Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
62. Menyelamatkan Dani.


__ADS_3

Starla berdiri di depan sebuah rumah yang megah di salah satu perumahan elite di Batam, dia melihat jam di ponselnya yang sudah menunjukkan pukul enam lebih lima puluh lima menit, itu artinya dia tinggal punya waktu lima menit lagi.


Dengan mantap Starla akhirnya melangkah masuk ke dalam rumah itu dan mencari keberadaan si pria berambut putih.


"Papa, Reyhan!" teriak Starla sebab melihat rumah itu sepi dan tidak ada siapa-siapa.


Tiba-tiba seorang bodyguard datang dari arah belakang dan langsung menyergap Starla dan beberapa bodyguard lagi berjaga disekitar wanita itu.


"Hei, apa-apaan ini? Lepaskan aku!" Starla memberontak, berusaha melepaskan diri.


Tak lama kemudian, pria berambut putih itu datang bersama Reyhan.


"Selamat datang, sayang," sapa pria itu, "kau datang tepat waktu."


"Suruh anak buah Papa melepaskan aku! Tanganku sakit!" pinta Starla tanpa memedulikan sambutan dari pria itu.


"Papa tidak akan melepaskan mu, karena Papa tidak mau kau kabur lagi."


"Aku tidak akan kabur!" bantah Starla.


Pria paruh baya itu tertawa, "Kau itu seperti kancil yang cerdik, tapi kali ini kau tidak bisa mengelabui Papa lagi."


Starla menatap pria itu dengan sinis, "Baiklah, kalau begitu sekarang lepaskan dia! Aku kan sudah ada di sini."


"Kenapa terburu-buru sekali? Santai saja!"


"Papa jangan coba-coba mempermainkan aku, lepaskan dia! Atau aku akan membuat Papa menyesal!" sungut Starla dengan nada mengancam.

__ADS_1


"Wah, wah, putriku semakin pintar mengancam rupanya," ledek pria paruh baya, dia lantas melangkah mendekati Starla dan berucap pelan, "kita sebaiknya berpesta dulu untuk merayakan kepulangan mu."


"Tidak perlu! Aku hanya ingin Papa menepati janji untuk melepaskan dia!" sahut Starla emosi.


Pria paruh baya berambut putih itu menarik tubuhnya menjauhi Starla, "Baiklah, Papa akan lepaskan dia."


"Lepaskan pecundang itu!" titahnya pada dua orang bodyguard.


Kedua bodyguard itu bergegas ke arah belakang rumah, ke tempat di mana Dani disekap.


Tak berapa lama mereka balik lagi sambil memapah Dani yang sudah terkulai lemas dan babak belur. Dia bahkan hanya tertunduk tak berdaya.


"Bang Dani?"


Mendengar suara Starla, Dani langsung mengangkat kepalanya menatap wanita itu dengan terkejut, "Starla? Kenapa kau bisa ada di sini?"


"Aku ingin menyelamatkan Bang Dani. Abang baik-baik saja, kan?" tanya Starla cemas, dia masih berusaha melepaskan diri agar bisa mendekati Dani.


"Sudah cukup temu kangennya!" potong pria berambut putih itu.


Dani dan Starla terdiam menatap pria itu.


"Sekarang bawa pecundang ini pergi!"


Dua bodyguard yang memapah Dani menjawab bersama, "Baik, Tuan!"


"Mau di bawa ke mana dia?" tanya Starla panik.

__ADS_1


"Seperti permintaan mu, melepaskan dia," jawab pria paruh baya itu santai.


"Hei, lepaskan aku dan Starla!" Dani berontak dan ingin menyelamatkan Starla, tapi tenaganya sudah tidak ada.


"Bang Dani pulang saja, jangan pikirkan aku!" jerit Starla.


Dani tercengang dengan permintaan Starla itu, bagiamana bisa dia meninggalkan Starla di sini, apalagi Dani mengira jika orang-orang ini adalah sindikat perdagangan manusia yang waktu itu mengejar Starla.


"Starla, aku akan menyelamatkan mu!" teriak Dani saat para bodyguard menyeretnya keluar dari rumah megah itu.


Setelah Dani pergi, Starla pun kembali menatap pria berambut putih itu dengan sinis, "Sekarang lepaskan aku!"


"Baiklah, Papa akan melepaskan mu, tapi kalau kau berani kabur lagi, Papa akan habisi si pecundang tadi."


Starla bergeming dan memalingkan wajahnya, dia sempat beradu pandang dengan Reyhan yang sedari tadi diam membisu, namun Starla buru-buru mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Reyhan hanya tertunduk dengan wajah sendu.


"Bawa dia ke kamarnya!"


Bodyguard yang memegangi Starla mengangguk lalu menarik wanita itu menuju kamarnya di lantai atas.


"Aku bisa jalan sendiri!" Starla kembali memberontak, tapi tenaganya kalah kuat.


Pria paruh baya itu kemudian beralih memandang Reyhan yang berdiri di sampingnya, "Persiapkan semuanya, aku tidak mau kali ini gagal lagi."


Reyhan mengangguk patuh, "Baik, Pak!"


"Aku akan menghubungi Datuk Ramzi dan menyampaikan kabar baik ini."

__ADS_1


Pria paruh baya berambut putih itu melenggang pergi meninggalkan Reyhan yang mendadak dilanda kegalauan dan dilema atas tugas yang Bosnya itu berikan.


***


__ADS_2