
Deka yang tengah tertidur pulas tersentak bangun saat ponselnya tiba-tiba berdering, dengan malas dia meraba meja nakas dan meraih ponselnya yang terus berbunyi. Deka membuka mata perlahan dan mengernyit saat melihat nama si penelepon.
"Clarissa? Ada apa dia menelepon malam-malam begini?"
Deka menggeser tombol hijau pada layar ponselnya dan menjawab panggilan masuk dari Clarissa itu.
"Iya, ada apa, Sa?" tanya Deka malas.
"Happy birthday, Deka! Selamat ulang tahun!"
Deka terkesiap lalu tersenyum mendengar suara Clarissa yang riang diseberang sana.
"Kau menelepon malam-malam begini hanya untuk mengatakan itu?" tanya Deka.
"Iyalah, aku sampai bela-belain tidak tidur dan menahan ngantuk demi nunggu tengah malam."
"Segitunya, kau kan bisa ucapkan besok?"
"Aku kan ingin jadi orang pertama."
"Pertama atau terakhir sama saja, aku tidak peduli," ujar Deka.
"Ih, Deka! Aku sudah bela-belain begadang, kau malah tidak hargai pengorbananku ini."
Deka tertawa, "Iya-iya, terima kasih ya, Sa."
"Kau menyebalkan!"
"Iya, maaf. Aku hanya bergurau tadi," ucap Deka, dia memang sengaja menggoda Clarissa yang suka merajuk.
"Kalau begitu kita harus rayakan, jemput aku sepulang kerja."
"Kita mau ke mana?" tanya Deka penasaran.
"Ada, deh. Pokoknya jemput saja, jangan lupa pakai baju yang aku belikan kemarin."
"Baiklah, sampai jumpa."
"Ya sudah, aku tutup dulu, mau tidur. Bye, Deka."
__ADS_1
"Hem."
Clarissa mengakhiri pembicaraan mereka, Deka meletakkan kembali ponselnya di atas meja nakas dan kembali berbaring menatap langit-langit kamar. Dia menghela napas panjang, tidak terasa sudah dua puluh tahun dia hidup tanpa kehadiran sang ayah, berjuang untuk terus bertahan di dunia yang kelam ini demi untuk membalaskan dendam atas kematian lelaki yang sangat dia sayangi itu.
Hidup Deka tidak akan tenang sebelum mengetahui siapa orang yang telah melenyapkan sang ayah dan menghabisi orang itu dengan tangannya sendiri.
Deka pun menguap, dia lalu memejamkan mata dan melanjutkan tidurnya tertunda.
***
Deka sedang fokus memandangi layar laptop dihadapannya, dia tengah memperhatikan laporan penjualan narkotika mereka pada bandar-bandar kecil di kota Batam dan ada beberapa bandar narkoba langganan mereka yang sudah sebulan ini juga tidak memesan barang dari mereka lagi, sama seperti Hendri Wang yang juga berhenti bekerja sama dengan mereka.
"Aku rasa ada yang tidak beres," ucap Deka.
"Sepertinya mereka memesan barang dari orang lain," sahut Rakis yang juga ikut memeriksa laporan itu.
"Aku juga berpikiran begitu, Paman. Tapi siapa orang yang berani bersaing harga dengan pabrik kita?"
Deka masih merasa bingung, entah apa alasan orang-orang itu berhenti memesan barang dari Victor? Padahal pabrik Victor adalah yang terbesar di Batam, bahkan sudah terkenal sampai ke Malaysia, Singapura, Hongkong dan negara-negara Asia lainnya. Tidak mungkin ada yang berani bersaing harga.
"Paman juga tidak tahu," keluh Rakis.
Deka beranjak dari duduknya, "Aku tidak bisa diam saja!"
"Aku akan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi, aku pergi dulu," jawab Deka.
"Iya, berhati-hatilah!" pinta Rakis sedikit cemas.
"Baik, Paman."
Deka bergegas pergi meninggalkan Rakis yang merasa khawatir, lelaki paruh baya itu selalu takut terjadi sesuatu pada Deka jika sedang melakukan hal yang berhubungan dengan Victor serta bisnis ilegalnya ini, namun dia tak bisa melarang dan berbuat apa-apa.
***
Deka datang ke sebuah tempat perjudian yang tidak terlalu ramai karena pelanggannya belum banyak yang datang sebab masih siang, dia melangkah masuk sambil celingukan mencari seseorang bernama Gepeng yang menjadi targetnya.
"Cari siapa, Bang?" tanya salah seorang pria yang merupakan karyawan di tempat itu.
"Mana Gepeng?"
__ADS_1
"Ada di ruangannya. Abang ada perlu apa?"
Bukannya menjawab, Deka langsung melenggang menuju sebuah ruangan tempat Gepeng berada dan membuka kasar pintunya.
Dan benar saja, di sudut ruangan itu, seorang pria bertubuh kurus dan bertato sedang duduk santai sambil menghitung uang, dia lah Gepeng. Lelaki itu terkejut melihat Deka.
"Kau?" Gepeng langsung menyimpan uangnya di dalam laci meja.
Deka yang melihatnya, bergegas menghampiri lelaki itu dan duduk di sampingnya.
"Kenapa? Terkejut?" tanya Deka dingin.
"Ada apa kau ke sini?" Gepeng balik bertanya.
"Aku tidak akan berbasa-basi, aku ke sini ingin bertanya, kenapa kau tidak lagi memesan barang dari kami?" tuntut Deka.
Gepeng terdiam, dia tak berani mengatakan yang sebenarnya sebab tahu Deka itu orang seperti apa.
"Aku tidak punya banyak waktu, jadi cepat katakan sebelum kesabaran ku habis!" ujar Deka dingin.
Gepeng mendadak ngeri dan gugup, "A-aku tidak menjual narkoba lagi."
Deka tertawa, dia tahu Gepeng sedang berbohong.
Deka menatap tajam Gepeng lalu mengeluarkan korek api gas dari dalam saku celana dan menyalakannya tepat di depan wajah lelaki itu.
"Katakan yang sebenarnya atau aku bakar tempat ini! Kau tahu kan aku ini orangnya seperti apa?" desak Deka dingin dengan nada mengancam.
Gepeng menelan ludah, dia merasa semakin takut dan serba salah, "Kalau aku katakan, kau harus berjanji untuk tidak menyakiti aku dan merusak tempat ini."
Deka menyeringai, "Baiklah, tapi kalau kau coba-coba mempermainkan aku, kau akan rasakan akibatnya."
Gepeng kembali terdiam, namun kemudian buka suara, "Ada pabrik narkotika baru dan mereka menjual dengan harga di bawah pabrik kalian, distributornya sebulan yang lalu datang dan menawarkan kerja sama denganku, tentu aku tidak menolak."
"Siapa pemiliknya dan di mana pabriknya?"
"Aku tidak tahu siapa pemiliknya, tapi kalau pabriknya ada di perumahan Casablanca, blok B nomor 9," terang Gepeng.
"Kalau kau berbohong, kau akan aku kirim ke neraka," pungkas Deka lalu beranjak pergi meninggalkan tempat perjudian milik Gepeng itu.
__ADS_1
Gepeng menghela napas lega, dia tak menyangka Deka akan mendatanginya seperti ini.
***