
Karena Deka masih harus kembali menemui Victor, dia pun menurunkan Starla di depan sebuah rumah makan khas Minang tak jauh dari pabrik, dia berencana akan mengurus wanita itu nanti.
"Kau tunggu di sini, pesan saja sesuatu jika kau lapar atau haus," ujar Deka.
"Tapi aku tidak punya uang sepeser pun, Bang. Nanti bayarnya pakai apa?" keluh Starla.
Deka lalu mengeluarkan dompetnya dan menarik selembar uang seratus ribu dan memberikannya kepada wanita itu, "Ini, ambillah!"
Wanita itu menatap uang di tangan Deka dengan sedih, lalu mengambilnya.
"Apa Abang akan kembali ke sini dan membantu ku?"
Deka hanya mengangguk dengan wajah datar, lalu melesat pergi meninggalkan wanita itu.
Starla masih memandangi mobil milik Deka meskipun sudah menjauh, entah mengapa dia merasa sedih saat melihat lelaki itu pergi.
"Apa dia akan kembali? Bagaimana kalau tidak? Aku harus cari dia ke mana? Terus nasib aku gimana?" Starla bertanya-tanya dalam hati, dia takut Deka tidak kembali dan membiarkannya luntang-lantung di jalanan, dia takut orang-orang tadi menemukannya lagi.
Namun perutnya berbunyi dan keroncong, dia memang belum makan sejak pagi. Starla pun berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah makan itu, sebaiknya dia mengisi perutnya dulu, baru memikirkan apa yang akan dia lakukan setelah ini jika Deka tidak kembali?
Starla memesan seporsi nasi Padang plus dengan es teh manis, dia benar-benar kelaparan.
__ADS_1
Deka tiba di pabrik dan langsung menemui Victor, dia melaporkan jika semuanya berjalan aman dan lancar seperti biasanya.
"Kerjamu memang tidak pernah mengecewakan, kau selalu bisa diandalkan," puji Victor seraya menepuk pundak Deka.
Lagi-lagi Bima yang berdiri di samping Victor menatap Deka dengan sinis, dari raut wajahnya terlihat jika dia tidak menyukai sang bos memuji rekannya itu.
"Baiklah, karena kau sudah ada di sini, sekarang temani aku pergi," lanjut Victor.
Bima terkejut, bukankah tadi bos-nya ini akan mengajak dirinya? Kenapa malah jadi mengajak Deka? Namun tentu dia tak berani protes dan hanya terdiam kesal.
Deka mengernyit, "Ke mana, Tuan?"
"Ke rumah Heru, aku ingin melihatnya untuk yang terakhir kali."
Victor beralih memandang Bima yang setia berdiri di belakangnya, "Kau tetap di sini, awasi para pekerja!"
Bima mengangguk, "Iya, baik, Tuan."
Victor pun melangkah pergi dengan Deka yang mengikutinya dari belakang. Sedangkan Bima hanya bisa melihat kepergian mereka dengan hati yang dongkol.
"Berengsek! Lama-lama anak ingusan itu bisa merebut posisi dan pekerjaanku! Aku tidak bisa diam saja." gerutu Bima.
__ADS_1
Biasanya itu adalah tugas Bima, menemani Victor ke mana pun pria itu pergi, karena dialah tangan kanan sang bos. Tapi kali ini justru Deka yang diajak dan hal itu jelas membuat Bima kesal serta iri, apalagi selama ini dia memang tidak menyukai Deka yang selalu dibangga-banggakan oleh atasannya itu.
***
Di kediaman Heru yang sudah dipenuhi oleh para pelayat, Deka dan Victor melangkah mendekati peti jenazah tempat Heru terbujur kaku. Keduanya memandangi wajah membiru Heru dengan tenang, tak ada rasa sedih ataupun bersalah di hati mereka karena telah menghilang nyawa lelaki itu.
"Selamat jalan, pengkhianat," batin Victor, dia puas melihat mantan distributornya itu tewas dengan mengenaskan seperti ini.
Tak jauh dari peti jenazah, seorang wanita sedang menangis terisak sambil mengoceh pada beberapa tamu yang datang.
"Sepertinya dia tertidur saat berendam dan tidak sadar jika ponselnya yang sedang dia isi daya terjatuh ke dalam bak mandi, makanya dia tersetrum lalu meninggal," terang wanita itu sambil mengusap air matanya, seorang lelaki paruh baya mengelus punggung belakangnya untuk menenangkan.
Deka juga Victor yang mendengar ocehan wanita itu tersenyum samar, sepertinya polisi dan orang-orang meyakini kejadian yang menimpa Heru ini adalah murni kecelakaan.
"Kita pergi sekarang!" titah Victor pelan, sembari berjalan meninggalkan peti jenazah Heru.
Deka mengangguk patuh dan bergegas membuntuti bos-nya itu. Mungkin trauma di masa kecilnya dan didikan dari Victor membuat Deka tumbuh menjadi sosok yang tidak berperikemanusiaan, dia tak merasa iba sedikit pun, padahal dia sudah melenyapkan nyawa orang lain dan membuat keluarga si korban berduka. Hatinya seolah beku dan tidak lagi bisa merasakan kasihan.
Berulang kali Dani menasihatinya, meminta dia agar berhenti melakukan hal kejam ini, tapi Deka tak pernah menggubrisnya. Rakis juga sangat khawatir padanya dan takut dirinya terancam, tapi Deka selalu berhasil memenangkan ayah dari sahabatnya itu.
Entah sampai kapan dia akan bermain di kubangan dosa ini?
__ADS_1
***