Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
38. Merayakan Ulang Tahun.


__ADS_3

Deka menjemput Clarissa di rumahnya, wanita berwajah oriental itu terlihat sangat cantik dengan balutan gaun berwarna senada dengan kemeja yang dikenakan Deka.


"Aku cantik tidak?" tanya Clarissa.


"Cantik," jawab Deka datar.


"Ih, jawabnya gitu amat! Tidak ikhlas bilang cantiknya," keluh Clarissa sebab kesal dengan sikap dingin Deka.


Deka hanya tersenyum, lalu membukakan pintu mobil untuk Clarissa. Setelah wanita itu masuk ke dalam mobil, dia segera menyusul.


Keduanya pun meninggalkan kediaman Victor. Tanpa sepengatahuan Deka dan Clarissa, lelaki berdarah Tiongkok itu sedang memperhatikan mereka dari balik jendela kamarnya.


"Kita mau ke mana?" tanya Deka yang fokus mengemudi.


"Harbour Bay Seafood Restaurant." Clarissa menyebutkan salah satu restoran mewah yang ada di Batam.


Tanpa bicara, Deka segera memacu mobilnya menuju restoran yang wanita itu katakan.


Tak berapa lama, keduanya pun tiba di sebuah restoran tepi pantai yang mewah, pemandangan laut yang indah begitu memanjakan mata, ditambah lagi lampu-lampu yang menyala karena hari sudah gelap, menambah kesan romantis.


Seorang pelayan menyambut mereka dan mengantarkan keduanya ke meja yang sudah disiapkan, ada beraneka macam makanan olahan seafood dan minuman, juga sebuah kue ulang tahun di atas meja itu. Ternyata Clarissa sudah memesan tempat dan menyiapkan semuanya.


"Surprise!" seru Clarissa.


Deka mengerutkan keningnya, "Kau menyiapkan semua ini?"


Clarissa mengangguk, "Iya."


"Terima kasih, ya, Sa."


Clarissa tersenyum lalu tiba-tiba mencium pipi kiri Deka, membuat lelaki itu terkejut.


"Selamat ulang tahun, ya, Ka. Semoga kau bahagia selalu," ucap Clarissa setelah mencium pipi Deka.


"Iya, sekali lagi terima kasih," balas Deka sedikit gugup, dia merasa tidak enak dengan beberapa pengunjung yang memperhatikan mereka.


"Kalau begitu sekarang kita tiup lilin dan potong kuenya!" cetus Clarissa sembari menarik Deka untuk duduk.


Deka menurut, meskipun dia tidak terlalu menyukai hal-hal yang manis seperti ini, tapi dia selalu menghargai orang-orang yang telah peduli dan berusaha membahagiakan dirinya.


Deka meniup lilin dan memotong kue ulang tahunnya.


"Kau tidak ingin menyuapkan kuenya padaku?"


"Kau kan bisa makan sendiri!"


"Ish, Deka! Kau itu tidak bisa romantis sebentar saja!" sungut Clarissa.


"Malu dilihat orang, Sa!"

__ADS_1


"Peduli apa dengan mereka? Kita kan tidak menggangu mereka!"


Deka menghela napas, lalu menyodorkan potongan kue ulang tahunnya ke depan mulut Clarissa dan wanita itu pun memakannya.


"Sudahkan? Sekarang aku mau makan, aku lapar," tutup Deka menyudahi drama Clarissa.


Wajah Clarissa berubah masam, dia sedikit kesal dengan sikap dingin Deka itu.


Sejenak tak ada pembicaraan di antara mereka, Deka sibuk menyantap makanan di hadapannya sementara Clarissa hanya memandanginya.


Deka menyadari Clarissa tidak makan pun menegurnya, "Kau tidak makan?"


Clarissa menggeleng, "Aku tidak lapar!"


"Kalau begitu kenapa kau memesan makanan sebanyak ini? Siapa yang akan menghabiskannya?"


"Kau."


"Sa, aku mana mungkin bisa menghabiskannya," keluh Deka.


"Kalau begitu bawa pulang saja untuk pembantu mu di rumah," ujar Clarissa.


Deka tercenung, seketika dia teringat dengan Starla.


"Kenapa? Kau malu membawa makanan sisa?" tanya Clarissa saat melihat Deka melamun.


"Bukan begitu, aku tidak enak saja," sanggah Deka.


"Masa yang aku bawa makanan sisa."


