Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
34. Berdebar Lagi.


__ADS_3

Lagi-lagi Deka dan Bima berhadapan dengan Victor yang kesal dengan tingkah laku mereka.


"Kenapa kalian selalu saja bertengkar?"


"Ini hanya salah paham, Tuan," sahut Bima cepat.


Deka sontak menatapnya dengan mata yang tajam, namun dia terlalu malas untuk membantah.


"Salah paham bagaimana?" tanya Victor.


"Aku hanya bertanya bagaimana jalan-jalannya, dia langsung marah dan ingin memukulku," terang Bima.


Deka terkesiap, dia mengeraskan rahang sambil mengepal kuat tangannya menahan geram.


Victor beralih menatap Deka, "Deka, benar itu?"


"Tuan sudah mengenal ku selama dua puluh tahun, menurut Tuan apa aku tipe orang yang suka menyakiti orang lain tanpa alasan?" tanya Deka seraya melirik Bima yang tertunduk di sampingnya.


Victor bergeming, dia tahu semua yang Deka katakan itu benar. Selama ini Deka tidak pernah memukul atau menyakiti orang tanpa alasan, bahkan orang-orang yang dia bunuh semuanya memiliki kesalahan terhadap Victor.


"Ya sudah, aku harap ini yang terakhir. Aku tidak ingin mendengar pertengkaran kalian lagi, atau kalian akan lihat akibatnya," ancam Victor.


"Baik, Tuan."


Deka mengangguk, "Iya, Tuan."


"Bima, kau boleh pergi!" pinta Victor.


"Aku permisi, Tuan." Bima bergegas keluar dari ruangan Victor.


Tinggallah Deka yang masih berdiri dengan wajah dingin namun terlihat penuh kemarahan.


"Aku tahu kau tidak bersalah, tapi aku harap kau lebih bisa menahan emosimu. Jangan mudah terpancing! Lagian kalian itu partner kerja, seharusnya akur."


"Mungkin nasihat ini lebih pantas Tuan katakan pada Bima," sahut Deka kesal.


"Nanti aku akan nasihati dia juga," pungkas Victor yang tahu Deka sedang kesal, dia tak ingin membuat lelaki itu semakin marah karena dia sedang membutuhkannya.

__ADS_1


Deka tak membalas ucapan Victor itu.


"Baiklah, sekarang kita bahas hal lain." Victor mengalihkan pembicaraan, "Kau duduklah!"


Deka menarik kursi di depan meja kerja Victor dan duduk di hadapan lelaki itu.


"Bagaimana, kau sudah mendapatkan informasi?"


Deka menggeleng, "Belum, Tuan. Tapi aku akan segera cari tahu."


"Cari tahu secepatnya! Aku penasaran kenapa Hendri Wang tidak lagi memesan barang dari kita?"


"Mungkin saja dia sudah berhenti dari bisnis ini? Atau tertangkap polisi," tebak Deka.


"Tidak mungkin! Dia itu mafia besar di Singapura, pelanggannya banyak, mana mungkin dia berhenti begitu saja. Dan kalau tertangkap polisi, pasti ada beritanya," bantah Victor.


Deka terdiam, apa yang Victor katakan itu memang benar, mafia seperti mereka tidak mungkin dengan mudahnya tertangkap polisi apalagi berhenti dari dunia hitam yang menghasilkan ini begitu saja.


"Aku curiga dia memesan barang dari orang lain, tapi siapa? Siapa yang berani merebut pelanggan ku?" lanjut Victor kesal.


"Aku akan cari tahu!"


***


Sorenya Deka pulang lebih awal, dia tidak sabar ingin memberikan ponsel yang dia beli untuk Starla.


Begitu Deka membuka pintu, Starla yang sedang bersih-bersih langsung menoleh ke arahnya, "Eh, Abang sudah pulang? Cepat sekali?"


"Iya, sudah tidak ada pekerjaan, jadi aku pulang saja," dalih Deka, dia melangkah mendekati Starla lalu menyodorkan paper bag yang dia bawa, "ini untukmu?"


Starla mengerutkan keningnya memandangi paper bag yang ada di depannya, "Apa ini, Bang?"


"Bukalah," pinta Deka.


Starla menerima paper bag itu lalu membongkar isinya, dia terkesiap saat melihat ada sebuah kotak ponsel keluaran terbaru dari merek terkenal.


"Ponsel? Ini untukku?" Starla memastikan.

__ADS_1


"Iya, jadi aku bisa menghubungi mu kapan saja," sahut Deka.


Starla mengangkat kepalanya dan menatap Deka dengan curiga, "Apa ini akan potong gaji?"


"Tidak, anggap itu bonus karena kau sudah bekerja dengan baik," bantah Deka.


"Serius?" Starla memastikan lagi sebab dia masih belum percaya.


"Hem."


Starla tersenyum, dan tanpa di duga, dia langsung memeluk Deka karena saking senangnya.


"Terima kasih, ya, Bang! Aku senang sekali!" ucap Starla.


Deka tertegun, jantungnya mendadak kembali berdebar kencang saat Starla memeluk tubuhnya, dia merasa ada perasaan aneh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.


Starla mengurai pelukannya dan menatap Deka dengan mata berbinar, "Aku berjanji akan bekerja lebih baik lagi."


Deka tak menjawab, dia hanya memandangi Starla dengan ekspresi wajah yang tak bisa diartikan.


"Sekali lagi terima kasih, ya, Bang!"


Deka tersentak dan langsung mengalihkan pandangannya dari Starla, "Hem, i-iya. Kau tinggal pakai saja, aku sudah menyimpan nomorku di ponsel itu, jadi kalau ada apa-apa, kau bisa hubungi aku."


Starla tersenyum, dan mengangguk, "Iya, Bang."


"Ya sudah, aku mau ke kamar." Deka berlalu pergi dari hadapan Starla.


Starla memandangi kotak ponsel itu dengan hati berbunga-bunga, "Sikapnya saja yang dingin kayak es balok, tapi ternyata dia perhatian juga. Jadi makin kagum, deh."


Dengan hati riang gembira, Starla menyimpan paper bag itu, kemudian melanjutkan pekerjaannya.


Sementara itu di dalam kamar, Deka duduk di tepi ranjang sambil memegangi dada kirinya, "Kenapa jantungku berdebar seperti ini? Ada apa sebenarnya denganku?"


Dia merasa bingung dengan apa yang dia rasakan, debaran dan perasaan aneh itu beberapa kali datang saat dia bersama Starla. Mungkinkah dia jatuh cinta pada wanita itu?


Deka menggelengkan, berusaha mengusir pikiran-pikiran aneh yang mulai memenuhi kepalanya. Dia lalu beranjak dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi, membasuh diri dengan air mungkin bisa menyegarkan pikirannya yang mulai kacau.

__ADS_1


***


__ADS_2