
Deka memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah yang Gepeng katakan tadi, sekilas rumah yang cukup besar itu terlihat sepi, tak terlihat tanda-tanda ada aktivitas di sana.
Cukup lama Deka bersabar memperhatikan rumah itu, sampai akhirnya seorang pria memakai kaca mata bernama Amir keluar dari dalam rumah tersebut sambil menenteng sebuah tas. Amir naik ke atas motor dan melesat pergi, Deka pun buru-buru menyalakan mesin mobilnya dan segera membuntuti pria itu.
Setelah sedikit jauh dari rumah itu dan di jalan yang sepi, Deka menyalip motor Amir dan menghadangnya. Amir terkejut dan langsung mengerem mendadak sehingga dia nyaris terjatuh.
Deka pun segera turun dari mobil dan menghampiri Amir lalu menarik kerah jaket lelaki itu," Ikut aku!"
"Apa-apaan ini? Siapa kau?" tanya Amir, dia bingung bercampur panik.
"Diam dan turuti aku! Atau kau tidak akan melihat matahari besok," ancam Deka sembari menyeret Amir ke mobilnya.
"Masuk!" pinta Deka.
Karena takut, Amir pun menurut dan masuk ke dalam mobil, di susul oleh Deka yang duduk di sampingnya lalu menutup pintu.
"Sebenarnya kau ini siapa? Apa mau mu?" tanya Amir.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku! Aku cuma ingin mendapatkan informasi darimu, jadi jawab yang jujur!"
"Informasi apa?"
"Siapa pemilik pabrik narkotika di Blok B nomor 9 itu?"
"Pabrik apa? Narkotika apa? Aku tidak mengerti dengan apa yang sedang kau bicarakan?" Amir pura-pura tidak tahu.
"Tidak usah berpura-pura lagi! Aku hanya ingin tahu pemiliknya, bukan berdebat pembuktian denganmu!"
"Ta-tapi aku memang tidak mengerti maksudmu," Amir mulai gugup dan Deka menyadari itu.
"Aku tahu kau berbohong! Kau tenang saja, aku ini bukan polisi, jadi aku tidak akan menangkap mu."
Amir terdiam dengan wajah tegang, dia takut namun juga tak tahu harus melakukan apa, sebab dia hanya pria biasa yang tak punya kemampuan bela diri.
"A-aku tidak tahu siapa pemiliknya, aku cuma kurir," jawab Amir kemudian.
"Kau pikir aku percaya? Jawab yang jujur!" bentak Deka, lalu meninju wajah Amir dengan kuat, dia mulai habis kesabaran.
Amir meringis sakit dengan tubuh yang gemetar, dia benar-benar ketakutan tapi juga keras kepala.
"Kau masih ingin tutup mulut?" Deka kembali mengangkat tangannya yang terkepal.
__ADS_1
Amir berengsut dan berusaha menutupi wajahnya agar tidak terkena pukulan lagi, "Jangan sakiti aku, aku mohon! Aku benar-benar tidak tahu, aku cuma seorang kurir."
"Baiklah, sepertinya menghadapi mu harus dengan cara yang kasar." Deka lantas memelintir tangan Amir, hingga pria itu merasa kesakitan, kemudian dia mengeluarkan sebuah pisau lipat yang memang selalu dia bawa ke mana-mana dan meletakkannya di leher Amir.
"Katakan atau aku buat kau berhenti bernapas!" ancam Deka dingin, membuat Amir kian gemetar.
"Ju-Julio Winata!" Nama itu meluncur keluar dari mulut Amir karena ia sangat ketakutan dan tak ingin kehilangan nyawanya.
Deka mengerutkan keningnya, "Julio Winata?"
Dia merasa asing dengan nama itu, tapi dia akan cari tahu siapa sebenarnya Julio Winata.
Deka menatap Amir yang masih meringis kesakitan, "Kau ingin bebas dan selamat dariku?"
Amir mengangguk, "Iya, tolong lepaskan aku!"
