunya lagi mencoba memukulnya.


Deka yang sudah sangat siap dengan serangan mereka menahan tendangan dengan tangannya yang membentuk siku menutupi kepalanya dan bergerak menghindar dari pukulan si bodyguard sebelah kiri.


Kesal karena pukulannya tidak mengenai sasaran, bodyguard yang berada di sisi kiri kembali menyerang Deka, baru saja dia mengangkat tangan hendak memukul Deka, pria itu sudah lebih dulu menyerangnya dengan tendangan memutar (dalam istilah MMA dikenal dengan spining back heel) dan tepat mengenai perutnya. Bodyguard tersebut langsung ambruk dan meringkuk memegangi perutnya yang sakit.


Melihat rekannya roboh, bodyguard yang satunya lagi pun ingin menghajar Deka, dia bergerak maju ke arah lelaki itu.


Melihat bodyguard tersebut ingin menyerangnya, Deka berlari menuju si bodyguard, dan ketika jarak keduanya semakin dekat, Deka melompat lalu mengangkat dengkulnya hingga mengenai rahang si bodyguard (istilah MMA dikenal dengan flying knee). Tubuh kekar bodyguard itu sontak jatuh tak sadarkan diri.


Semua orang terperangah melihat adegan itu, termasuk Jhon Kotto. Ternyata apa yang dikatakan anak buahnya benar, pria di hadapannya ini memang tak bisa diremehkan.


"Kalau begini, kami pergi saja!" ujar Datuk Ramzi takut dan bergegas pergi bersama orang-orangnya.


"Tunggu! Jangan pergi dulu!" Jhon Kotto berusaha menahan Datuk Ramzi, tapi pria tua itu tak menggubrisnya, membuat Jhon Kotto semakin kesal.


"Berengsek! Ini semua gara-gara kau, Keparat!" umpat Jhon Kotto lalu menatap dua orang bodyguard yang memegangi Starla, "Kalian berdua, hajar dia!"


Dua bodyguard itu menelan ludah, melihat dua temannya terkapar karena dibantai oleh Deka membuat nyali mereka semakin menciut.


Jhon Kotto mengernyit saat melihat dua bodyguard itu cuma mematung dengan wajah pucat, "Kenapa diam? Cepat habisi dia!"


"Ba-baik, Tuan." Keduanya melepaskan lengan Starla dan bergerak mendekati Deka, namun saat melihat tatapan tajam pria berdarah dingin itu, keduanya pun memutuskan untuk mundur lalu lari tunggang langgang.


Jhon Kotto tercengang, melihat dua bodyguard nya yang begitu pengecut.


"Mau ke mana kalian?" bentak Jhon Kotto, tapi dua bodyguard itu tak peduli, kini tinggallah dia seorang.


Dani dan Starla tersenyum.


"Sekarang tinggal kau, biarkan Starla pergi atau nasib mu akan berakhir seperti mereka," kecam Deka dingin sambil menatap tajam Jhon Kotto.

__ADS_1


***


__ADS_2