
Deka sudah bangun namun dia masih tergolek di atas ranjang, dia terkesiap saat Victor masuk ke dalam kamarnya bersama dokter muda itu.
"Tuan Victor." Deka hendak bangkit tapi Victor menahannya.
"Sudah, tidak usah bangun!"
Deka tidak jadi bangkit dan kembali berbaring.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Victor.
"Aku sudah mendingan, Tuan," jawab Deka bohong, sejujurnya dia sedang menahan sakit pada lukanya yang berdenyut, tapi dia gengsi untuk mengakui sebab tak ingin terlihat lemah.
"Ini aku bawakan dokter, dia akan memeriksa lukamu itu," ujar Victor lalu beralih memandang dokter muda itu, "silakan, Dok!"
"Baik, Tuan." Dokter muda itu mendekati Deka dan memeriksa luka di dadanya.
"Darahnya sudah berhenti tapi lukanya tetap harus dijahit agar mempercepat penyembuhannya dan tidak masuk kotoran serta bakteri," terang dokter itu.
"Lakukan saja yang terbaik, Dok," sahut Deka.
"Baiklah, saya akan melakukan hecting." Dokter itu membuka tas yang dia bawa dan mengeluarkan peralatan medisnya.
Sebelum melakukan prosedur hecting atau menjahit luka, dokter muda itu terlebih dahulu memakai sarung tangan steril lalu membersihkan luka Deka dengan cairan antiseptik. Dokter itu kemudian memberikan anastesi lokal di jaringan sekitar luka, Deka sempat sedikit meringis sakit saat jarum anastesi itu menusuknya.
"Kita tunggu biusnya bekerja," kata dokter itu.
__ADS_1
Sambil menunggu efek biusnya, dokter muda itu pun menyiapkan alat-alat yang akan dia gunakan untuk menjahit luka Deka.
Beberapa saat kemudian setelah memastikan obat bius nya sudah bekerja, dokter muda pun mulai menjahit luka Deka dengan teliti. Deka memejamkan mata menunggu dokter itu menyelesaikan pekerjaannya, sedangkan Victor hanya berdiri memperhatikan mereka.
Setelah selesai menjahit luka di dada Deka, dokter itu pun menutupnya dengan kain kasa steril.
"Sudah selesai, tapi usahakan untuk sementara ini jangan terkena air dulu, karena di air terdapat bakteri atau kuman yang bisa membuat luka basah dan infeksi," terang dokter itu.
"Iya, Dok," balas Deka.
"Ini saya berikan obat pereda nyeri dan antibiotik agar lukanya cepat kering." Dokter itu mengeluarkan dua papan obat dan beranjak hendak meletakkan obat-obat itu di atas meja nakas, tapi dia terkesiap saat melihat ada obat pereda nyeri, penghenti pendarahan dan antibiotik di atas meja tersebut yang masing-masing sudah berkurang satu.
Dokter itu mengangkat ketiga obat tersebut dan menunjukkannya pada Deka, "Obat-obat ini dari mana?"
"Temanku yang memberikannya," jawab Deka.
"Tadi malam."
Dokter muda terdiam memandangi obat-obatan di tangannya.
"Ada apa, Dok?" tanya Victor sebab heran melihat dokter itu bergeming.
Dokter itu menggeleng, "Tidak, tidak ada apa-apa, Tuan."
"Kalau begitu teruskan meminum antibiotik ini saja dan obat pereda nyerinya," lanjut si doker, dia kembali meletakkan obat-obat itu di atas meja dan mengambil kembali obat antibiotik yang dia berikan tadi.
__ADS_1
"Jadi apakah semua sudah selesai?" tanya Victor lagi memastikan.
Dokter itu mengangguk, "Sudah, Tuan. Nanti dua hari lagi saya akan kembali untuk memeriksa lukanya."
"Baiklah, terima kasih. Nanti saya akan transfer bayarannya," kata Victor.
Dokter itu tersenyum, "Iya, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu."
"Terima kasih, Dok!" sela Deka pelan.
Dokter itu kembali mengangguk sambil menatap Deka, "Sama-sama. Semoga cepat sembuh!"
Setelah memastikan barang-barangnya tidak ada yang tertinggal, dokter muda itu pun bergegas keluar dari kamar Deka dan meninggalkan Victor di sana.
Saat menuruni anak tangga, dokter itu tak sengaja melihat Starla yang sedang berdiri di dapur. Dengan sedikit ragu dia melangkah mendekati Starla tanpa sepengetahuan wanita itu.
"Hai, boleh saya bertanya?"
Starla sontak berbalik, dan tercengang ketika melihat dokter itu berdiri di belakangnya. Starla mendadak panik dan tegang, dia celingukan memastikan tidak ada orang lain di tempat itu.
"Kamu ini koas di rumah sakit Embung Fatimah, kan?" tanya dokter itu.
Tepat bersamaan Dani muncul dari ruang tamu dan mendengar pertanyaan dokter muda itu.
Starla terdiam sambil menelan ludah.
__ADS_1
***