"Memangnya kenapa? Para pembantu itu sudah biasa mendapatkan makanan sisa, mereka tidak akan keberatan, apalagi ini makanan enak dari restoran mahal. Mereka tidak akan bisa makan jika bukan kita yang belikan," ucap Clarissa sombong.


"Sa, jangan bicara seperti itu! Walaupun mereka bekerja untuk kita, tapi kita juga harus tetap menghargai mereka! Karena mereka juga punya perasaan!" sungut Deka kesal, Clarissa terkejut melihatnya.


"Kenapa kau marah?"


"Aku tidak marah, aku hanya menasihati mu saja," bantah Deka, entah mengapa hatinya begitu kesal mendengar Clarissa merendahkan orang lain.


"Baiklah, kalau begitu aku minta maaf," pungkas Clarissa, dia tak ingin berdebat lagi dengan Deka, meskipun dia bingung melihat sikap lelaki itu, tak biasanya Deka peduli dengan orang lain.


Deka tak membalas, dia menenggak minuman lalu menghela napas. Saat ini mendadak dia jadi memikirkan Starla yang sedang sendirian di rumah.


Clarissa menggenggam tangan Deka, "Ka, kenapa tidak makan lagi?"


"Aku sudah kenyang," kilah Deka.


"Ya sudah kalau begitu kita pergi dari sini, aku masih ada satu kejutan lagi," ujar Clarissa.


"Apa?"

__ADS_1


"Ada, deh! Yuk!" Clarissa beranjak dan langsung menarik lengan Deka.


"Kita mau ke mana, Sa?"


"Sudah, ikut saja!"


Walaupun kebingungan, tapi Deka tetap mengikuti Clarissa, dia tak ingin mengecewakan wanita itu yang sudah bersusah payah menyiapkan semuanya.


***


Clarissa mengajak Deka ke salah satu klub malam terkenal di kota Batam yang jaraknya tidak terlalu jauh dari restoran tadi.


"Kenapa ke sini?" tanya Deka.


"Kita akan lanjut merayakan ulang tahunmu di sini," sahut Clarissa penuh semangat.


"Sa, tidak usah! Yang tadi saja sudah cukup!" tolak Deka.


"Belum, Deka! Yang ini baru party sesungguhnya!" seru Clarissa, "Lagipula kita sudah lama sekali tidak begini, aku kangen."


"Sa, ini sudah malam. Sebaiknya kita pulang!"


"Ih, Deka! Namanya juga ke klub malam, ya harus malam lah. Mana ada orang siang-siang ke klub malam. Sudah, yuk masuk!" Clarissa sedikit memaksa.


"Kita pulang saja!" pinta Deka tegas.


Wajah Clarissa seketika cemberut, dengan mata berkaca-kaca, "Kau ini keterlaluan sekali! Aku sudah mempersiapkan semuanya dengan susah payah, tapi kau malah mau merusaknya! Ya sudah kalau kau tidak mau, aku masuk sendiri saja!"


Clarissa yang merajuk berjalan meninggalkan Deka.


Deka mengembuskan napas menahan kesal. Kalau saja wanita itu bukan Clarissa, Deka pasti sudah pergi meninggalkannya. Dengan sangat terpaksa Deka pun menyusul Clarissa masuk ke dalam klub malam itu.


Di dalam bar, Deka mengedarkan pandangan mencari Clarissa yang sudah tidak kelihatan. Pencahayaan yang kurang sedikit menyulitkan Deka mencari keberadaan wanita itu.


Namun tiba-tiba, Clarissa menggandeng lengan Deka dari belakang, "Aku tahu kau pasti akan menyusul ku."


Deka menoleh ke arahnya, "Aku punya tanggung jawab menjagamu selama kau pergi bersamaku."


Clarissa tertawa dan menarik lengan Deka, "Yuk, kita duduk di sana!"


Keduanya melangkah mendekati sebuah meja bar dan seorang bartender menyambut mereka dengan ramah.


"Hai, Clarissa. Aku pikir kau tidak jadi datang," ujar bartender itu.


"Pasti jadilah, aku kan sudah janji," Balas Clarissa, "oh iya, kenalkan ini Deka."


Bartender itu mengulurkan tangannya, "Aku Vano."


Deka tersenyum kaku sembari menjabat tangan Vano, dia sungguh tidak menyukai semua ini, namun terpaksa menuruti keinginan Clarissa.

__ADS_1


***


__ADS_2