Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
104. Nyawa Dibalas Nyawa.


__ADS_3

Mobil Deka memasuki pekarangan rumah Victor, dia lalu turun sambil menenteng pedang yang masih terdapat bercak darah Jhon Kotto. Melihat keadaan Deka yang mengerikan dan membawa senjata tajam seperti itu, seorang pengawal langsung menghentikannya.


"Kau mau apa?"


"Aku ada urusan dengan Tuan Victor," jawab Deka dingin.


"Tapi kenapa bawa-bawa pedang begitu?"


"Bukan urusanmu! Menyingkir lah dari hadapan ku!" geram Deka dengan sorot mata tajam.


Si pengawal itu merasa ngeri dan segera menyingkir dari hadapan Deka, dia tahu seperti apa kemampuan bela diri Deka dan tak ingin jadi sasaran kemarahan pria itu. Walaupun Deka sudah sering berkeliaran di rumah Victor, tapi kali ini kedatangannya seolah membawa aura kematian.


Deka melangkah masuk ke dalam rumah Victor yang masih sepi, karena para penghuninya masih tidur. Dia langsung menuju lantai atas tempat kamar bos-nya itu berada.


Begitu tiba di depan kamar Victor, Deka mengetuknya beberapa kali, pintu pun dibuka oleh Victor yang baru saja terbangun. Pria paruh baya itu terkejut melihat kemunculan Deka yang wajahnya dipenuhi cipratan darah kering, lalu tatapannya beralih turun ke pedang berlumuran darah yang Deka tenteng.


"Ada apa ini?" tanya Victor bingung.


Tanpa banyak bicara, Deka meringsek masuk dan mendorong tubuh Victor dengan kuat hingga mundur beberapa langkah.


"Apa yang kau lakukan?" bentak Victor tak terima dengan perlakuan kasar Deka terhadapnya.


"Dua puluh tahun aku hidup kesepian dalam bayang-bayang kematian ayahku, selama itu juga aku terus mencari pembunuhnya dan ternyata orang itu ada di dekatku," ujar Deka sinis.


Perasaan Victor mulai tidak enak, dia merasa resah, namun tetap berusaha tenang. "Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Jangan pura-pura bodoh! Aku tahu kau dalang dari kematian ayahku. Selama ini aku sangat menghargai dan menghormati mu karena aku pikir kau orang baik, aku merasa berhutang budi padamu. Tapi rupanya kau iblis yang sengaja memanfaatkan aku!"


Victor terhenyak, dia sangat terkejut mendengar ucapan Deka, wajahnya seketika tegang. Namun dia masih ingin membela diri.


"Jangan bicara omong kosong, Deka! Aku tidak ada hubungannya dengan kematian ayahmu dan aku mengadopsi mu karena ayahmu adalah temanku, jadi jangan menuduhku sembarangan!" bantah Victor.


"Diam kau! Aku sudah tahu semuanya!" bentak Deka murka, matanya yang merah dan basah semakin tajam menatap Victor, tangannya yang menggenggam gagang pedang pun semakin terkepal kuat.


Sementara itu di luar rumah Victor, Dani dan Rakis yang sudah tiba, berusaha untuk masuk, namun para penjaga tidak mengizinkannya.


Kembali ke kamar Victor, tanpa di duga, pria berwajah oriental itu tertawa, membuat Deka sedikit bingung.


"Jadi sekarang kau mau apa?" tanya Victor dengan nada menantang.


"Oh, jadi begini caramu membalas orang yang sudah berjasa membesarkan mu? Kau sama saja seperti ayahmu, tidak tahu diri!"


"Jangan menghina ayahku!" Deka murka dan langsung menendang dada Victor hingga lelaki itu terpental cukup jauh.


Victor merasakan sakit yang luar biasa pada dadanya, hingga dia sulit untuk bernapas dan bangkit dari lantai.


Deka yang masih belum puas, mendekati lalu menarik Victor untuk kembali berdiri, "Kau harus merasakan apa yang ayahku rasakan dulu!"


Dengan sekuat tenaga, Deka memukul wajah Victor hingga pria psikopat itu kembali terjerembab ke lantai dengan hidung berdarah.


Victor berusaha bangkit, tapi lagi-lagi Deka menendang tubuh lelaki itu hingga terpental dan kepalanya terbentur ke meja nakas.

__ADS_1


Karena di tabrak Victor, benda-benda yang berada di atas meja nakas tersebut pun seketika berjatuhan, termasuk ponsel dan juga pistol milik Victor.


Melihat sebuah pistol ada dihadapannya, Victor langsung memungut benda itu lalu menodongkannya ke arah Deka sambil menyeringai, "Kau pikir bisa semudah itu membunuhku?"


Namun Deka yang sudah gelap mata dan di selimuti amarah tidak peduli, dia tak menganggap pistol itu sebuah ancaman. Dia malah bergerak maju untuk menghabisi Victor.


Karena Deka tidak menunjukkan rasa takut sama sekali, Victor pun panik. Dengan tangan yang mulai gemetar dia menarik pelatuk pistolnya dan menembak.


Dor.


Karena tangan Victor gemetar, peluru tersebut hanya mengenai lengan atas Deka, namun hal itu tidak membuat Deka gentar ataupun takut, dia yang sudah kesetanan tetap melangkah mendekati bos-nya itu.


Victor kian panik karena Deka semakin mendekat, dia kembali menarik pelatuk pistolnya dan menembak Deka.


Dor.


Kali ini pelurunya berhasil menembus dada Deka dan di saat itu juga Deka mengayunkan pedangnya menebas leher Victor hingga kepala pria itu terpisah dari badannya. Tak lama kemudian Deka pun ambruk bersimbah darah.


Karena mendengar suara tembakan, Dani, Rakis dan para pengawal Victor langsung berlari ke lantai atas. Clarissa yang sedang tertidur juga sampai terbangun lalu keluar dari kamarnya.


"Aaaaaaahhhhh!" Clarissa berteriak histeris saat melihat pemandangan mengerikan di kamar papanya, dan langsung jatuh pingsan tepat bersamaan dengan kedatangan Dani dan semua orang.


"Deka!" jerit Dani, dia langsung berlari mendekati Deka yang sedang sekarat.


***

__ADS_1


__ADS_2