
Deka sedang sarapan bersama Starla, sejak tadi lelaki dingin itu tak bicara sepatah katapun, wajahnya pun terlihat dingin dan tak bersahabat, membuat Starla merasa canggung.
Tak butuh waktu lama, Deka telah menghabiskan nasi goreng di hadapannya lalu menenggak teh buatan Starla yang selalu menghangatkan tubuhnya di pagi hari.
Melihat Deka sudah selesai, Starla pun membuka suara demi memecah keheningan, "Abang mau tambah nasi gorengnya?"
"Tidak," jawab Deka singkat, lalu beranjak dari duduknya.
Starla bergeming, dia tahu lelaki itu pasti masih kesal karena kata-katanya semalam.
Deka meraih kunci mobilnya yang dia letakkan di meja makan, kemudian menatap Starla yang duduk di depannya, "Aku dengar dari Dani, kau dikejar-kejar seorang pria kemarin. Jadi jangan keluar rumah sendirian lagi! Jangan membuat aku cemas seperti semalam!"
Starla terkesiap dengan ucapan Deka itu, dia tak menduga lelaki itu memedulikan dirinya.
"Kau dengar itu?" Deka memastikan sebab Starla hanya bergeming memandangnya.
"Iya, Bang."
"Aku pergi dulu." Deka melenggang pergi meninggalkan Starla yang masih termangu menatapnya.
"Dia mencemaskan aku? Aku pikir dia marah dan tidak peduli," gumam Starla
Deka masuk ke dalam mobil dan melesat pergi menuju pabrik, di perjalanan dia kembali terpikir ucapan Starla semalam yang membuatnya tidak bisa tidur. Padahal dia sudah sering mendengar hal seperti ini dari Dani dan Rakis, tapi entah mengapa kata-kata wanita itu begitu mengusik hati serta pikirannya.
Tiba-tiba ponsel Deka berdering sehingga membuyarkan pikirannya, dia melirik layar benda pipih itu, ternyata nomor asing yang semalam kembali menghubunginya.
"Cckk, siapa ini?" gerutu Deka lalu menjawab panggilan masuk itu karena penasaran.
"Halo."
"Akhirnya kau menjawab teleponku juga."
Deka mengernyit, dia tidak asing dengan suara lembut nan manja itu.
"Clarissa? Ini kau?" tanya Deka memastikan.
"Iyalah, memangnya siapa lagi? Dari semalam aku telepon, tapi tidak kau jawab."
"Maaf, aku tidak kenal nomornya, aku pikir orang iseng," dalih Deka, padahal semalam dia sedang malas bicara dengan siapa pun.
"Ini nomor baru aku, jangan lupa disimpan!"
"Iya."
"Kau sedang apa?"
"Lagi di jalan, mau ke pabrik," jawab Deka, matanya fokus menatap jalanan.
"Hari ini kau temani aku jalan-jalan saja, ya? Tidak usah ke pabrik."
__ADS_1
"Tidak bisa, Sa! Aku harus berkerja," tolak Deka.
"Nanti aku yang minta izin ke Papa."
"Tapi aku banyak pekerjaan hari ini, lain waktu saja," bantah Deka.
"Ish, Deka! Ya sudah, deh!"
Clarissa langsung mematikan teleponnya, sepertinya wanita itu merajuk karena Deka menolak permintaannya. Deka mengembuskan napas, lalu melempar ponselnya ke jok sebelah. Walaupun hubungannya dengan Clarissa sangat dekat, tapi dia tetap tahu diri. Dia sadar jika memiliki tanggung jawab sebagai pekerja yang memakan gaji pada ayah wanita itu.
***
Victor memanggil Deka ke ruangannya, pria keturunan Tiongkok itu sedang kesal sekaligus bingung. Dia mengeluhkan penjualan narkotika mereka yang menurun bulan ini.
"Aku sudah memeriksa semuanya dan ada satu pelanggan kita dari Singapura sudah sebulan ini tidak mengambil barang dari kita, dan itu cukup berpengaruh pada pemasukan kita," keluh Victor.
