
Starla terus saja ngedumel, bahkan beberapa kali mengumpat dengan kesal. Pasalnya sudah hampir satu jam Deka dan Clarissa belum juga turun, entah apa yang dilakukan dua orang itu di lantai atas.
"Pasti mereka berbuat yang tidak-tidak! Dasar wanita gatal! Bang Deka juga sama saja!" Starla memotong wortel dengan kasar, dia ingin melampiaskan kekesalan yang entah mengapa menyerang hatinya.
Terdengar suara tawa Clarissa, Starla menoleh ke arah tangga, tampak Deka sedang melangkah turun bersama wanita itu. Starla langsung membuang muka, dia tak ingin melihat dua makhluk menyebalkan tersebut.
Clarissa melirik Starla yang berdiri di dapur, "Aku ambil minum dulu, ya?"
Deka mengangguk lalu meneruskan langkahnya menuju ruang tamu, sedangkan Clarissa berbelok ke dapur dan mendekati Starla.
"Buatkan aku minum!" pinta Clarissa angkuh sambil melipat tangannya di depan dada.
Starla bergeming, dia tak menggubris perintah Clarissa.
"Kau tuli, ya? Buatkan aku minum!" Clarissa kembali memerintah.
"Kau punya tangankan? Ambil sendiri!" balas Starla ketus tanpa memandang Clarissa, dia terus saja memotong wortel di talenan.
"Hee! Kau itu pembantu, jadi sudah seharusnya kau melayani dan menuruti permintaan majikan," sungut Clarissa kesal.
"Tapi kau bukan majikan ku!" bantah Starla.
"Deka itu calon suamiku, itu berarti aku ini juga majikan mu," ujar Clarissa penuh percaya diri.
Starla mengehentikan aktivitasnya, dia termangu, entah mengapa hatinya mendadak sakit bagai ditusuk ribuan jarum mendengar pernyataan Clarissa itu.
__ADS_1
"Benarkah Bang Deka akan menikah dengan wanita ini?" batin Starla bertanya-tanya.
"Kenapa? Kau patah hati? Kasihan sekali," ledek Clarissa saat melihat Starla terdiam dengan wajah sendu.
Starla mengepalkan tangannya dengan kuat, dadanya bergemuruh hebat. Dia berusaha menahan rasa perih di dalam hatinya dengan susah payah.
Clarissa pun mendekatkan wajahnya ke Starla, "Sekarang kau dengar ini baik-baik! Deka itu milikku, jadi aku harap kau tahu diri dan jangan coba-coba menggodanya!"
Darah Starla sontak mendidih, hatinya panas, namun dia tetap menahan diri agar bersikap tenang. Starla pun memutar kepalanya menatap Clarissa sambil tersenyum sinis.
"Kau pikir Deka itu tipe ku? Asal kau tahu, sedikitpun aku tidak tertarik padanya!" ucap Starla tegas, kemudian berbalik hendak pergi. Tapi langkahnya terhenti dan terkejut saat melihat Deka sudah berdiri di belakangnya dan menatapnya dengan kecewa.
Karena Clarissa tidak juga muncul dari dapur, Deka menjadi curiga, ia lantas menyusul wanita itu. Namun dia malah mendengar kata-kata Starla barusan yang begitu menusuk hatinya.
Pandangan Deka dan Starla bertemu, tapi dengan cepat Starla memutusnya dan berjalan melewati Deka begitu saja, dia tak mau memandang lelaki itu saat mereka berpapasan.
Deka mengembuskan napas kesal, "Sudahlah, jangan diperpanjang lagi!"
Dengan langkah yang gontai, Deka berlalu dari hadapan putri bos-nya itu. Dia malas membahas hal ini.
Clarissa tersenyum puas, tadi dia pura-pura tertidur di kamar Deka saat menunggu lelaki itu selesai mandi. Dia sengaja ingin membuat Starla berpikiran macam-macam terhadap dirinya juga Deka. Dan sepertinya rencananya itu berhasil, sebab Starla terlihat kesal.
***
Dani dan Rakis kembali ke rumah Deka, ayah dan anak itu sangat antusias menceritakan rumah yang baru saja mereka beli.
__ADS_1
"Pokoknya rumah baru kami keren, Ka. Ada tamannya lagi. Kalau aku menikah dengan Starla nanti, dia pasti senang tinggal di sana," ujar Dani penuh semangat.
Deka termangu. Dani menikah dengan Starla? Kenapa membayangkannya saja, Deka merasa tidak rela?
Rakis memperhatikan ekspresi wajah Deka yang berubah muram, dia semakin curiga jika anak sahabatnya itu memang jatuh cinta pada Starla.
"Eh, omong-omong Starla mana?" Dani celingukan mencari keberadaan Starla, sebab di ruang tamu hanya ada Deka seorang sedangkan Clarissa sudah pulang setengah jam yang lalu.
"Ada di kamarnya," jawab Deka dingin. Sejak tadi dia menunggu Starla keluar dari kamar, tapi wanita itu tak juga menampakkan batang hidungnya.
"Tumben sekali? Biasanya jam segini dia pasti sedang menyiapkan makan malam," sahut Dani heran.
"Mungkin dia sedang tidak enak badan," tebak Rakis.
Dani mendadak cemas, "Bisa jadi! Kalau begitu aku lihat ke kamarnya dulu, siapa tahu dia memang sedang sakit."
Dani buru-buru beranjak dari duduknya dan berlari ke kamar Starla.
Deka tertegun, perasaannya benar-benar campur aduk saat ini. Dia kesal dan kecewa, namun ia tak ingin orang lain tahu apa yang sedang dia rasakan.
Rakis menatap Deka dengan penuh selidik, "Kau kenapa, Ka?"
"Tidak apa-apa, Paman. Kalau begitu aku ke kamar dulu." Deka pun bangkit dan meninggalkan Rakis sendiri, membuat pria paruh baya itu semakin curiga.
Saat berjalan menuju tangga, Deka melihat Dani berbicara dengan Starla dari depan pintu kamar wanita itu. Hatinya merasa cemburu tapi dia lebih memilih untuk mengabaikan dua insan tersebut dan melanjutkan langkahnya menuju kamar.
__ADS_1
***