
Ketiganya sudah tiba di rumah Deka, dengan langkah yang gontai, lelaki berwajah dingin itu masuk ke dalam rumahnya dan menjatuhkan diri di sofa. Dani pun ikut duduk di sampingnya, sedangkan Starla berinisiatif mengambilkan air minum untuk Deka, agar lelaki itu lebih tenang.
Starla buru-buru kembali membawa segelas air putih dan memberikannya kepada Deka, "Ini, Bang. Di minum dulu!"
Deka menerima gelas yang Starla berikan itu kemudian menenggak airnya sampai habis tak bersisa, dia sepertinya haus karena kelelahan memukuli perampok tadi.
"Kau sudah lebih baik?" tanya Dani saat melihat Deka meletakkan gelas kosong di atas meja, dan sahabatnya itu hanya mengangguk.
Dani beralih memandang Starla yang berdiri mematung di hadapan mereka, "La, bisa tinggalkan kami sebentar?"
"Bisa, Bang. Kalau begitu aku ke dapur dulu." Starla bergegas kembali ke dapur sambil membawa gelas kosong itu.
Setelah memastikan Starla sudah menjauh, Dani kembali memandang Deka.
"Ka, apa tidak sebaiknya kau ke psikiater?" cetus Dani.
Deka sontak menatap tajam sahabatnya itu, "Aku tidak gila, buat apa ke psikiater?"
"Aku hanya khawatir kau tidak bisa mengontrol diri saat aku tidak ada, dan akhirnya malah membunuh orang yang tidak seharusnya kau bunuh," jawab Dani hati-hati, dia takut membuat sahabatnya itu tersinggung dan marah.
Deka tertunduk dan memegangi kepala dengan kedua tangannya, perkataan Dani ada benarnya juga. Seharusnya dia hanya akan membunuh orang-orang yang diinginkan Victor dan pembunuh sang ayah, bukan perampok kelas teri seperti tadi ataupun orang-orang tidak semestinya dia lenyap kan.
Dani merangkul pundak Deka, "Ka, aku tidak selalu ada di dekatmu, aku tak ingin kau menyesal nantinya."
Deka hanya bergeming, mencerna nasihat dari sahabatnya itu.
"Kau sadar, kelakuanmu tadi membuat orang lain ngeri dan takut, bagaimana kalau kau melakukan itu pada orang yang tidak bersalah? Kau bisa mendapatkan masalah, Ka," lanjut Dani.
Deka mengangkat kepala dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, dia sendiri pun bingung bagaimana mengontrol emosinya setiap kali bayangan kejadian di malam mengerikan itu berputar diingatan nya.
"Kau tidak boleh terus-terusan seperti ini, kau harus bisa mengendalikan diri, Ka. Ini akan merugikan mu."
__ADS_1
"Aku tidak bisa, Dan! Selama aku belum menemukan pembunuh ayahku, maka aku akan terus seperti ini," bantah Deka, dia beranjak dan pergi ke kamarnya.
Dani mengembuskan napas berat, dia prihatin sekaligus kesal dengan sikap keras kepala Deka itu. Dia tahu Deka butuh seorang psikiater untuk membantunya sembuh dari trauma ini, dia tak ingin sahabat-sahabatnya itu terus hidup dalam bayang-bayang kematian sang ayah.
Melihat Deka pergi, Starla yang sedari tadi berusaha menguping pembicaraan mereka dari dapur, segera menghampiri Dani.
"Dia sebenarnya kenapa, Bang?" tanya Starla penasaran.
"Tidak apa-apa," jawab Dani, dia tak ingin Starla tahu apa yang terjadi pada Deka.
Namun tentu Starla tak percaya begitu saja, dia tahu ada yang tidak beres dengan Deka, dia harus mencari tahu.
"Tapi tadi aku melihat dia seperti orang yang kesetanan saat memukuli perampok itu, apa dia punya dendam pribadi?"