Deka terkesiap, namun tak berkomentar. Begitu juga dengan Bima yang berdiri di samping Victor, dia hanya diam menyimak.
"Aku ingin kau menyelidikinya?" pinta Victor.
"Baik, Tuan. Aku akan selidiki," sahut Deka patuh.
"Kalau begitu kau boleh pergi!"
Deka mengangguk, "Aku permisi."
"Hem."
"Clarissa?" gumam Deka sedikit kaget.
"Hai, semua," sapa Clarissa ramah, dia memang wanita yang manja dan gampang merajuk, tapi dalam sekejap dia bisa ceria kembali.
"Hai, sayang. Kenapa kau ke sini?" tanya Victor yang juga kaget melihat sang putri tiba-tiba datang.
Tanpa basa-basi Clarissa langsung mendekati Deka dan menggandeng lengan lelaki itu, "Aku mau ajak Deka jalan-jalan, aku bosan di rumah."
"Tidak bisa, Sa!" bantah Deka, tapi Clarissa tak peduli.
Bima hanya memperhatikan interaksi mereka dengan tatapan yang tak terbaca.
"Dia harus bekerja, sayang. Kau jalan-jalan sendiri saja," ujar Victor.
"Papa, bagaimana kalau terjadi sesuatu denganku jika pergi sendiri? Aku ajak Deka saja, ya?" rengek Clarissa.
Deka dan Victor saling pandang, kemudian lelaki berwajah oriental itu pun mengangguk.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama! Masih ada pekerjaan yang harus dia kerjakan."
Clarissa tersenyum senang, "Iya, Papa."
__ADS_1
Victor menatap Deka, "Jaga dia baik-baik dan cepat kembali!"
Deka kembali mengangguk, "Baik, Tuan."
"Kalau begitu kami pergi dulu. Bye, Papa."
"Aku permisi, Tuan," ujar Deka.
"Iya, hati-hati," balas Victor.
"Yuk, Ka!" Clarissa langsung menarik Deka pergi.
Victor memandangi kepergian mereka, dia tahu Deka dan Clarissa sangat akrab sejak kecil, tapi dia selalu memperingatkan Deka untuk tahu batasan. Dia juga sengaja mengirim Clarissa ke luar negeri dan tidak memberikan nomor telepon Deka padanya agar sang putri bisa menjaga jarak dengan lelaki itu, dia tak ingin ada perasaan tak wajar di antara keduanya. Namun jika Clarissa sudah di sini, dia tak bisa berbuat apa-apa lagi.
Sementara Bima tetap bergeming dengan perasaan iri melihat keakraban antara Deka dan Clarissa, meskipun dia tahu bahwa Deka itu anak emasnya Victor, tapi dia tetap tak bisa menyingkirkan perasaan dengki pada lelaki itu.
***
Clarissa mengajak Deka jalan-jalan ke salah satu mall di Batam, dia menarik Deka masuk ke dalam sebuah toko pakaian pria bermerek dan memilihkan satu stelan jas.
"Cobain, deh!" Clarissa menyodorkan jas pilihannya pada Deka.
Deka mengernyit, "Buat apa?"
"Sudah, cobain saja!" desak Clarissa.
"Bilang dulu, buat apa aku mencoba jas ini?"
"Aku ingin mengajakmu makan malam," jawab Clarissa.
"Mau makan malam saja, kenapa harus pakai jas segala? Aku tidak mau!"
"Ayolah, Ka! Cobain, please," rengek Clarissa.
"Aku tidak mau, Sa!" bantah Deka.
"Ya sudahlah!" Clarissa merajuk dan meletakkan kembali jas itu ke tempatnya.
"Apa susahnya nurut, sih?" gerutu Clarissa dengan wajah cemberut.
"Karena aku tidak suka pakai jas," ucap Deka.
"Padahal kau pasti makin tampan kalau pakai jas itu."
"Pakai apa pun, aku tetap tampan, kok!" ujar Deka penuh percaya diri, dia sengaja ingin menggoda Clarissa sebab tahu wanita itu merajuk.
Clarissa memutar bola matanya, "Narsis!"
Deka hanya tersenyum memandangi Clarissa.
__ADS_1
***