"Kalau begitu jawab aku! Sudah berapa lama pabrik itu berdiri?"
"Kurang lebih dua bulan."
"Apakah Julio juga mengekspor barangnya ke luar negeri?" tanya Deka.
"Kau tahu siapa pelanggannya di Singapura?"
"Kalau tidak salah namanya Hendri Wang, aku pernah dua kali mengantarkan Tuan Julio ke dermaga gelap untuk transaksi dengan anak buahnya," terang Amir.
Deka terkesiap dan mengeraskan rahang menahan geram, dia sudah menduga jika Hendri Wang memang memesan barang dari orang lain. Tapi ada yang aneh, biasanya Victor selalu mengirimkan barang pesanan Hendri Wang melalui pelabuhan, tapi kenapa sekarang pria berkewarganegaraan Singapura itu justru mengutus anak buahnya untuk mengambil langsung barang haram pesanannya itu?
"Kenapa Julio melakukan transaksi langsung dengan anak buah Hendri Wang?" Deka menatap curiga Amir.
"Aku tidak tahu alasannya, sungguh!" sahut Amir takut.
"Kapan terakhir kali Hendri Wang memesan barang dari Julio?"
"Sekitar seminggu yang lalu."
"Lalu kapan kira-kira mereka akan melakukan transaksi lagi?"
Amir termangu, dia bimbang antara mau cerita atau tutup mulut, kalau sampai ketahuan dia memberikan informasi begitu banyak kepada pria yang tidak dia kenal ini, habislah dia.
"Aku tidak tahu," jawab Amir pelan.
__ADS_1
Deka mengerti jika Amir sedang berbohong, dia bisa melihat dari raut wajah lelaki itu yang tegang dan ketakutan.
"Kau jangan takut! Aku akan menjamin keselamatan mu jika kau mau memberiku informasi," imbuh Deka.
"Tapi ...." Amir masih ragu.
"Percaya padaku! Tapi jika kau berbohong dan mempermainkan aku, kau akan rasakan akibatnya! Aku akan cari kau sampai ke lubang semut sekalipun!" ancam Deka lagi, membuat Amir merinding mendengar ucapannya.
"Baiklah. Besok malam jam sepuluh di dermaga gelap perairan pantai Nongsa, mereka akan melakukan transaksi di sana," beber Amir.
"Kau tidak berbohong?" Deka memastikan.
"Sumpah, aku tidak berbohong," balas Amir.
Deka melepaskan lengan Amir lalu menadahkan tangannya ke hadapan lelaki itu, "Mana kartu tanda penduduk mu?"
Meski bingung Amir tetap mengeluarkan benda itu dari dompetnya lalu memberikannya ke Deka.
"Aku sita benda ini, akan aku kembalikan jika ucapan mu terbukti benar. Tapi kalau kau berbohong, aku akan mencarimu. Sekarang kau boleh pergi!"
Amir mengangguk, dengan tergesa-gesa dia keluar dari mobil Deka.
Deka pun pindah ke kursi depan dan segera melesat pergi meninggalkan Amir yang masih ketakutan dan gemetaran.
"Sebenarnya siapa dia? Apa dia mafia juga?" gumam Amir sembari memandangi mobil Deka yang semakin menjauh.
Sementara itu di dalam mobil, Deka menyempatkan diri untuk menghubungi Victor.
"Halo, Tuan."
"Bagaimana? Kau sudah mendapatkan informasi?"
"Sudah, Tuan. Aku sudah mendapatkan informasi kenapa Hendri Wang berhenti memesan barang dari kita," ungkap Deka.
"Bagus. Kau memang selalu bisa diandalkan. Sekarang juga kembali ke pabrik dan ceritakan semuanya padaku."
"Baik, Tuan."
Victor memutus pembicaraan. Deka mengembuskan napas panjang, tugasnya memang berat tapi dia selalu berhasil untuk menyelesaikannya dan membuat bos-nya itu puas.
***
__ADS_1