Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
26. Ungkapan Perasaan.


__ADS_3

Akhirnya Starla dan Dani makan malam di salah satu warung sederhana di tepi jalan, keduanya menyantap hidangan sambil mengobrol dan bercanda, apalagi saat mengingat kejadian di mushola tadi, mereka berdua tertawa terbahak-bahak.


"Dia pasti ketakutan sekali tadi, wajahnya sampai pucat," ujar Dani lalu kembali tertawa.


"Akting Bang Dani benar-benar patut diacungi jempol," puji Starla yang juga ikut tertawa.


"Berarti kalau aku ikut casting film, pasti diterima, ya?" seloroh Dani.


"Pasti lah! Kalau begitu Bang Dani jadi artis saja."


"Nanti aku pikir-pikir lagi," balas Dani dengan nada bercanda.


Starla tertawa, namun di dalam hatinya ada sedikit keresahan mengingat pertemuannya dengan Reyhan tadi. Dia takut hal itu membuat masalah yang sedang dia hindari menjadi semakin besar dan rumit.


Setelah selesai makan, Dani mengajak Starla jalan-jalan ke pantai Nongsa-Batam.


"Wah, pantai!" seru Starla saat melihat hamparan lautan nan luas membentang di depannya.


"Ini namanya pantai Nongsa, salah satu tempat wisata yang wajib dikunjungi kalau ke Batam," terang Dani, lalu menunjuk ke arah seberang lautan, "Lihat itu!"


Starla mengikuti arah tangan Dani.


"Itu negara Singapura, dari sini kita bisa melihat lampu-lampu kotanya. Bagus kan?" lanjut Dani.


"Iya, bagus sekali, Bang," sahut Starla yang tidak terlihat terkejut sama sekali.


"Kau pernah ke Singapura?" tanya Dani.


Starla termangu, kemudian menggeleng, "Tidak pernah, Bang."


"Sama, aku dari lahir cuma putar-putar di Batam saja," balas Dani lalu tertawa sendiri.


Starla hanya tersenyum menanggapi ucapan Dani, dia sedang menikmati terpaan angin laut yang bertiup kencang menyapu wajah dan tubuhnya. Sepertinya malam ini akan turun hujan.


Dani berbalik dan menatap Starla yang berdiri di sampingnya, angin yang berhembus membuat rambut wanita itu berantakan dan menutupi sebagian wajah cantiknya. Entah keberanian dari mana, Dani tiba-tiba merapikan rambut Starla dan menyelipkannya di belakang telinga wanita itu.


Starla sedikit terkejut dengan aksi Dani itu, tapi dia tetap bersikap tenang.

__ADS_1


"Aku tidak mau angin membuat rambutmu menutupi wajah cantikmu ini," ucap Dani sembari menatap dalam wajah Starla.


Starla mendadak gugup dan canggung, dia lantas memalingkan wajahnya yang merona, "Bang Dani bisa saja buat kuping aku naik."


"Aku serius, Starla. Kau cantik, dan aku menyukai mu," ungkap Dani tanpa basa-basi.


Starla sontak memutar kepalanya, memandang Dani dengan raut terkejut.


"Sejak pertama kita bertemu, aku sudah jatuh hati padamu. Dan malam ini aku tidak bisa menahannya lagi." Dani tiba-tiba menggenggam tangan Starla.


"Starla, mau kah kau menjadi kekasihku? Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu," lanjut Dani penuh harap.


Starla tercengang, dia tak menyangka Dani akan mengatakan hal itu malam ini.


Dengan perlahan Starla menarik tangannya dari genggaman Dani hingga terlepas, "Aku minta maaf, Bang."


Wajah Dani seketika berubah sendu, perasaannya jadi tidak enak.


"Aku tahu bang Dani orang baik, tapi ini terlalu cepat, Bang. Kita masih belum benar-benar mengenal satu sama lain, dan perasaanku hanya menganggap Abang seorang teman, tidak lebih. Jadi aku sungguh minta maaf karena tidak bisa menerima Abang," jawab Starla dengan sangat hati-hati, dia takut Dani marah karena menolak permintaan lelaki itu.


"Bang Dani jangan marah, ya?"


Dani berbalik dan menatap Starla, "Kenapa harus marah? Kau berhak menolak ku, dan aku menerima itu dengan lapang dada."


Starla termangu, dia merasa kagum pada sikap dewasa dan bijaksana Dani itu.


"Tapi kau tidak boleh melarang aku untuk tetap menyimpan perasaan ini dan berusaha merebut hatimu, karena itu hak ku," sambung Dani tegas.


Starla terkesiap, dia tak menduga Dani akan bertekad seperti itu.


"Ya sudah, tidak usah diambil pusing ucapan ku tadi. Aku tidak ingin ada yang berubah setelah ini, kita tetap berteman seperti biasa, kan?" Dani memastikan.


Starla yang masih gugup dan canggung pun mengangguk, "I-iya, Bang. Kita tetap berteman seperti biasa."


Dani kembali tersenyum sambil mengusap kepala Starla, "Gadis baik!"


Starla hanya bergeming dengan perasaan campur aduk, dia berharap hubungannya dengan Dani tidak berubah menjadi renggang karena hal ini. Dia masih ingin berteman dengan lelaki itu.

__ADS_1


"Kalau begitu, yuk pulang!" ajak Dani.


"Iya, Bang."


Baru saja beberapa langkah Dani dan Starla melangkah, hujan tiba-tiba turun dengan sangat deras.


"Yaa, hujan," keluh Starla.


"Cepat berteduh!" Dani langsung menarik tangan Starla dan mengajak wanita itu berlari menuju sebuah warung yang berada tak jauh dari pantai.


Keduanya pun berteduh di bawah warung itu bersama beberapa orang yang juga terjebak hujan.


Baju Starla sedikit basah dan dia memeluk dirinya sendiri karena kedinginan.


Melihat itu, Dani pun melepaskan jaketnya lalu memakaikannya ke tubuh Starla, "Pakai ini!"


Starla sontak memandang Dani, "Tapi nanti Abang yang kedinginan!"


"Aku anak laki-laki, harus kuat!" kelakar Dani sambil tersenyum.


Starla pun ikut tersenyum mendengar candaan Dani itu, sekarang dia tahu, orang seperti apa lelaki di hadapannya ini.


Demi mengusir jenuh menunggu hujan reda, Dani pun mengeluarkan ponselnya, tapi sial sebab benda pipih itu kehabisan baterai dan mati.


"Cckk, mati lagi!" kesal Dani, dia kembali memasukkan ponselnya ke saku celana.


Sementara itu di rumah, Deka sedang menonton televisi, tapi sejak tadi dia terus saja menukar channel nya, tak ada yang menarik untuk dia tonton. Matanya lalu melirik jam di dinding dan ternyata sudah pukul sebelas malam, membuat Deka merasa sedikit resah karena Dani dan Starla belum juga pulang, apalagi di luar hujan sangat lebat.


"Ke mana mereka? Kenapa belum pulang?"


Deka mencoba menghubungi Dani, tapi tak tersambung, membuat dia kian cemas.


"Apa yang dia lakukan? Kenapa tidak bisa dihubungi?" gerutu Deka.


Dia terus mencoba menghubungi sahabatnya itu, tapi hasilnya tetap sama.


***

__ADS_1


__ADS_2