
Deka sontak menoleh ke arah Reyhan dengan alis mengerut, "Kau kenal dia?"
Pandangan Starla dan Deka sama-sama terfokus pada Reyhan, keduanya menunggu jawaban lelaki itu.
"Iya, dia salah satu teman Pak Jhon, aku pernah beberapa kali mengantarkan Pak Jhon bertemu dengannya," jawab Reyhan lugas.
Baik Deka maupun Starla sama-sama terkejut mendengar hal itu.
"Ternyata Papa berteman dengan Tuan Victor? Aku baru tahu," sela Starla yang tak tahu menahu soal itu.
"Tapi mereka jarang bertemu, hanya sesekali saja. Pak Jhon juga pernah mengatakan jika dulu dia bekerja untuk Tuan Victor, namun sejak istri dan anaknya meninggal, dia lebih memilih membuka usaha sendiri," imbuh Reyhan kemudian.
Deka termenung, orang sekaya Jhon Kotto pernah bekerja dengan Victor? Sebagai apa? Tidak mungkin hanya menjadi karyawan biasa bukan? Atau Jhon Kotto juga pernah menjadi algojo Victor seperti dirinya?
Melihat Deka melamun, Reyhan kembali melayangkan pertanyaan, "Tadi kau bilang terpaksa menjadi algojo demi membalas budi karena Tuan Victor sudah merawat dan membesarkan mu? Memangnya ke mana orang tuamu?"
Deka yang baru tersentak dari lamunannya seketika murung, ekspresi wajahnya berubah penuh duka, "Ibuku meninggal saat melahirkan aku, dan ayahku ...."
Deka mengehentikan kata-katanya saat teringat tragedi naas itu, mendadak rasa sakit kembali menyerang hatinya.
"Ayah Bang Deka tewas dibantai orang-orang jahat saat dia masih kecil, Rey," sambung Starla yang memang sudah mengetahui hal itu.
__ADS_1
Reyhan terdiam, ada perasaan iba bercampur prihatin mendengar kisah hidup Deka yang memilukan ini.
"Iya, malam kelam itu tidak akan pernah aku lupakan. Seumur hidup aku akan mengingat saat mereka memukuli ayah ku, dan seseorang kemudian menikam dada ayah ku dengan pedang hingga dia tewas di depan mataku." Deka tertunduk saat setetes cairan bening berhasil lolos dari pelupuk matanya, namun buru-buru dia hapus. Masih terekam jelas di ingatan Deka kilatan pedang yang menembus dada sang ayah.
Starla juga dapat merasakan duka yang kekasihnya itu rasakan, dia tahu seberapa menderitanya Deka selama ini menyimpan kenangan pahit itu seorang diri. Hingga dia pun tak kuasa menahan tangis.
"Tapi kenapa orang-orang itu membunuh ayahmu?" tanya Reyhan penasaran.
Deka menggeleng, "Aku tidak tahu."
"Apa mereka sudah ditangkap polisi?" tanya Reyhan lagi, dia merasa tertarik dengan kejadian yang menimpa ayah Deka itu.
Deka menghela napas panjang, "Entahlah, aku tidak pernah mendapatkan kabar apa pun tentang orang-orang yang telah menghabisi nyawa ayahku. Padahal selama ini aku ingin sekali bertemu mereka dan membalas dendam."
"Apa kau tidak ingat wajah mereka?" Reyhan lagi-lagi bertanya.
"Saat itu aku bersembunyi di bawah kolong tempat tidur, aku hanya bisa melihat kaki mereka dan corak naga pada pangkal pedang itu," beber Deka sambil mengepalkan tangannya menahan geram saat lagi-lagi bayangan pedang itu melintas di ingatannya.
Reyhan terhenyak ketika Deka menyebut ciri-ciri pedang yang tidak asing baginya.
"Pedang dengan corak naga di pangkalnya? Kau yakin dengan kau lihat itu?" Reyhan memastikan.
__ADS_1
"Iya, aku yakin," sahut Deka mantap.
"Memangnya ada apa, Rey? Kenapa kau bertanya seperti itu?" selidik Starla.
"Aku pernah melihatnya," jawab Reyhan.
Deka sontak berdiri dan menatap Reyhan dengan tajam, "Di mana?"
***
Di dalam kamarnya yang super mewah, Clarissa sedang duduk di tepi ranjang sambil memegangi gelas berisi anggur merah, keadaannya sungguh berantakan dan hanya mengenakan baju tidur yang lusuh.
Sejak pulang dari rumah Deka, dia hanya mengurung diri di kamar. Pikirannya kacau, hatinya terluka dan sakit mendapati kenyataan jika pria yang sudah sejak lama dia cintai itu ternyata mencintai wanita lain yang bahkan tidak selevel dengan dirinya.
Ingin rasanya Clarissa meminta papanya membujuk Deka untuk meninggalkan wanita itu, tapi dia tahu sang papa pasti tidak akan mau melakukannya.
Clarissa kemudian tersenyum licik sambil memandangi layar ponselnya yang tertera barisan kata-kata yang telah dia kirimkan ke ponsel Starla tadi sore. Dia sengaja membongkar jati diri Deka pada Starla sebab dia tahu jika Deka pasti merahasiakannya dari wanita itu.
"Sekarang kau pasti sedang sibuk membongkar kamar Deka, atau jangan-jangan kau sudah menemukannya dan lari ketakutan," ujar Clarissa sinis.
Beberapa waktu yang lalu saat menunggu di Deka, diam-diam Clarissa mengecek ponsel Deka ketika lelaki itu tengah mandi. Dia memang tahu sandi kunci layar ponsel Deka adalah tanggal lahir lelaki itu. Clarissa kemudian menyalin nomor telepon Starla ke kontak ponselnya, dia yakin suatu saat akan membutuhkan nomor rivalnya tersebut.
__ADS_1
Setelah menyalin nomor Starla, Clarissa pun pura-pura tidur di kamar Deka.
***