Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
23. Perubahan Sikap.


__ADS_3

Deka dan Bima berdiri di hadapan Victor, tampak wajah tangan kanan Victor itu babak belur karena dipukuli Deka tadi.


"Kenapa kalian berkelahi?" tanya Victor.


Deka dan Bima bergeming, keduanya tidak menjawab pertanyaan Victor itu.


"Jawab!" bentak Victor marah sebab keduanya bungkam.


"Kami tidak berkelahi, Tuan. Dia yang memukuliku," jawab Bima kemudian.


Victor beralih menatap Deka yang memang tidak terlihat ada luka sedikitpun, "Benar begitu?"


"Iya, Tuan," sahut Deka.


"Kenapa kau memukulnya?"


"Aku kesal."


Victor tertawa, dia lalu mendekati Deka dan berdiri di hadapan lelaki itu dengan jarak yang cukup dekat.


"Luar biasa! Kau kesal lalu memukulnya, hanya itu?"


Deka bergeming, dia sungguh malas untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Victor yang memahami sifat Deka tak mau memaksa lelaki itu bicara, dia kemudian mengalihkan perhatiannya ke Bima.


"Kau bisa ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Victor pada Bima.


Bima mengangguk, "Bisa, Tuan."


Victor kembali duduk di kursi kebesarannya dan menyimak cerita yang Bima sampaikan, sedangkan Deka hanya diam menahan kesal dan emosi mendengar ocehan Bima.


"Jadi itu masalah?"


Bima kembali mengangguk, "Iya, Tuan. Aku tidak sangka dia akan memukulku, padahal aku hanya bercanda tadi."


Deka mengeraskan rahangnya dan menatap tajam Bima, dia ingin marah tapi sorot penuh peringatan dari Victor menahannya.


"Kalau begitu sekarang kalian berbaikan dan saling minta maaf! Aku tidak mau dua orang kepercayaan ku saling bermusuhan," ujar Victor.


Deka dan Bima kembali bergeming.


"Kalian tidak dengar?" bentak Victor lagi.


Bima mengulurkan tangannya ke hadapan Deka, "Aku minta maaf."


Deka masih bergeming tanpa memandang Bima sama sekali, dia tidak akan semudah itu memaafkan seseorang yang sudah menyakiti perasaannya.


"Deka!" tegur Victor saat melihat Deka tak mau menjabat tangan Bima.


Dengan sangat terpaksa Deka menjabat tangan Bima dan buru-buru melepaskannya, tanpa bicara sepatah katapun, bahkan melihat lelaki itu saja tidak.

__ADS_1


"Bima, kau boleh pergi dan obati lukamu itu!" titah Victor.


"Baik, Tuan." Bima beranjak pergi, namun saat melewati Deka, dia melirik lelaki itu dengan sinis dan penuh kebencian.


Setelah Bima pergi, Victor menatap Deka dalam-dalam.


"Kau jangan kaget jika aku mendapatkan informasi itu, karena aku mengetahui semua tentangmu. Jadi berhati-hatilah dalam bertindak!" pungkas Victor.


"Iya, Tuan."


"Kau boleh pergi!"


"Aku permisi." Deka pun meninggalkan ruangan Victor.


"Dia sangat mirip denganmu, Darlan. Pemarah dan keras," gumam Victor sembari mengenang almarhum ayahnya Deka.


***


Malam harinya di rumah, Deka dan Dani yang sudah selesai makan malam kembali duduk di teras samping.


"Kau sudah bertanya pada tangan kanan Tuan Victor itu?" tanya Dani.


Deka mengangguk sambil mengisap rokoknya.


"Apa katanya?"


"Dia tidak mau bilang," jawab Deka bohong, dia tak mau memperkeruh suasana dengan mengatakan yang sebenarnya.


"Tuan Victor melarangnya," dalih Deka, dia menebak jika Victor lah yang melarang Bima untuk buka mulut, tapi Bima sengaja memfitnah Rakis untuk membuat masalah dengannya.


"Mungkin mereka takut kau menghajar orang itu jika tahu siapa dia," tebak Dani.


Deka tak membalas tebakan Dani itu, dia hanya mengembuskan asap putih dari mulutnya sambil terus berusaha menahan kesal karena teringat kata-kata Bima tadi.


"Sudahlah, lupakan saja masalah ini! Daripada kau pusing sendiri mencari tahu nya," cetus Dani.


"Aku akan tetap mencari tahu pelan-pelan," bantah Deka, dia tetap bersikeras.


"Kau ini keras kepala sekali!" gerutu Dani.


Praaang!


Tiba-tiba terdengar suara benda pecah dari arah dapur, membuat Deka dan Dani terkejut.


"Suara apa itu?" tanya Dani.


"Sepertinya dari dapur!" seru Deka, dia sontak membuang rokoknya lalu bangkit dan berlari ke dapur, disusul oleh Dani.


Sesampainya di dapur, Dani dan Deka yang cemas langsung mendekati Starla yang berjongkok sembari memungut pecahan piring yang berserakan di lantai.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Deka.


"Aku tidak sengaja menjatuhkan piringnya, Bang. Aku minta maaf," ucap Starla.


Deka yang berdiri di depan Starla tak sengaja melihat tangan wanita itu yang berdarah dan dia seketika panik.


Deka langsung berjongkok dan meraih tangan Starla, "Tanganmu berdarah!"


"Iya, tidak sengaja terkena pecahan piring, Bang. Tapi tidak apa-apa, kok!"


"Ya ampun, kalau begitu segera obati, nanti infeksi," sela Dani yang juga ikut cemas.


"Dan, tolong ambilkan kotak obat di laci itu!" pinta Deka.


"Tidak apa-apa, Bang," Starla berusaha menenangkan Deka, tapi lelaki itu tak peduli.


Dani langsung berlari mengambil kotak obat yang memang dia tahu di mana letaknya, lalu buru-buru kembali menghampiri Deka dan Starla.


"Ini kotak obatnya," ujar Dani.


"Yuk, biar aku obati luka di tanganmu." Deka mengajak Starla berdiri lalu berpindah ke meja makan.


Deka dan Starla duduk berhadapan, dengan teliti Deka mengobati jari tangan Starla yang terluka dan berdarah.


Starla meringis sakit saat Deka mengoleskan obat pada lukanya.


Deka langsung meniup jari tangan Starla yang terluka itu untuk mengurangi rasa perihnya.


Dani yang berdiri tak jauh dari mereka, melihat sikap Deka itu dengan sedikit bingung, tumben sekali sang sahabat peduli dan perhatian pada orang lain seperti ini.


"Sudah," ucap Deka saat selesai merekatkan plester di jari Starla yang terluka.


"Terima kasih, Bang."


"Hem. Lain kali lebih hati-hati," balas Deka.


"Iya, Bang. Kalau begitu aku bereskan pecahan piringnya dulu." Starla hendak beranjak, namun Deka menahannya.


"Tidak usah! Biar aku saja yang bereskan." tukas Deka.


"Tapi, Bang ...." Starla keberatan.


"Sudah-sudah! Biar aku saja yang bereskan!" sela Dani menengahi, dia lalu memungut pecahan piring itu dan membuangnya ke tempat sampah, kemudian menyapu sisa-sisa beling nya.


"Terima kasih, ya, Bang Dani. Maaf sudah menyusahkan," ucap Starla sungkan.


Dani menatap Starla dan tersenyum manis, "Tidak apa-apa, demi bidadari cantik, aku rela melakukan apa pun."


Starla tersipu-sipu malu, sedangkan Deka hanya menghela napas lalu melenggang pergi begitu saja.

__ADS_1


***


__ADS_2