Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
40. Kejutan.


__ADS_3

Deka akhirnya pulang, dia terkesiap saat melihat sepeda motor Dani terparkir di halaman rumahnya.


"Jadi dia datang?"


Deka buru-buru masuk ke dalam rumah dengan perasaan cemas, namun dia terkejut saat melihat ada sebuah kue ulang tahun dan beraneka macam camilan serta minuman kaleng di atas meja, tampak Starla juga sudah tertidur di sofa.


"Akhirnya kau pulang juga!" seru Dani saat melihat kedatangan Deka.


"Sejak kapan kau ada di sini?" tanya Deka.


"Sejak tadi sore, aku datang ingin merayakan ulang tahunmu, aku membawa semua ini, tapi kau sudah pergi," keluh Dani kesal.


"Sorry, tadi aku ada janji dengan Clarissa," sahut Deka merasa sedikit bersalah.


"Sudah aku duga, kau pasti pergi dengan wanita itu! Tapi kenapa kau tidak menjawab teleponku?"


Deka terkesiap, "Telepon?"


Deka bergegas mengecek saku celana dan ternyata ponselnya tidak ada.


"Astaga! Ponselku pasti ketinggalan di kamar karena tadi terburu-buru," sesal Deka.


"Pantas saja! Aku sudah puluhan kali menghubungimu," sungut Dani.


Deka tak menjawab, dia lantas berjalan mendekati Starla yang tertidur pulas dan memandangi wajah damainya.


"Kenapa dia tidur di sini?"


"Dia menunggumu pulang dan ingin merayakan ulang tahunmu juga, tapi karena kau lama sekali, dia jadi ketiduran, dia bahkan belum makan malam."


Hati Deka semakin merasa bersalah mendengar aduan Dani, dia tak menyangka kedua orang ini akan menunggunya.


"Padahal kami sudah merencanakan untuk membuat kejutan untukmu, tapi gagal!" lanjut Dani.


Deka berbalik menatap Dani, "Siapa bilang gagal? Aku terkejut, kok. Itu berarti kejutannya berhasil dan mari kita rayakan ulang tahunku bersama."


"Sudah tidak asyik! Starla saja sudah tidur," bantah Dani.


"Aku akan membangunkannya, dia juga kan harus makan malam."


Deka lalu mendekati Starla dan mengguncang pelan tubuh wanita itu, "Hei, bangun!"


Starla menggeliat dan berusaha mengumpulkan kesadarannya, dengan perlahan wanita itu membuka mata.

__ADS_1


"Eh, Abang sudah pulang?" Starla langsung membuka lebar matanya saat melihat Deka dan segera bangkit.


"Iya, baru saja," sahut Deka sembari menjauh dari Starla.


"Baiklah, karena yang ulang tahun sudah ada di sini, sekarang kita mulai acaranya sebelum berganti hari," sindir Dani sembari melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul sebelas lewat lima puluh menit.


Dani dan Starla pun menyanyikan lagu ulang tahun sambil bertepuk tangan dengan riang, Deka hanya tertawa sambil geleng-geleng kepala.


"Selamat ulang tahun, ya, Ka. Semoga kau selalu dilindungi Tuhan dan apa yang kau harapkan bisa terwujud," ucap Dani sambil memeluk Deka.


"Terima kasih, Dan." Deka balas memeluk Dani dan menepuk-nepuk punggung belakangnya.


Dani mengurai pelukannya lalu menatap Starla, "Kau tidak ingin mengucapkan selamat juga?"


Starla tersenyum lalu mengulurkan tangannya ke hadapan Deka, "Selamat ulang tahun, ya, Bang."


Deka menjabat tangan Starla, "Terima kasih."


"Semoga Abang sehat selalu dan menjadi orang yang lebih baik lagi. Cepat nikah, biar tidurnya ada yang temani."


Deka tertawa mendengar kata-kata terakhir Starla, namun dia tak membalasnya. Starla termangu melihat tawa Deka yang begitu lepas.


"Baiklah, sekarang kita makan, yuk! Aku sudah lapar sekali!" sela Dani yang langsung berjalan ke meja makan.


