Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
90. Terpaksa.


__ADS_3

Starla mulai tersadar dan merasakan pusing di kepalanya, dia membuka mata perlahan dan seketika terbelalak saat menyadari dia berada di ruangan minim cahaya dengan tangan dan tubuh terikat di sebuah kursi kayu yang dia duduki.


"Aku harus keluar dari tempat ini! Aku harus kabur!" Starla berusaha melepaskan ikatan di tangan dan tubuhnya, tapi tidak bisa.


Starla mendesah frustasi, dia lalu mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan bercahaya remang-remang itu, tak ada siapa-siapa selain dirinya.


Derap langkah kaki seseorang mulai mendekati ruangan itu, Starla menajamkan indera pendengarannya.


"Itu pasti Papa," tebak Starla yakin.


Dan benar saja, pintu yang sejak tadi tertutup, kini terbuka lebar dan sosok menakutkan Jhon Kotto muncul dari sana.


"Hai, putriku. Kau sudah sadar rupanya," tegur Jhon Kotto sok baik.


"Lepaskan aku! Biarkan aku pergi dari sini!" pinta Starla.


"Enak saja kau! Papa tidak akan membiarkan kau pergi dari sini, karena hari ini juga Papa akan menikahkan kau dengan Datuk Ramzi," ujar Jhon Kotto.


Starla menggeleng, "Tidak! Aku tidak mau menikah dengan tua bangka itu!"


"Papa tidak meminta persetujuan mu dan kali ini kau tidak bisa menolak lagi!"


"Pokoknya aku tidak mau! Aku lebih baik mati daripada menuruti keinginan Papa!"


"Sayangnya Papa tidak akan membiarkan kau mati begitu saja! Papa sudah merawat dan membesarkan mu, jadi sudah saatnya kau balas budi agar apa yang sudah Papa berikan tidak sia-sia."


Starla terkesiap, dia tak pernah menduga jika pria yang telah dia anggap seperti ayahnya sendiri itu ternyata ingin memanfaatkan dirinya dan meminta balasan dengan cara seperti ini.

__ADS_1


"Papa keterlaluan! Aku pikir Papa tulus ingin menjadikan aku anak dan merawat ku, tapi ternyata aku salah. Kalau tahu begini, aku tidak mau Papa adopsi!" kecam Starla marah, dia terluka dan kecewa mendapati kenyataan menyakitkan ini.


"Sudahlah Starla! Jangan banyak drama, sebaiknya kau turuti keinginan Papa."


"Sampai mati pun aku tidak akan menuruti keinginan busuk Papa itu! Tidak akan pernah!" bantah Starla keras kepala.


"Baiklah, kita lihat apa kau akan tetap keras kepala jika melihat ini," tutur Jhon Kotto lalu memerintah bodyguard nya untuk masuk, "Bawa dia masuk!"


Starla kebingungan, namun sedetik kemudian dia terperangah saat tubuh Reyhan yang terkulai lemas diseret oleh dua orang bodyguard lalu dilempar ke lantai.


"Reyhan!" pekik Starla, kemudian menatap tajam Jhon Kotto, "Apa yang Papa lakukan pada Reyhan?"


Jhon Kotto tersenyum sinis sambil melirik Reyhan yang tergeletak tak berdaya, "Hanya memberinya sedikit pelajaran karena sudah berani mengkhianati Papa."


Starla termangu, mendadak dia curiga, apa jangan-jangan saat menelepon dia tempo hari, Reyhan ketahuan dan Jhon Kotto menghajarnya hingga seperti ini. Starla pun merasa bersalah, semua ini gara-gara dirinya.


"Aku tidak mau!"


"Ya sudah, kalau begitu Papa akan mengirimkan pengkhianat ini ke neraka." Jhon Kotto mengeluarkan pistol dan mengarahkannya ke tubuh Reyhan.


Starla seketika panik dan gemetar ketakutan, dia tak ingin Reyhan mati. Dia pasti akan merasa bersalah seumur hidup jika Jhon Kotto sampai menghabisi sang sahabat karena dirinya. Tapi dia tak ingin menikah, dia tak mau kehilangan Deka.


"Ucapkan selamat tinggal padanya!" Jhon Kotto menarik pelatuk pistolnya, membuat Starla semakin ketakutan.


"Baiklah, aku akan menikah!" jerit Starla kemudian, air matanya pun jatuh menetes.


Jhon Kotto tersenyum puas, namun dia tetap menembak Reyhan.

__ADS_1


Dor!


Starla langsung memejamkan mata dan menangis, dia tak sanggup melihat apa yang terjadi.


"Hahaha." Jhon Kotto tertawa, "Kau mudah sekali tertipu."


Mendengar ucapan Jhon Kotto itu, Starla membuka mata dan takut-takut memandang Reyhan yang masih tergolek dengan posisi seperti tadi, tak ada darah sama sekali. Ternyata pistol itu kosong.


Starla mengalihkan tatapannya pada pria berambut putih yang berdiri di depannya itu, "Papa mempermainkan aku?"


"Oh, jadi kau ingin Papa benar-benar menembaknya?" tantang Jhon Kotto.


Starla menggeleng cepat, dia tahu ayah angkatnya itu tidak akan main-main dengan ucapannya.


"Kalau begitu menikahlah nanti malam, atau nyawa Reyhan taruhannya," ancam Jhon Kotto sinis kemudian melenggang pergi meninggalkan ruangan itu dan seorang bodyguard kembali menutup pintu.


Kini hanya ada Starla dan Reyhan di tempat itu, air mata Starla terus saja jatuh menetes. Saat ini dia sangat merindukan Deka, akankah kekasihnya itu tahu apa yang terjadi padanya saat ini? Kalau Deka tahu, lelaki itu pasti menyelamatkan Starla. Tapi kalau dia tidak tahu bagaimana?


Starla semakin sesenggukan, apa ini akhir dari semuanya? Baru saja dia bahagia bersama Deka, tapi sekarang dia harus rela kehilangan lelaki itu.


"Maafkan aku, Bang." Starla kemudian terisak-isak.


Starla lalu beralih mengamati Reyhan, dia cemas dengan keadaan sahabatnya itu. Andai dia bisa melepaskan diri dan membawa Reyhan pergi dari sini, dia pasti akan merawat pria tersebut.


Karena ejak kecil, jika Reyhan sakit atau terluka, Starla lah yang selalu merawat dan mengobatinya. Hal itulah yang membuat Reyhan akhirnya jatuh hati pada Starla, namun Reyhan tak pernah berani mengungkapkan perasaannya sebab tahu Starla hanya menganggapnya saudara.


"Bertahanlah, Rey! Jangan buat pengorbanan ku sia-sia, kau harus tetap hidup," ucap Starla lirih.

__ADS_1


***


__ADS_2