Dani menggeleng, "Tidak, dia bahkan tidak mengenal mereka. Dia memang begitu kalau sedang emosi, sulit mengendalikan diri."
Starla tercengang, "Wah, benar, Bang? Kalau begitu, aku tidak jadi kerja dan tinggal di sini, deh!"
"Aku takut, kalau dia lagi emosi dan tidak bisa mengendalikan diri, bisa-bisa aku yang jadi korban. Aku tidak mau mati konyol, aku masih ingin hidup lama," ujar Starla.
Dani tersenyum dan geleng-geleng kepala, "Selama dua puluh tahun aku mengenal Deka, belum pernah sekalipun dia memukul seorang wanita, dia tidak segila itu."
"Ya, siapa tahu dia sangat emosi dan kesetanan seperti tadi lalu melampiaskannya padaku, soalnya kan di rumah ini cuma ada aku. Pokoknya aku mau pergi saja dari sini, aku takut, Bang,"
"La, tidak seperti itu! Deka hanya ...." Dani tak jadi melanjutkan kata-katanya, dia ragu untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada Deka.
Starla menautkan kedua alisnya, dia merasa semakin penasaran dengan Deka, "Hanya apa, Bang?"
Dani menggeleng, "Bukan, bukan apa-apa!"
"Jangan-jangan dia ada gangguan jiwa, ya?" tebak Starla seenaknya.
__ADS_1
Dani sontak melotot menatap wanita itu, "Kau ini bicara apa? Dia tidak gila!"
"Lalu apa?"
Dani menghela napas, dia tak ingin Starla salah paham dan berpikir yang tidak-tidak tentang Deka, dengan sangat terpaksa dia akhirnya menceritakan kejadian kelam yang menimpa Deka serta ayahnya dua puluh tahun silam. Namun tentu dia tak menceritakan pekerjaan Deka yang sebenarnya dan semua pembunuhan yang telah sahabatnya itu lakukan selama ini.
Starla menyimak cerita Dani dengan saksama, entah mengapa hatinya terenyuh mendengar kisah hidup Deka yang begitu pilu. Ternyata di balik sikap dingin dan kerasnya, Deka begitu rapuh dan menyedihkan.
"Jadi dia mengalami post traumatic stress disorder? Kasihan sekali," ucap Starla.
Dani mengerutkan keningnya, "Apa itu?"
"Trauma karena kejadian di masa lalu, dan setiap ada pemicunya, dia akan kembali teringat dengan kejadian yang membuat dia trauma, sehingga mempengaruhi pikiran serta emosinya. Karena keinginan yang kuat untuk membalas dendam, dia jadi tidak bisa mengontrol dirinya," terang Starla panjang lebar.
"Aku sudah menduganya, makanya aku suruh dia ke psikiater," ujar Dani.
Starla mengangguk, "Dia memang butuh psikiater dan teman berbagi, selain itu dia juga membutuhkan kasih sayang serta perhatian agar perlahan-lahan bisa sembuh dari luka serta traumanya itu."
"Kau sepertinya tahu banyak tentang hal ini, apa jangan-jangan kau ini seorang psikolog?" Dani menatap curiga Starla.
Starla sontak tertawa, "Mana mungkin orang seperti aku jadi psikolog, Bang! Aku hanya pernah lihat kasus seperti ini di film yang aku tonton."
"Oh, pantas saja." Dani ikut tertawa.
Starla pun mengembuskan napas lega.
Sementara itu di dalam kamarnya, Deka mematung menatap dirinya di depan cermin, wajah tampannya yang dingin masih terdapat cipratan darah si perampok tadi.
Deka mengepalkan tangannya dengan kuat, "Aku berjanji akan menghabisi orang yang telah membunuhmu, Ayah. Aku tidak akan membiarkan mereka hidup dengan tenang."
***
__ADS_1
Jangan lupa like sayang akuh ...🥰