Deka benar-benar merasa bahagia karena perhatian kecil dari Dani dan Starla ini, dengan hati gembira dia juga ikut melangkah menuju meja makan.


Dani telah lebih dulu makan, sebab dari tadi dia sudah kelaparan.


Seperti biasa Starla mengambilkan nasi untuk Deka, tapi kali ini lelaki itu menolak.


"Aku sudah makan tadi, jadi tidak usah ambilkan nasi untukku."


Wajah Starla berubah sedih, "Oh, Abang sudah makan? Ya sudah kalau begitu."


Dani yang menyadari perubahan wajah Starla sontak protes, "Kau ini jahat sekali! Dia sudah bela-belain masak makanan kesukaanmu, kau malah tidak makan!"


Deka termangu, dia sontak memandang Starla yang tengah menuangkan kembali nasi tadi ke tempatnya.


"Aku mau makan!" seru Deka tiba-tiba.


Starla seketika menatap Deka dengan bingung.


"Aku lapar lagi," dalih Deka.

__ADS_1


Dani dan Starla saling pandang, mereka bingung melihat Deka berubah pikiran secepat itu.


Namun tanpa banyak tanya, Starla pun kembali mengambilkan nasi untuk Deka beserta lauk pauknya. Sejujurnya Deka sudah kenyang tapi dia terpaksa harus makan lagi sebab tak ingin Starla kecewa dan sedih.


***


Clarissa sedang menangis tersedu-sedu di dalam kamarnya sembari memandangi foto dirinya bersama Deka yang diambil lima tahun lalu, dia mengusap wajah Deka dengan jarinya.


"Aku pikir setelah bertahun-tahun kita bersama, kau pasti akan memiliki rasa cinta terhadap ku, tapi nyatanya tidak. Kau hanya menganggap ku teman, bahkan yang lebih menyakitkan kau menganggap aku seperti adikmu sendiri. Bukan itu yang aku mau, Deka!"


Air mata Clarissa semakin tak terbendung, hatinya sakit mengingat kata-kata Deka tadi. Selama ini dia menyimpan perasaan terhadap Deka dan berharap lelaki itu membalas cintanya, namun hari ini dia mendengar kenyataan memilukan itu langsung.


Pintu kamarnya diketuk dari luar, lalu terdengar suara Victor, "Sayang, boleh papa masuk?"


Clarissa mengusap air matanya lalu beranjak dan membukakan pintu.


Victor terkesiap melihat wajah masam Clarissa yang dipenuhi jejak-jejak air mata, "Kau menangis? Ada apa?"


Clarissa yang kecewa dan terluka tak bisa menahan diri, dia menatap tajam Victor.


"Kenapa Papa mengatakan itu pada Deka?"


Victor mengernyit, "Mengatakan apa?"


"Jangan pura-pura tidak tahu! Aku sudah mendengar semuanya tadi."


Victor terdiam, kini dia mengetahui maksud putrinya itu.


"Aku kecewa pada Papa," ujar Clarissa lirih.


"Sayang, Papa hanya ingin yang terbaik untuk mu."


"Yang terbaik apanya? Papa bahkan tidak pernah peduli dengan aku! Papa hanya memikirkan diri sendiri dan bisnis haram Papa itu! Papa egois!"


"Clarissa cukup!" bentak Victor, tangannya sudah terangkat hendak menampar Clarissa tapi tertahan di udara.


"Tampar! Tampar aku, Pa! Biar Papa puas!" jerit Clarissa.


Victor hanya bergeming menahan amarahnya.


"Asal Papa tahu, aku akan berusaha merebut hati Deka dan aku tidak peduli Papa setuju atau tidak, karena aku mencintainya." Clarissa bergegas masuk ke dalam kamar dan menangis sejadi-jadinya.


Victor mengepalkan tangannya dengan kuat demi menahan geram, dia tak akan membiarkan sang putri melakukan itu. Sampai kapan pun Deka hanya akan menjadi algojonya, tidak akan berubah.

__ADS_1


***


__ADS_2