Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
74. Pembalasan Yang Sadis.


__ADS_3

Deka sudah tiba di dermaga gelap perairan pantai Nongsa sejak setengah jam yang lalu, tapi suasana masih sangat sepi, tak ada tanda-tanda akan terjadi transaksi sama sekali.


Deka yang memperhatikan situasi dari dalam mobilnya mulai merasa kesal, dia melirik tas yang tergeletak di jok penumpang. Tas itu sudah dia persiapkan sebelumnya dan dia simpan di mobil.


"Malam ini aku tidak boleh gagal lagi," gumam Deka.


Sebuah mobil sedan hitam tiba-tiba muncul dan berhenti tepat di dekat dermaga, Deka memfokuskan pandangan dan memperhatikan dari dalam mobilnya yang dia parkir tersembunyi. Seorang pria berwajah oriental yang tak lain adalah Julio Winata dan bodyguard nya keluar dari mobil hitam tersebut sambil menenteng sebuah tas.


Tak lama kemudian satu buah speed boat datang lalu bersandar di dermaga. Beberapa orang yang merupakan anak buah Hendri Wang keluar dari Speedboat berukuran sedang itu dan mendekati Julio serta bodyguard nya.


Deka terus memperhatikan aktivitas mereka, tak terdengar ada percakapan. Mereka langsung bertukar barang yang mereka bawa dan tanpa banyak aksi anak buah Hendri Wang buru-buru pergi setelah mendapatkan barang yang mereka inginkan.


Julio dan bodyguard nya menyaksikan pelanggan barang haram mereka berlayar meninggalkan dermaga sambil tersenyum puas, transaksi berjalan lancar dan sekarang sudah ada banyak uang di tangan mereka.


Saat hendak kembali masuk ke dalam mobil, tiba-tiba bodyguard Julio ambruk dengan lubang di kepalanya, Julio pun terkejut setengah mati.


"Ada apa ini?" Julio celingukan.


Dia sontak ketakutan ketika melihat Deka keluar dari kegelapan dan berjalan dengan santai mendekatinya sambil menenteng senjata api yang sudah terpasang peredam.


"Ka-kau? A-apa yang kau inginkan?" tanya Julio gugup dan gemetar, dia tentu tahu siapa kini ada dihadapannya.


"Kematian mu," jawab Deka tenang.


Julio menelan ludah, tubuhnya semakin bergetar karena takut.


"A-aku tahu kau cuma disuruh, aku akan membayar mu dua kali lipat, tapi tolong lepaskan aku!" ujar Julio memohon.

__ADS_1


"Kau pikir aku tertarik dengan uang mu?" sahut Deka dengan dingin.


"Jadi apa yang ... aaahh ...!" Julio berteriak sebelum selesai berbicara, saat tiba-tiba sebuah peluru menembus lututnya.


Julio pun tak kuasa menahan sakit, dia merintih dengan setengah berlutut memegang dengkulnya yang mengeluarkan darah.


Deka terus berjalan mendekati Julio, tatapannya tajam dan begitu mengerikan. Bahkan dia mengabaikan ponselnya yang terus bergetar di dalam saku celana.


"Aku akan memberikan apa pun yang kau minta. Tapi tolong jangan bunuh aku, aku mohon!" Julio yang sangat ketakutan pun mengoceh meminta ampun kepada Deka.


Deka yang kini sudah berdiri sangat dekat dengan Julio sedikit membungkuk dan menarik rambut belakang lelaki itu, sehingga kepalanya mendongak ke atas.


"Kau berurusan dengan orang yang salah, seharusnya kau tidak membiarkan aku lolos kemarin," ucap Deka dingin tetapi membuat Julio bergidik ngeri.


Deka kemudian mengarahkan pistolnya ke bahu kiri Julio, dan langsung menembaknya tanpa belas kasih. Julio sontak menjerit kesakitan sambil memegangi bahunya yang kini mengucurkan darah.


Melihat Julio menangis, Deka tersenyum mengejek, "Ternyata orang sepertimu bisa menangis juga?"


"Ampuni mohon, jangan bunuh aku!"


"Itu sedikit balasan dariku karena kau dan orang-orang suruhan mu sudah membuat bahuku terluka."


Julio yang sudah tidak tahan akhirnya terduduk di tanah, "Aku minta maaf."


Deka tertawa, Julio semakin merasa ngeri.


Deka lalu mengarahkan pistolnya ke kepala Julio, "Baiklah, aku tidak ingin berlama-lama. Sekarang katakan siapa yang membocorkan tentang aku, sehingga malam itu kau menjebak ku?"

__ADS_1


Julio bergeming.


"Jawab!" bentak Deka.


"Amir, dia yang memberitahuku," jawab Julio kemudian.


"Kau pikir aku percaya?"


Julio terkesiap dan kembali menelan ludah, tubuhnya sudah gemetar dan dia nyaris kencing celana.


"Baiklah, kalau kau tidak mau memberi tahu, aku akan mencari tahu sendiri," sambung Deka, dia lalu menarik pelatuk pistolnya dan seketika sebuah peluru menembus kepala Julio, pria itu langsung tersungkur bersimbah darah.


Deka kembali ke mobilnya, dia mengambil tas yang sudah dia siapkan untuk melancarkan aksinya, tas itu berisikan bubuk tawas yang sudah dikemas menyerupai narkotika jenis sabu, lalu meletakkan tas tersebut di dekat jasad Julio.


Hal itu dilakukannya agar peristiwa ini terlihat seperti pembunuhan yang di lakukan oleh pembeli narkoba yang merasa tertipu oleh Julio.


Kemudian Deka memeriksa saku Julio untuk mencari telepon genggam milik lelaki itu, setelah mendapatkan, Deka pun menghidupkan benda pipih tersebut, dan ternyata layarnya terkunci.


Deka berjongkok, dia lantas meraih tangan Julio dan mengarahkan jari lelaki itu ke ponsel miliknya untuk membuka kunci layarnya, setelah berhasil terbuka, Deka pun memeriksa riwayat panggilan dan pesan di ponsel tersebut. Dia tercengang saat melihat satu nama, seketika darahnya mendidih.


"Ternyata dia!" geram Deka dengan rahang mengeras dan tangan terkepal.


Deka lantas mengirim sebuah pesan pada orang tersebut melalui ponsel Julio dan mengajaknya bertemu di suatu tempat.


"Kau akan terima bagian mu!" Deka menyeringai.


Dia kemudian mengeluarkan pisau lipat dari sakunya, lalu memotong jari telunjuk Julio dan menyimpannya di dalam sebuah plastik. Deka lalu memungut tas berisi uang hasil penjualan narkotika milik Julio dan bergegas meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


***


__ADS_2