Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
97. Mengungkap Rahasia 1.


__ADS_3

Sore ini, Deka mengajak Dani ketemuan di pinggir dermaga, dia ingin membongkar hubungannya dengan Starla, karena cepat atau lambat, Dani pasti akan tahu juga.


"Tumben sekali kau mengajakku ketemuan di sini? Memangnya ada apa?" tanya Dani yang berdiri di sebelah Deka.


"Ada yang ingin aku katakan," sahut Deka sedikit tegang.


Dani mengernyit, "Apa? Sepertinya serius?"


Deka menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskan nya cepat sebelum akhirnya bicara, "Aku mencintai Starla."


Dani terdiam beberapa detik, jantungnya mendadak berdebar kencang. Tapi kemudian dia tertawa sambil menggelengkan kepalanya, "Kau pasti bercanda, iya, kan?"


Deka tertunduk, "Aku serius, Dan. Kami bahkan sudah berpacaran dan aku berniat ingin menikahinya."


Dani terhenyak, hatinya seketika sakit sekali. Rasanya bagai mimpi buruk mendengar pengakuan sahabatnya itu. Dia masih mengamati Deka, berharap ekspresi wajah sahabatnya itu berubah, namun Deka tetap terlihat tegang.


"Kau benar-benar serius?" Dani memastikan lagi.


Deka mengangguk pelan, membuat hati Dani semakin perih dan naik darah.


"Kau tahu aku sangat mencintainya, kau juga tahu impianku ingin menikahinya, tapi kenapa kau tega merebutnya dariku?" hardik Dani marah.


Deka mengangkat kepalanya dan menatap Dani, "Aku minta maaf, Dan."


Bugh.


Sebuah pukulan mendarat keras di wajah Deka, membuat sudut bibirnya pecah dan berdarah. Namun Deka tak mau membalasnya, dia hanya menyeka darah itu dengan ibu jarinya.


"Kita sudah bersahabat selama dua puluh tahun, tapi kau tega menusukku dari belakang seperti ini!" sungut Dani kecewa.


"Aku sungguh minta maaf, Dan. Perasaan cinta itu datang begitu saja."


"Diam kau, pengkhianat!" bentak Dani.


Deka termangu mendengar cercaan yang Dani lontarkan untuknya. Hatinya terluka, tapi dia sadar ini salahnya.


"Andai kau bukan sahabat yang aku sayangi, mungkin rasanya tidak akan sesakit ini," ujar Dani lirih, kemudian beranjak pergi meninggalkan Deka yang terdiam karena merasa bersalah.

__ADS_1


Dia sudah menduga Dani pasti akan marah sebab dia tahu lelaki itu sangat mencintai Starla, tapi dia tak ada pilihan, Dani harus tahu semua ini.


Deka mengembuskan napas berat lalu memandang hamparan lautan yang sangat luas di depannya. Dia tak pernah menyangka akan jatuh cinta pada Starla dan akhirnya berseteru dengan Dani, dia tentu tak akan bisa memilih di antara mereka, karena dua orang itu sangat berharga dalam hidupnya.


Mungkin Deka akan menemui Dani dan meminta maaf lagi nanti setelah amarah sahabatnya itu mereda, saat ini biarlah mereka saling merenungi apa yang terjadi.


Deka pun segera meninggalkan dermaga itu, saat ini dia ingin sekali bertemu Starla.


Di perjalanan, Dani menarik gas motornya dengan kalap, sepeda motor itu pun melaju dengan kecepatan tinggi. Dia benar-benar tak percaya sahabat yang begitu dia sayangi sampai hati merebut wanita yang dia cintai. Hatinya sangat sakit, dia tak bisa menerimanya begitu saja, dia tidak rela Deka dan Starla menikah sementara dia terpuruk patah hati.


***


Starla sedang menonton televisi bersama Reyhan, saat sebuah pesan dari nomor asing masuk ke telepon genggamnya.


"AKU TAHU KAU DAN DEKA SALING MENCINTAI, TAPI KAU HARUS TAHU LAKI-LAKI MACAM APA KEKASIHMU ITU."


