
Di sebuah mini market tak jauh dari kediaman Deka, Starla tengah sibuk memilih bahan-bahan makanan. Meskipun tidak terlalu besar, tapi mini market itu cukup lengkap menjual keperluan rumah tangga dan bahan makanan.
"Ayam sudah, ikan juga sudah. Hem, apa lagi, ya?" Starla mengecek troli belanjaan yang dia dorong.
"Oh, telur! Hampir saja lupa!" Starla mendorong trolinya menuju kumpulan telur dan mengambilnya.
Setelah semua barang yang dia butuhkan sudah ada, Starla pun kembali mendorong trolinya menuju meja kasir, ada beberapa orang yang sedang mengantri untuk membayar belanjaan mereka juga.
Dengan sabar Starla pun ikut mengantri di belakang dua orang wanita yang sedang mengobrol sambil bermain ponsel.
"Keren banget, kan? Sudah ganteng, jago berkelahi lagi," komen seorang wanita berambut pendek sambil menunjuk layar ponselnya.
"Iya, dia seperti super Hero. Videonya pun viral di mana-mana," balas wanita yang satunya lagi.
Starla yang mendengar obrolan kedua wanita itu menjadi penasaran, dia mengintip dari balik bahu si wanita berambut pendek, apa yang sedang mereka bicarakan.
Betapa terkejutnya dia saat melihat video rekaman cctv yang menampilkan adegan baku hantam tadi malam, rupanya kedua wanita itu sedang membicarakan aksi Deka.
"Jadi Bang Deka viral? Apa dia sudah tahu hal ini?" batin Starla cemas, dia takut hal ini akan mendatangkan masalah untuk Deka.
Bukan itu saja, Starla juga khawatir jika keberadaan dirinya diketahui oleh keluarganya jika sampai mereka melihat video viral ini, sebab di dalam video tersebut juga terpampang jelas wajahnya dan juga Dani.
"Bisa gawat ini, aku harus berhati-hati," ucapnya dalam hati.
Setelah antrian selesai dan gilirannya tiba, Starla buru-buru membayar belanjaannya dan meminta tolong salah satu karyawan mini market untuk mengantarkan beras dan barang belanjaannya ke rumah Deka.
***
Hari menjelang magrib, Deka pulang ke rumah dengan wajah lelah. Begitu melihat kedatangan Deka, Starla langsung menyambut lelaki itu dengan ceria.
"Eh, Abang sudah pulang!" seru Starla sembari berjalan menghampiri Deka.
Pria berwajah datar itu hanya menyunggingkan senyuman yang tak lebih dari tujuh detik untuk membalas sapaan Starla.
"Abang pasti lelah? Kalau begitu sekarang Abang mandi dulu, biar segar!" pinta Starla.
Deka mengangguk, dia melangkah meninggalkan Starla, namun saat melewati dapur, indera penciumannya menangkap aroma makanan yang begitu menggugah selera, membuat perutnya seketika terasa keroncongan.
__ADS_1
Deka menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Starla dengan wajah datar, "Kau masak apa?"
"Dendeng balado dan sayur lodeh, Bang. Kalau Abang mau, biar aku ambilkan."
"Nanti saja, aku mau mandi dulu." Deka memutar badannya dan kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Starla menghela napas, "Sikapnya masih terlalu dingin, tapi aku tidak boleh menyerah! Aku akan mengubah dan menyembuhkan dia!"
Dengan sigap Starla bergegas ke dapur dan memanaskan makanan yang sudah dia masak sejak tadi, lalu dia hidangkan di atas meja makan. Dia berharap Deka menyukai makanan yang dia masak ini.
Di dalam kamarnya, Deka duduk di tepi tempat tidur dan mengecek ponselnya, ada sebuah pesan chat dari Dani, sahabatnya itu memberitahukan tentang video yang sedang viral tersebut dan menasihati Deka agar mau ke psikiater supaya kejadian serupa tidak terulang lagi.
Deka melempar ponselnya ke kasur tanpa membalas pesan dari Dani itu, dia menghembuskan napas berat sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Dia tak mungkin bisa melupakan kejadian menyakitkan itu, apalagi dia belum membalas dendam kepada orang yang telah melenyapkan ayahnya.
***
Selesai mandi serta berganti pakaian, Deka kembali turun dan langsung menuju meja makan.
Starla telah menghidangkan nasi dan lauk pauk di atas meja.
Deka duduk dan hendak mengambil nasi, tapi dengan sigap Starla merebut piring di hadapannya.
Deka tak menjawab, dia membiarkan wanita itu mengambilkan nasi untuknya.
"Segini cukup?" Starla memastikan sembari menunjuk piring di tangannya.
Deka hanya mengangguk dua kali.
Starla kemudian mengambilkan dua potong dendeng balado dan menuangkan sayur lodeh ke piring Deka.
"Ini, Bang. Silakan!" Starla meletakkan piring berisikan makanan itu di hadapan Deka.
"Terima kasih," balas Deka yang bersiap untuk menyantap makanan itu sebab dia memang sudah merasa lapar.
"Semoga rasanya cocok di lidah Abang," sambung Starla.
Deka hanya tersenyum kecil, lalu mulai menikmati masakan Starla itu.
__ADS_1
"Gimana, Bang? Enak?" Starla bertanya dengan penasaran bercampur cemas.
Deka mengangguk sambil mengunyah makanan di mulutnya.
Starla tersenyum senang.
"Kau tidak makan?" tanya Deka yang melihat Starla tidak ikut makan.
"Iya, ini juga mau makan." Starla pun mengambil piring dan nasi.
Disaat bersamaan, Dani muncul dan menyelonong masuk seperti biasa.
"Wah, lagi pada makan ternyata? Aku datang tepat waktu!" celoteh Dani yang langsung bergabung di meja makan.
"Yuk, Bang Dani! Kita makan bersama-sama, aku sudah masak ini," ajak Starla yang segera mengambilkan piring untuk Dani, sementara Deka hanya diam menikmati makanan di hadapannya.
Dani pun ikut makan malam bersama mereka.
"Hem, enak sekali! Aku bisa gemuk kalau setiap hari bisa makan seperti ini," seloroh Dani dengan mulut yang penuh.
"Kalau begitu datang saja setiap hari, aku pasti masak kok," ujar Starla polos.
"Serius? Boleh?" tanya Dani.
"Boleh, dong!" jawab Starla.
"Baiklah, mulai sekarang aku akan datang setiap hari."
"Ehem!" Deka berdeham.
Starla dan Dani sontak memandang Deka yang masih sibuk menyantap makanannya.
"Kenapa, Ka?"
"Bukannya sebelum ini kau memang sudah datang setiap hari?" ledek Deka.
Dani pura-pura berpikir, "Apa iya?"
__ADS_1
Deka tak menjawab, dia hanya geleng-geleng kepala seraya memasukkan suapan terakhir ke dalam mulutnya. Sedangkan Starla yang memperhatikan tingkah Deka dan Dani hanya tertawa.
***