
Selesai makan malam, Deka dan Dani mengobrol berdua di ruang tamu, sementara Starla mencuci piring di dapur.
"Kau sudah lihat video viral itu?" tanya Dani.
"Sudah," jawab Deka singkat.
"Kau tidak merasa takut?"
Deka mengerutkan keningnya, "Takut?"
"Iya. Apa kau tidak takut jika ini akan menjadi masalah untukmu? Bagaimana kalau sampai polisi mencari mu?"
Deka tersenyum samar, "Aku tidak melakukan kesalahan, aku justru sudah meringankan kerja polisi untuk menyelamatkan masyarakat dari kejahatan. Jadi kenapa harus takut?"
"Iya, aku tahu, Ka. Tapi maksudku, apa kau tidak takut karena masalah ini kau jadi berurusan dengan polisi? Bukankah dari dulu kau paling menghindari hal itu?"
"Kau tenang saja! Semua pasti baik-baik saja," ujar Deka yakin.
Dani menghela napas, dia sungguh kehabisan kata-kata meladeni Deka.
Starla yang sudah selesai mencuci piring dan membereskan meja makan datang menghampiri mereka sambil membawa dua mangkuk puding dengan dengan lelehan coklat di atasnya.
"Aku bawakan makanan pencuci mulut," ucap Starla.
"Wuih, apaan itu? Sepertinya enak!" seru Dani heboh, sementara Deka hanya memandang Starla dan bawaannya.
"Puding coklat siram, tadi siang aku membuatnya. Ayo, cobain!"
Starla meletakkan satu mangkuk puding di hadapan Dani, dan satunya lagi di depan Deka.
"Aku tidak mau!" tolak Deka.
__ADS_1
Starla menatap Deka dengan kecewa, "Kenapa, Bang?"
"Aku tidak suka coklat," sahut Deka datar.
"Dia memang tidak suka coklat, makanya hidup dia tidak ada manis-manisnya," ejek Dani sambil mengambil mangkuk puding yang Starla hidangkan.
"Oh, maaf, aku tidak tahu kalau Abang tidak suka coklat. Padahal coklat itu baik untuk mengubah suasana hati dan menghilangkan stres, karena coklat dapat mengurangi tingkat kadar hormon kortisol. Coklat juga mengandung magnesium yang bisa memproduksi hormon serotonin yang berfungsi untuk menenangkan, jadi emosi kita bisa tetap terjaga," terang Starla panjang lebar.
Deka menatap Starla dengan curiga, "Kau sepertinya paham betul tentang hal itu?"
Starla termangu sambil menelan ludah.
"Pasti kau juga tahu dari film-film yang kau tonton, kan?" tebak Dani menyela.
Starla sontak tertawa canggung, "I-iya, Bang. Aku pernah dengar penjelasan tentang coklat di film yang aku tonton, kebetulan filmnya tentang psikologi gitu."
Deka hanya mengerutkan keningnya mendengar penjelasan Starla tersebut.
"Iya, ini buat Bang Dani saja." Starla menyodorkan mangkuk puding yang satunya lagi ke depan Dani.
"Wah, berat badanku bisa naik ini," seloroh Dani dibarengi gelak tawanya.
Starla pun ikut tertawa, namun Deka hanya memperhatikan wanita itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, Deka segera beranjak untuk melihat siapa yang datang. Dia sedikit terkejut ketika pintu terbuka, dan dua orang polisi sudah berdiri di depan rumahnya.
***
Dua jam berlalu, dua orang polisi tersebut akhirnya pamit undur diri setelah menanyakan beberapa pertanyaan kepada Deka dan Dani. Kedua lelaki itu hanya dijadikan saksi dan dimintai keterangan perihal kejadian perampokan di mini market semalam.
"Aku sempat takut tadi saat melihat polisi-polisi itu," ucap Dani.
__ADS_1
"Iya, aku juga," sela Starla.
Dani menatap Deka yang sejak tadi terlihat tenang, "Kau tidak takut, Ka?"
"Kan sudah aku bilang, kalau aku tidak salah, jadi kenapa harus takut?" jawab Deka enteng.
"Iya juga, sedangkan sudah jelas-jelas salah dan melanggar hukum saja, kau tidak takut, apalagi ini tidak salah," sindir Dani.
Deka hanya melirik tajam sahabatnya itu, dia tahu Dani sedang menyindirnya karena sudah membunuh dan menjalankan bisnis ilegal dengan Victor.
Starla menautkan kedua alisnya, memandang Deka dan Dani bergantian, "Memangnya Bang Deka melakukan kesalahan apa?"
Deka memalingkan wajahnya saat tatapan mata Starla beradu dengan matanya, dia tak ingin menjawab pertanyaan wanita itu.
"Bukan apa-apa, biasalah anak laki-laki," sahut Dani sembari melirik Deka yang tampak tak acuh.
Starla tak membalas ucapan Dani, dia memandangi wajah datar dan dingin Deka dengan penuh selidik.
Sementara itu di sebuah rumah yang cukup besar, seorang pria paruh baya berambut putih sedang memandangi layar ponselnya sambil menahan geram.
"Ini benar-benar Starla," ujar lelaki paruh baya itu saat matanya menangkap sosok Starla di dalam video yang tengah viral itu.
"Iya, Pak. Kejadian ini terjadi di salah satu mini market di Batam dan belum lama terjadi, itu berarti Starla masih ada di Batam," sahut seorang pria muda.
"Kalau begitu cari tahu di mana tepatnya mini market ini berada, kemungkinan Starla tinggal tidak jauh dari sana," pinta pria paruh baya itu.
"Baik, Pak. Aku akan mencari tahu, dan membawa Starla ke hadapan Bapak," balas lelaki muda itu penuh keyakinan.
Pria paruh baya tersebut hanya mengangguk dua kali.
***
__ADS_1