Starla mengernyit heran saat membaca pesan itu, dia penasaran siapa si pengirim pesan dan apa maksudnya. Namun belum lagi habis rasa penasaran Starla, sebuah pesan kembali masuk dari nomor yang sama.


"DEKA ITU PEMBUNUH, DIA PSIKOPAT. SUDAH BANYAK ORANG YANG DIA HABISI DENGAN SADIS. DAN ASAL KAU TAHU, DIA TERLUKA WAKTU ITU KARENA GAGAL MENGHABISI TARGETNYA. KALAU KAU TIDAK PERCAYA, BONGKAR KAMAR DEKA DAN TEMUKAN PISTOL DI SANA."


Starla terperangah, dia tak percaya dengan apa yang dia baca ini. Reyhan yang memperhatikan tingkah wanita itu pun bertanya.


Dengan tangan gemetar, Starla menyerahkan ponselnya pada Reyhan, "Baca ini!"


Reyhan mengambil benda pipih itu lalu membaca isi pesan dari orang misterius tersebut. Sama seperti Starla, Reyhan pun terkejut melihatnya, dia lalu menatap Starla dengan cemas.


"Siapa yang mengirim pesan ini?"


Starla menggeleng, "Aku tidak tahu."


"Coba hubungi!"


Starla menghubungi nomor itu, tapi tidak tersambung.


"Bagaimana?"


"Tidak bisa, sepertinya nomor aku sudah diblokir," keluh Starla.

__ADS_1


"Apa benar dia pernah terluka?" Reyhan memastikan.


Starla mengangguk, "Iya, beberapa Minggu yang lalu dia pulang dalam keadaan terluka parah, dadanya robek. Tapi dia mengatakan itu hanya kecelakaan kerja."


Reyhan menghela napas, "Kita harus buktikan apa yang si pengirim pesan ini katakan. Kita harus cek kamarnya!"


"Tapi, Rey." Starla sedikit ragu.


"Starla, kalau memang benar dia seorang psikopat, kau harus menjauh darinya. Aku takut dia juga menyakitimu."


Starla terdiam, sejujurnya dia takut tapi dia juga tak ingin berpisah dari Deka.


"La, apa lagi yang kamu tunggu? Ayo kita geledah kamarnya sebelum dia pulang!"


"I-iya."


Reyhan dan Starla bergegas naik ke lantai atas lalu masuk ke kamar Deka. Mereka berpencar, Starla membongkar lemari pakaian Deka, sedangkan Reyhan mencari di setiap laci dan sudut kamar tersebut.


Beberapa menit kemudian, semua tempat sudah digeledah, namun apa yang mereka cari tidak ada.


"Sepertinya pesan itu bohong, Rey. Buktinya tidak ada pistol di kamar ini." Starla merasa sedikit lega.


Reyhan masih celingukan, mencari tempat mana lagi yang belum mereka jamah, dan pandangannya tertuju pada kolong tempat tidur. Dengan perlahan Reyhan mendekati ranjang kemudian berjongkok untuk mengintip ke bawah. Dan benar, ada sebuah pistol yang tergeletak. Ternyata setelah menembak Julio Winata waktu itu, Deka kembali menyimpan pistolnya di bawah ranjang.


Tanpa pikir panjang, Reyhan membuka sarung bantal. Starla yang mengamati Reyhan segera mendekati lelaki itu.


"Ada apa, Rey?"


Reyhan melapisi tangannya dengan sarung bantal lalu mengambil pistol itu, dia tak ingin sidik jarinya melekat di senjata api tersebut.


"Aku menemukannya." Reyhan menunjukkan benda yang dia dapat ke Starla.


"Ya ampun!" Starla memekik sambil menutup mulut dengan tangannya yang gemetar.


"Jadi benar dia seorang pembunuh," batin Starla.


"Sedang apa kalian di sini?"

__ADS_1


Starla dan Reyhan sontak menoleh ke arah pintu dengan wajah tegang sambil menelan ludah.


***


__ADS_2