
Pagi-pagi sekali Deka sudah bangun, dia berlatih memukul samsak di halaman belakang seorang diri. Sejak kejadian waktu itu, dia tak mau memanggil anak buah Victor untuk menemaninya latihan lagi, dia tak ingin kembali lepas kontrol. Sementara Starla sedang memasak sarapan di dapur.
Dengan lesu, Dani yang baru bangun menuruni anak tangga, dia terus-terusan bersendawa sambil memegangi perutnya.
"Ke mana semua orang?" Dani celingukan mencari keberadaan Deka dan Starla.
Dengan perlahan dia menyeret langkahnya menuju dapur, tampak Starla sedang sibuk memasak.
Dani kembali bersendawa, membuat Starla terkejut dan langsung berbalik ke arahnya.
"Eh, Bang Dani sudah bangun rupanya."
"Iya, tapi sepertinya aku tidak enak badan. Perut dan kepalaku sakit, dari tadi sendawa terus," adu Dani.
"Mungkin Abang masuk angin," tebak Starla.
"Hem, mungkinlah," jawab Dani malas.
Starla jadi merasa tidak enak dan bersalah, "Itu kan, aku bilang juga apa! Seharusnya Bang Dani tidak memberikan jaketnya padaku, sekarang Abang jadinya masuk angin."
"Tidak apa-apa, sebagai seorang pria sejati, aku harus rela berkorban demi wanita yang aku cintai," ujar Dani, sempat-sempatnya dia menggoda Starla.
"Pagi-pagi sudah gombal!"
"Aku serius!" seru Dani.
"Ya sudah, kalau begitu aku buatkan teh jahe untuk Abang, biar anginnya pada kabur," tukas Starla mengalihkan pembicaraan.
Dani tak menjawab, dia kembali bersendawa sambil memijit tengkuknya.
"Deka mana?" tanya Dani kemudian.
"Ada di halaman belakang, lagi olah raga," jawab Starla tanpa memandang Dani, dia tengah sibuk membuatkan teh jahe hangat untuk lelaki itu.
Tak berapa lama Starla mendekati Dani yang duduk di dekat meja makan, dia menyodorkan segelas teh jahe hangat kepada lelaki itu, "Diminum dulu, Bang!"
Dani menyeruput teh itu dengan perlahan, rasa hangat seketika terasa di kerongkongan hingga perutnya.
"Starla, teh jahe buatan mu ini Numero Uno," seloroh Dani menirukan salah satu iklan kopi di televisi.
Starla tertawa, "Bang Dani bisa saja!"
Dani pun ikut tertawa dan kembali menyesap teh buatan Starla itu.
"Aku siapkan sarapannya dulu." Starla beranjak meninggalkan Dani.
__ADS_1
Dengan cekatan dia menghidangkan tiga piring mie goreng sosis buatannya di atas meja makan, lalu membuatkan teh hangat untuk Deka seperti biasanya.
"Silakan sarapan, Bang. Aku panggil Bang Deka dulu."
"Iya."
Starla bergegas ke halaman belakang untuk memanggil pria yang menjadi majikannya itu.
"Bang, sarapannya sudah siap. Bang Dani juga sudah menunggu di meja makan," teriak Starla.
Deka yang sedang memukuli samsak sontak berhenti dan menatap Starla yang berdiri tak jauh darinya, "Iya, sebentar."
Kemudian dia kembali memukul benda berwarna hitam yang tergantung dihadapannya itu, mengacuhkan Starla yang masih berdiri memandangnya.
"Sikapnya selalu saja dingin," keluh Starla. Meskipun sudah sebulan hidup bersama Deka, tapi dia masih sering kesal dengan sikap dingin lelaki itu.
Starla pun pergi meninggalkan Deka yang masih terus memukuli samsak itu dengan sekuat tenaga.
Setelah Starla menghilang, Deka menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah tempat wanita itu berdiri tadi. Napasnya tersengal-sengal karena lelah, tubuh kekar dan wajah rupawan nya dibanjiri keringat.
Starla kembali ke meja makan dan duduk di samping Dani.
"Mana dia?" tanya Dani karena tidak melihat kemunculan Deka.
"Ya sudah, kita sarapan duluan saja," cetus Dani yang langsung menyantap mie goreng sosis buatan Starla.
"Hem, enak sekali!" puji Dani dengan mulut yang penuh.
Starla tersipu sembari tersenyum malu.
"Rasanya tidak kalah dengan buatan chef restoran ternama," lanjut Dani.
"Abang terlalu berlebihan," sanggah Starla.
"Benar! Kamu cobain, deh!" Dani mengambil alih piring di hadapan Starla lalu menyuapkan sesendok mie ke depan mulut wanita itu.
"Eh, tidak usah, Bang! Aku makan sendiri saja," tolak Starla.
"Biar aku suap!"
"Aku bisa sendiri, Bang."
"Sudah, buka mulutnya!" desak Dani.
Dengan terpaksa Starla pun membuka mulutnya dan menerima suapan dari Dani, tepat di saat bersamaan Deka masuk dan melihat semua itu. Jantungnya mendadak berdebar kencang, dan seperti ada perasaan panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
__ADS_1
"Enakkan?" Dani memastikan.
Starla mengangguk sambil mengunyah mie di mulutnya, dia sedikit malu dan canggung dengan perlakuan Dani itu.
"Apa aku bilang, mie buatan kamu itu enak, apalagi kalau makannya disuapi," seloroh Dani, dia sengaja mengambil kesempatan agar bisa bermesraan dengan Starla.
Deka melanjutkan langkahnya, namun bukannya ke meja makan, dia justru melewati mereka dan naik ke lantai atas.
"Itu Deka!" seru Dani saat melihat Deka berlalu begitu saja.
Starla mengernyit, "Kenapa dia ke atas? Bukannya sarapan!"
"Mungkin dia mau mandi dulu, baru sarapan," tebak Dani.
Di dalam kamarnya, Deka langsung masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower, dia membasuh tubuhnya tanpa membuka pakaian yang dia kenakan.
"Kenapa aku merasa kesal?" batin Deka, dia bingung dengan perasaannya saat ini.
***
Reyhan sedang duduk tertunduk, di hadapannya seorang pria paruh baya berambut putih tengah menatapnya dengan kesal.
"Bagaimana bisa kau dituduh maling oleh warga?" tanyanya.
"Aku difitnah oleh laki-laki yang bersama Starla, Pak. Dan sialnya warga mempercayai dia," jawab Reyhan.
"Harusnya kau bantah, bukan malah pasrah saja dibawa ke kantor polisi."
"Sudah, Pak. Aku sudah membantah tuduhannya, tapi mereka tak percaya," keluh Reyhan, dia kesal setengah mati karena ulah Dani, dia sampai berjam-jam diintrogasi oleh polisi.
"Apa kau ingat plat nomor kendaraan laki-laki itu?"
Reyhan menggeleng, "Tidak, Pak. Tapi aku ingat wajahnya, kalau tidak salah dia juga ada bersama Starla di video viral kemarin."
"Siapa kira-kira lelaki itu?"
"Mungkin kekasih baru Starla, soalnya mereka terlihat sangat dekat," sahut Reyhan, dia kesal saat mengingat Starla memeluk erat pinggang Dani tadi malam.
"Kurang ajar! Anak itu benar-benar ingin membuat aku marah rupanya," geram pria paruh baya itu.
"Jadi sekarang apa yang harus kita lakukan, Pak?" tanya Reyhan.
"Kau lihat saja nanti," ujar pria paruh baya itu sembari menyeringai licik.
***
__ADS_1